Bravo Satria Perkasa
20 Aug 2019

Ksatria dari Makassar Peraih Best Excellence 2018

KSATRIA| Jakarta–Nada biacaranya jelas, tegas dan mudah dipahami, saat tim media BSP menghubungi pria yang baru saja meraih penghargaan sebagai sekuriti terbaik 2018. Ya, anggota sekuriti BSP wilayah Makassar, ini baru saja menyabet gelar prestasi sebagai sekuriti terbaik tahun 2018 dalam ajang penghargaan BRI Excellence  Award Tahun 2018 kategori Satpam.

“Iya Pak, maaf saya lagi di Malaysia mengikuti public course sama teman-teman pemenang BRI Excellence Awards 2018,” paparnya melalui sambungan teleponnya belum lama ini.

Saat itu Ahmad tengah berada di negeri Jiran Malaysia. Ia baru saja mendapatkan kesempatan mengikuti public course dan branchmark ke beberapa instansi perbankan di Malaysia bersama pemenang BRI Excellence Award 2018. Kegiatan bertajuk BRI Excellence Award kategori Employee Non Marketing dan Best Culture, tersebut berlangsung pada tanggal 5 – 9 Agustus 2019. Ahmad belajar tentang komunikasi skill, branchmarking, dan tak ketinggalan agenda city tour ke beberapa kota favorit di Malaysia.

PT Bravo Satria Perkasa (BSP) tak pernah kehabisan para ksatria penjaga dengan berbagai talentanya di bidang pengamanan. Disela-sela makan malam di restoran favorit Malaysia, Ahmad menjelaskan sejak hari pertama ia melakukan kunjungan ke salah satu perusahaan bidang financial yang cukup maju. Dilanjutkan ke Maybank, untuk branchmar lalu ke kota Penang dan Kuala Lumpur.

Pria kelahiran Makassar, 5 September 1985 ini belajar tentang financial teknologi yang menjadi tambahana wawasan keilmuan bertugas sebagai sekuriti di perbankan, selain komunikasi skill. Acara ini diikuti 13 orang yang semuanya adalah pemenang lomba dalam beberapa kategori dari beberapa wilayah di Indonesia.

Seperti diketahui, tahun 2018 Ahmad mengikuti kompetisi sekuriti terbaik dari beberapa  anggota sekuriti yang bertugas di BRI. Dimulai dari tingkat Kantor Wilayah (Kanwil) mereka yang lolos akan masuk tingkat nasional. Kriteria peserta lomba pun cukup ketat. Diantaranya, pernah terpilih sebagai the best frontline dalam dua tahun terakhir, menjadi peserta smart competition minimal tingkat Kanwil, tidak sedang terindikasi kasus dan memiliki masa kerja minimal 2 tahun. Semua kriteria itu ada pada sososk Ahmad yang memang sering dipercaya untuk  mewakili cabang dalam beberapa kompetisi.

Dalam ajang Best Excellence BRI 2018, lanjutnya, masing-masing peserta sekuriti diuji penguasaan tentang produk knowledge dan komunikasi skill. Konsep perlombaannya, menurut Ahmad dilakukan dengan format cerdas cermat yang diikuti 19 kanwil seluruh Indonesia.

“Anggota akan diuji kecepatan menjawab pertanyaan dari panitia lomba. Sangat seru sekali dan lomba finalnya di JCC (Jakarta Conventional Center),” paparnya.

Untuk itu sejak jauh-jauh hari, Ahmad mempersiapkan khusus tentang produk knowledge dan komunikasi skill. Kompetisi paling menantang, lanjutnya, semua peserta akan dnilai kinerjanya sehari-hari. Nantinya peserta kompetisi ini akan dipantau oleh tim pemantau khusus selama beberapa waktu, yang tidak diketahui keberadaan penilainya dan kapan peninjauannya. Sehingga semua peserta benar-benar harus selalu siap bertugas setiap harinya dengan kedisiplinan dan memaksimalkan skill.

