KSATRIA | Jakarta — Salah satu perusahaan penyedia ekosistem smart city di Indonesia, Qlue siap mendukung layanan sistem keamanan masyarakat yang lebih cermat, terukur, dan efisien.

Pendiri sekaligus CEO Qlue, Rama Raditya mengatakan, pemanfaatan teknologi dalam aspek keamanan ini dilakukan dalam bentuk optimalisasi IP-Camera. Dengan teknologi yang dihadirkan oleh Qlue, kamera pengawas yang ada tidak hanya sekadar merekam gambar tapi juga menjadi unsur pencegahan dan analisis serta memberikan laporan secara real-time untuk seluruh aspek yang terkait dengan keamanan.

Saat ini, kata Rahmat, tercatat ada sekitar 1 miliar CCTV beredar di dunia, namun 99% belum dilengkapi sistem Artificial Intelligent (AI), sehingga fungsinya saat ini hanya untuk merekam.

Dengan implementasi solusi Qlue, lanjutnya, kini IP-CCTV jenis apapun, dengan merek apapun, milik publik maupun privat bisa dipercanggih sehingga fungsinya lebih ke preventif.

“Setelah itu hasil analisisnya bisa langsung ditindaklanjuti dan dimanfaatkan untuk pembelajaran ke depannya,” kata Rama melalui siaran pers, Rabu, (28/4).

Sementara Ketua Umum Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (ABUJAPI) Agoes Darmawan mengatakan, perkembangan teknologi di sektor jasa pengamanan bisa dimanfaatkan untuk menciptakan pola kerja yang lebih efektif dan efisien.

“Hal itu sejalan dengan perkembangan teknologi sehingga industri jasa keamanan juga harus beradaptasi,” ungkapnya.

Saat ini, kata Agoes, potensi perilaku kejahatan juga sudah berubah dan butuh banyak penyesuaian. Situasi itu membuat para pelaku industri jasa pengamanan harus beradaptasi dan ikut merambah pada aspek teknologi.

“Apalagi saat ini perkembangan teknologi sudah dimanfaatkan untuk mendukung kinerja petugas kamtibmas di lapangan,” jelasnya

Lebih lanjut Agoes mengatakan, sekarang ini memang sangat diperlukan kolaborasi antara manusia dengan teknologi, sehingga setiap klien tidak hanya ditawarkan tenaga keamanan dan ketertiban saja, melainkan teknologinya juga.

“Satu hal yang penting untuk kami sampaikan bahwa perpaduan manusia dengan teknologi ini jangan hanya dipandang sebagai cost melainkan investasi,” ujar Agoes.

Senada Ketua Asosiasi Teknologi dan Industri Sekuriti Indonesia (ATISI) Sanny Suharli menuturkan, penggunaan teknologi sudah menjadi kebutuhan dari para pelaku industri jasa pengamanan. Pasalnya, saat ini banyak pengguna jasa usaha pengamanan yang harus melakukan efisiensi lantaran dampak dari situasi pandemi Covid-19.

Hal itu, kata Sanny, berbanding terbalik dengan kebutuhan keamanan yang tetap menuntut standar tinggi, sehingga solusi yang dihadirkan oleh Qlue akan mendorong industri jasa pengamanan menjadi lebih efisien dan akurat di Indonesia.

Sanny sendiri merasa senang dengan hadirnya perusahaan seperti Qlue yang mampu menghadirkan inovasi di sektor jasa pengamanan, karena perubahan jumlah tenaga kerja mau tidak mau memang harus dilengkapi oleh teknologi agar standar keamanan bisa dipertahankan.

“Jadi kalau dulu aksi preventif hanya sekitar 10%, kini berkat teknologi kecerdasan buatan aspek preventif bisa mencapai 60%,” ungkap Sanny.[Adm]