KSATRIA | Jakarta–Lahirnya satuan pengamanan (satpam) tak lepas dari sosok pendiri almarhum Prof Dr Awaloedin Djamin MPA, yang saat itu menjabat sebagai Kapolri tahun periode 1978–1982. Gagasan itu muncul ketika ia merasa ada keterbatasan jumlah polisi dalam menjaga keamanan.

“Awaloedin Djamin berpikiran bahwa polisi yang jumlahnya terbatas tidak mungkin menjaga daerah pertokoan dan perkantoran. Maka ia mengusulkan adanya Satpam (satuan pengamanan) yang dibiayai oleh kantor tertentu namun latihan dasarnya diberikan oleh pihak kepolisian,” tulis sejarawan Asvi Warman Adam dalam Menguak Misteri Sejarah dikutip historia.id.

Dalam memoarnya, Pengalaman Seorang Perwira Polri, Awaloedin Djamin menjelaskan, untuk menggalang partisipasi masyarakat, Polri dengan dukungan Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) mencanangkan sistem Kamtibmas Swakarsa termasuk keamanan lingkungan (Siskamling).

“Pola ini saya susun dengan jelas, untuk daerah pedesaan dan daerah perkotaan, untuk kawasan permukiman dan lingkungan usaha serta perkantoran,” kata Awaloedin dalam tulisannya.

Setelah penelitian dan studi perbandingan, Awaloedin mengeluarkan Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: SKEP/126/XII/1980 tanggal 30 Desember 1980 tentang Pola Pembinaan Satpam. Akhirnya pada 30 Desember dijadikan sebagai Hari Ulang Tahun Satpam hingga saat ini.

“Saya bentuk Satpam (satuan pengamanan), terjemahan dari security guards,” kata Awaloedin. “[Namun] Lahirnya Satpam ini tidak begitu mulus. Sebelumnya, sudah ada beberapa perusahaan swasta yang bergerak di bidang pengamanan, yang umumnya dipimpin oleh purnawirawan Pati [perwira tinggi] ABRI.”

Awaloedin menetapkan Satpam merupakan tanggung jawab perusahaan atau instansi yang bersangkutan, serta didaftar, dilatih, dan dibina oleh Polri. Bagi Awaloedin, pembentukan Satpam juga untuk menghindari pengalaman yang terjadi di negara lain.

“Di Jepang misalnya, terdapat Yakuza yang memaksakan perlindungan bagi pengusaha-pengusaha. Demikian pula permulaan mafia di Amerika Serikat,” kata Awaloedin.

Pada tahap persiapan, dalam suatu acara di Mabak (Markas Besar Angkatan Kepolisian), Kepala Perbekalan Umum Brigjen Polisi Drs. Basiroen Nugroho, memperagakan berbagai contoh seragam Satpam.

Hingga pada akhirnya, Awaloedin memutuskan seragam Satpam berwarna biru-biru untuk lapangan dan biru-putih untuk lingkungan gedung perusahaan. Pada lengan harus ditempeli nama perusahaan dan wilayah Polri tempatnya bertugas.

Segera setelah Surat Keputusan Kapolri keluar jumlah anggota Satpam meningkat menjadi 30.000 di seluruh Indonesia. Di masa usia senjanya, Awaloedin bersama para praktisi pengamanan seperti Azis Said mendirikan wadah profesi Satpam, Asosiasi Manajer Sekuriti Indonesia (AMSI) pada 1 Juli 2001 di Jakarta. Dalam perkembangannya, AMSI berubah menjadi Asosiasi Profesi Satpam Indonesia (APSI) yang dideklarasikan pada 2 November 2018 jam 09.00 WITA di Denpasar Bali.

Lalu pada hari ulang tahun Satpam yang ke-13 tanggal 30 Desember 1993, dalam suatu acara di Mabak, Kapolri Letjen Polisi Drs. Banurusman mengukuhkan Awaloedin Djamin sebagai Bapak Satpam Indonesia.

Bapak Satpam Indonesia itu dalam usia senja tetap produktif menulis beberapa buku tentang kesatpaman, kepolisian dan BPJS. Awaloedin Djamin akhirnya wafat pada 31 Januari 2019. Selamat Jalan Bapak Satpam Indonesia. [Adm]