Suami dari Madina, ini mengaku bangga bisa bekerja dengan baik, sampai bisa mengalahkan peserta dari beberapa wilayah termasuk dari Jakarta. Baginya, pengalaman ini setidaknya menjadi pelajaran  berharga bahwa, anggota sekuriti harus selalu bekerja sebaik-baiknya dimana saja dan kapan saja.

Kuncinya, lanjut ahmad, mencintai dan menyukai pekerjaan yang diterima, kalau bisa nasabah selalu mendapatkan pelayanan maksimal agar merasa terlayani dan mencari-cari pelayanan seperti yang mereka inginkan.

Disamping itu juga harus terus mengupdate ilmu pengetahuan, skill komunikasi dan kesopanan. Menurutnya, sertiap orang memiliki cara bemaca-macam, tapi yang penting bangga dan senang dengan pekerjaan yang diterimanya.

Salah satu yang membanggakannya, selain bisa melayani nasabah yang berdampak pada kemajuan pelayanan, juga bisa meraih prestasi dari BRI Excellence. Apalagi melayani dan berkomukasi dengan nasabah merupakan hobinya.

Ahmad tak menampik sebagai anggota sekuriti dirinya dituntut juga memberikan rasa aman kepada siapa saja yang berada di wilayahnya. Terkadang ancaman itu bisa muncul dari luar, yang jelas, menurutnya, sebelum mengemban tugas kerja harus memiliki persiapan matang baik skill individu, usaha persuasive dan preentif agar semuanya terciptakan situasi aman dan nyaman.

Apalagi menurutnya, BRI Makassar termasuk kantor pelayanan yang sibuk. Sehingga seorang sekuriti tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan tapi juga memberikan pelayanan yang menyenangkan.  Menurutnya, anggota sekuriti yang ditugaskan di perbankan harus mengedepankan kesabaran sebab setiap nasabah memiliki karakter berbeda-beda. Dengan kesabaran, tambahnya, anggota sekuriti akan bisa lebih maksimal menjalankan tugasnya sekaligus mengurangi risiko kekecewaan pelanggan.

“Semua pekerjaan ada resikonya, kalau kita sudah punya persiapan Insya Allah semua tantangan bisa dilewati,” paparnya.

Ayah dari Muh Dzakir Rizkullah dan Muh Fahmi Dzikrullah ini dulunya tak terfikir menjadi sekuriti. Sejak lulus SMA, cita-citanya ingin menjadi polisi. Tahun 2005, Ahmad mengikuti seleksi polri tapi tidak lolos. Karena harus menunggu 1 tahun yang terlalu lama, lanjutnya, Ahmad memilih bekerja di perusahaan sekuriti di PT Cindi yang bertugas di Bank NISP.

Profesi ini ia tekuni sampai pada tahun 2010 menjadi anggota sekuriti PT Bravo Satria Perkasa (BSP). Berbekal sertifikat gada pratama yang dimilikinya, Ahmad menjalani tugas sebaik-baiknya.

Tentu ia merasakan adanya perbedaan di perusahaan sekuriti tersebut. Diantaranya, Ahmad mengakui bahwa kerja di BSP yang berkantor pusat di Jakarta Timur tersebut, ada hubungan keakraban antara anggota dan pimpinan sekuriti. Dengan atasan seperti keluarga sendiri, namun tetap menjaga profesionalitas.

Selain itu, lanjutnya, di BSP selalu terbuka kesempatan bagi anggota sekuriti meningkatkan talentanya dengan mengikuti lomba-lomba yang diadakan instansi dan mitra kerjasama. Tak heran jika Ahmad sudah mengikuti perlombaan sampai meraih 6 penghargaan diantaranya  berhasil meraih Best Excellence tahun 2018.

Tentu dengan prestasi yang diraihnya tidak membuat dirinya jumawa. Pria yang hobi berolahraga main bola dan tenis meja, ini hanya berusaha menjalani tugas terbaik dari BSP dan ingin menjadi kebanggaan keluarganya.

Baginya, sekuriti adalah pekerjaan mulia. Dari tugas yang diembannya, selalu berkaitan dengan pelayanan, keamanan dan kenyamanan, ketika bisa melayani orang lain dengan baik, dan bisa menjaga kemananannya, disitulah wujud kemanfaatannya.

“Profesi sekuriti juga tak kalah dengan profesi lainnya, meraih juara dan bisa jalan-jalan ke luar negeri serta hadiah uang tunainya,”akunya bangga.

Ia berpesan kepada anggota lainnya, cintailah pekerjaaan itu, jalani dengan suka cita, dan berprestasi dimana saja dan kapan saja selama kesempatan itu ada kesempatan. Disamping itu, sekuriti juga harus terus belajar agar bisa meningkatkan diri ke jenjang lebih baik dan memaksimalkan diri berperan sebagai ksatria penjaga untuk semua orang yang membutuhkannya.

“Semoga kedepannya bisa lebih baik, BSP bisa terus maju dan kompak, menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.[muh]

30 Jan 2019

Agustinus Pattipeilohi, Si Petinju yang Jadi Satpam

KSATRIA| Papua–Pria asal Manado ini tidak pernah menyangka hidupnya berubah drastis dari petinju muda menjadi satpam. Meskipun berbeda bidang, tapi skill yang dimilikinya menjadi modal besar tugasnya dan mengharumkan nama perusahaan. 

Dari sekian banyak anggota satpam Bravo Satria Perkasa (BSP) se- Indonesia, Agustinus Pattipeiloho memiliki skil yang berbeda dari anggota sekuriti lainnya. Anggota satpam yang bertuga di PT Mitra Makmur Permai ini, selain dikenal sebagai anggota satpam BSP juga seorang petinju yang pernah mengharumkan daerah kelahirannya sekaligus perusahaan yang menaunginya.

Agustinus lahir di Manado pada tahun 1992. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Ambon, Agus memiliki hobi bertinju. Setiap sore sepulang sekolah ia bergabung dengan teman-teman sehobi untuk belajar sebagai petinju professional.

Agus berharap bisa membangun karirnya sebagai petinju profesional. Bukan tak mungkin, Indonesia termasuk negara yang produktif memunculkan para petinju professional dan mendunia. Sebut saja Ellyas Pical petinju asal Saparua Maluku, Nico Thomas  asal Ambon, Suwito Lagola asal Sumatra, M Rahman asal Merauke, Crish Jhon asal Banjarnegara, Daud Jordan dan beberapa petinju lainnya.

Sebagai generasi petinju, pria lajang ini sudah beberapa kali mengikuti kejuaraan tinju dari tingkat kota hingga provinsi. Saat masih duduk di bangku SMP dan SMA, Agus pernah meraih juara tinju pelajar dari tingkat kota hingga tingkat provinsi. Terakhir ia juga mengikuti seleksi tinju untuk persiapan peserta Pekan Olarhaga Nasional (PON) yang akan berlangsung tahun 2020 mendatang. Pada seleksi peserta nasional tersebut, Agus harus puas menduduki peringkat ketiga.

Agus memang terlahir dari seorang petinju dari Ambon bernama Hilmy. Meskipun belum pernah menjadi juara tinju nasional tapi ilmu teknik tinju yang dimiliki ayahnya sangat menunjang kemampuan tinju yang dimiliki Agus. Dalam dunia tinju Agus tidak hanya mendapatkan kebugaran tubuh yang sehat tapi juga kedisiplinan, ketekunan, keberanian dan semangat pantang menyerah.

Bagaimana Agus menjadi bagian para ksatria di BSP? Berawal dari niat membantu keluarga dan keinginan memiliki kegiatan di luar hobi yang bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Tahun 2017 Agus mendaftar sebagai anggota satpam BSP yang pada saat itu membuka lowongan calon anggota satpam untuk sebuah perusahaan.

Sebagai calon anggota satpam, Agus mengikuti pendidikan dan pelatihan kesatpaman, lalu bertugas di PT Mitra Makmur Permai per tanggal 1 Juni 2017. Perusahaan ini bergerak di bidang penjualan alat-alat bangunan di Jl Kotaraja Timika Papua.

Sebagai anggota satpam Agus mengemban tugas menjaga keamanan, melayani customer dan memberikan informasi tentang barang-barang yang dijual di dalam toko seperti keramik, closet, lampu, kabel, dan barang yang dibutuhkan customer. Perpaduan keramahan, kedisiplinan, keamanan dan kenyamanan yang diberikan seorang satpam menyempurnakan roda bisnis perusahaan sehingga berdampak pada tingginya kepercayaan masyarakat.

“Kita bekerja dengan keramahan, kedisiplinan dan menciptakan keamanan kepada customer sehingga mereka senang belanja disini,” ujar Agus saat dihubungi tim media BSP.

Pernah suatu ketika Agus menghadapi gangguan keamanan. Saat bertugas sift malam, ada sekelompok orang mabuk hendak membuat onar di perusahaannya. Saat itu hujan sekitar pukul 00.30 WIT terdengar alaman pengamanan tiba-tiba bunyi. Dengan cekatan Agus langung mengecek sumber suara tersebut. Rupanya empat orang pemuda yang tengah mabuk hendak membobol pagar pintu masuk perusahaan.

Dengan spontan Agus langsung menegur pelaku berjumlah empat orang yang langsung kabur sempoyongan. Beruntung pelaku belum sempat bertindak jauh mengambil barang-barang di toko karena sudah lebih dulu dihadang Agus yang malam itu masih siaga meskipun bertugas sendirian.

“Pelaku hanya merusak pagar luar saja dicongkel tapi langsung kami amankan. Orangnya kabur,” terangnya.

Paginya, Agus mendapat laporan dari kawannya bertugas bahwa tadi malam telah terjadi pencurian di beberapa tempat. Beruntung aksi pencurian yang hendak dilakukan di perusahaannya berhasil digagalkan sehingga asset-aset milik perusahaan tetap aman. Kejadian ini langsung dilaporkan kepada pimpinan perusahaan supaya meningkatkan koordinasi pengamanan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Pimpinan berpesan supaya kita terus aktif menjaga keamaman agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” paparnya.

Disni Agus merasa bangga menjadi seorang satpam karena dalam bekerja bisa memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi lingkungan sekitar. Setidaknya ia lebih memiliki keberanian menghadapi tantangan pekerjaan dengan teknik-teknik tinjunya ia bisa menggertak para pelaku kejahatan yang berniat melakukan tindakan yang merugikan.

Kepada BSP ia mengucap syukur meskipun sudah menjadi anggota satpam namun masih didukung untuk terus melanjutkan hobi tinjunya. Hal ini dibuktikan pada bulan Oktober 2018 lalu, Agus mendapat izin penuh dari pimpinan BSP untuk mengikuti seleksi calon peserta PON yang akan menjadi perwakilan atlit tinju pada PON tahun 2020.

Berkat support dukungan dari BSP dan rekan-rekannya tersebut, Agus berhasil mencapai juara 3 seleksi peserta Pon 2020 mewakili nama perusaan dan BSP yang menaunginya. Sebelumnya ia juga pernah mewakili perusahaan dalam ajang kejuaraan tinju di Timika, Papua.

Pria yang memiliki tinggi badan 167 cm dan berat badan 52 kg, ini berharap dengan kemampuan yang dimilikinya bisa memberikan nilai positif pada perusahaan. Ia mengakui, dunia satpam memiliki beberapa tantangan sehingga seorang satpam harus memiliki skil tertentu untuk menunjang tugas di lapangan.

Harapan lainnya, kemampuan tinju yang dimilikinya bisa terus ditingkatkan dan memberikan kontribusi positif bagi perusahaan, baik sebagai bekal dirinya dalam bertugas, maupun  menjadi jalan bagi Agus untuk memberikan kontribusi positif lainnya dalam bentuk ajang kompetisi tinju yang merupakan salah satu cabang olahraga unggulan di Indonesia.

“Kalau ada pertandingan saya siap mengikutinya, supaya bisa memberikan kontribusi dalam bidang lainnya juga,” tandasnya.

Tentunya Agus tak melupakan tugas utamanya sebagai seorang satpam yaitu menyelenggarakan keamanan dan ketertiban dilingkungan kawasan kerja khususnya pengamanan phisik ( Physical Security ). Disamping itu seorang satpam juga mengupayakan segala usaha atau tindakan guna melindungi dan mengamankan dari segala gangguan/ancaman baik yang berasal dari luar atau dari dalam perusahaan.

Dalam melaksanakan  tugasnya, lanjut Agus, satpam mempunyai peranan sebagai unsur pembantu pimpinan dalam hal pengamanan dan penertiban dilingkungan/area kerjanya, dan unsure pembantu Polri dalam hal pembinaan keamanan dan penegakan hukum di lingkungan/area kerjanya.

Oleh karenanya ia selalu siap memberikan rasa aman, nyaman, menciptakan situasi kondusif di lingkungan pengamanan dengan pendekatan persuasive.

“Sebagai anggota satpam, dimana saja dan kapan saja selalu siap menjalankan tugas sesuai tupoksi BSP,” pungkasnya. [Ajr]

 

 

 

 

 

 

 

 

17 Sep 2018

Purwanto, Ksatria dari Yogjakarta Raih Best Satpam 2018

KSATRIA| Yogyakarta–PT Bravo Ksatria Perkasa (BSP) tak pernah kehabisan para ksatria penjaga dengan berbagai talentanya di bidang pengamanan. Satu dari puluhan ribu anggota sekuriti BSP tersebut adalah Purwanto anggota sekuriti yang bertugas di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Cabang Katamso Yogjakarta.

Sepintas memang tak ada yang kelihatan menonjol dari pria kelahiran Yogjakarta ini. Namun atas dedikasi dan kecakapannya mengemban tugas sebagai anggota sekuriti, Purwanto meraih penghargaan sebagai Best Satpam TW I Tahun 2018 dari pimpinan Wilayah BRI Kantor Wilayah Yogjakarta.

“Saya senang mendapat penghargaan yang memang tidak disangka-sangka ini,” ujar Purwanto kepada tim media BSP belum lama ini.

Purwanto sosok anggota sekuriti yang disiplin, jujur, ramah dan sederhana. Dari beberapa anggota sekuriti yang bertugas di lokasi yang sama, pria berpawakan tegap ini justru yang meraih prestasi dan penghargaan. Penghargaan ini semakin mengkrucutkan dirinya sebagai ksatria penjaga yang layak diperhitungkan.

Kepada media ini Purwanto menceritakan pengalamannya bekerja sebagai anggota sekuriti yang sudah ia jalani lebih dari 5 tahun. Awalnya, Purwanto dikenalkan oleh tetangganya untuk bekerja sebagai sekuriti. Saat itu tahun 2011 ia ditempatkan di Teras BRI daerah Bringharjo Yogjakarta.

Padahal saat itu dunia pengamanan asing baginya. Purwanto belum pernah bekerja sebagai sekuriti, sebelumnya ia malah bekerja serabutan membantu orangtua. Namun berkat kesabaSetidaknya ia butuh penyesuaian lingkungan kerja, perlu bekal ketran mengikuti berbagai tes dan pembinaan, wawasannya semakin bertambah serta kemampuannya dalam dunia pengamanan terus meningkat.

BSP sendiri tak sembarangan memilih anggota sekuriti baru. Pertama, calon anggota sekuriti minimal memiliki ijazah SMA sederajat. Selain itu juga memiliki ketahanan tubuh yang sehat serta memiliki jiwa kedisiplinan dan kejujuran sekaligus bakat keterampilan pelayanan.

Syarat itu ada pada Purwanto yang sudah bertekad bulat menjadi bagian dari BSP. Pada 09 November 2011, Purwanto resmi menggunakan seragam putih biru setelah diangkat sebagai anggota sekuriti BSP. Tugas pertamanya saat itu selain melakukan pengamanan juga membantu pelayanan para nasabah bank.

“Sehingga disini yang diperlukan selain jiwa pengamanan juga harus memiliki kecakapan dalam pelayanan nasabah bank,” tuturnya.

Pria kelahiran Jogjakarta, 4 September 1980 ini setiap hari menjalankan tugasnya dengan kedisiplinan dan loyalitas yang tinggi. Sehingga selama bekerja melakukan pengamanan di wilayah kantor kerja Bank BRI Teras Bringharjo tak ada satu tindak criminal terjadi.

Prestasi ini semakin meningkatkan kapasitasnya sebagai anggota sekiriti yang memiliki kedisiplinan dan loyalitas yang tinggi. Sehingga pada tahun berikutnya, BSP menugaskan Purwanto di beberapa lokasi antara lain di Unit Ponco dan di Unit BRI Cabang Yogjakarta. Tugas yang diberikan pun sama, yaitu menjalankan fungsi pengamanan dan melayani nasabah sehingga para nasabah bank tidak hanya mendapatkan jaminan keamanan tapi juga pelayanan yang menyenangkan.

Kunci utama dalam pelayanan, menurut Purwanto adalah kesabaran. Menurutnya, anggota sekuriti yang ditugaskan di perbankan harus mengedepankan kesabaran sebab setiap nasabah memiliki karakter berbeda-beda. Dengan kesabaran, tambahnya, anggota sekuriti akan bisa lebih maksimal menjalankan tugasnya sekaligus mengurangi risiko kekecewaan pelanggan.

“Dengan kesabaran semua pelayanan bisa terkendali dan tugas berjalan lancar,” terangnya.

Hasilnya, sejak tahun 2011 sampai saat ini Purwanto mengaku tidak pernah sekali pun terjadi tantangan pengamanan yang berat. Artinya, dengan pendekatan persuasive, pelayanan yang maksimal dan pengkondisian situasi aman bisa terjaga sampai saat ini.

Purwanto tak menampik bahwa anggota sekuriti memiliki beban dan tanggung jawab yang berat. Tapi komitmen untuk menciptakan suasana aman dan nyaman di lokasi bekerja harus menjadi prioritas utamanya. Kuncinya, ujar pria yang baru saja menikah ini, selalu melihat situasi dan kondisi di sekitar lingkungan kerja dan menciptakannya lebih aman dan nyaman untuk semua orang.

“Alhamdulillah selama ini tidak pernah terjadi  tindak kriminal. Semua aman terkendali,” terangnya.

Apalagi sejak bergabung menjadi anggota sekuriti BSP, lanjutnya, selalu ada upgrade pendidikan dan pembinaan seperti pelatihan Gada Pratama, Gada Madya dan Gada Utama. Dari pelatihan dan pembinaan tersebut anggota sekuriti akan memperoleh wawasan terbaru untuk mendukung tugas sebagai anggota sekiriti.

Bulan lalu Purwanto mendapat penghargaan dari pimpinan Wilayah BRI Kantor Wilayah Yogjakarta. Penghargaan ini menjadi kejutan baginya karena Purwanto tak menyangka jika dirinya yang terpilih menerima penghargaan tersebut. Padahal menurutnya, di unit Bank BRI Kantor Wilayah Jogjakarta ada 54 anggota sekuriti. Ucapan selamat pun datang dari kawan sesame anggota sekuriti dan jajaran pimpinan dan karyawan BRI Kantor Wilayah Yogjakarta.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi pihak bank atas dedikasinya menjalankan tugas dan fungsinya anggota sekuriti yang baik. Bagi dirinya, penghargaan ini selayaknya untuk tim sekuriti yang bertugas bersama-sama menciptakan situasi dan kondisi aman sekaligus menghadirkan kenyamanan di tempat bekerja.

Semestinya, lanjut Purwanto, siapapun bisa meraih penghargana tersebut selama menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Dengan penghargaan ini, lanjutnya, anggota sekuriti lainnya bisa termotivasi untuk terus menjaga dan menciptakan situasi aman dan  nyaman di tempat masing-masing. Selama dijalankan dengan sabar, jujur dan disiplin, apa yang menjadi cita-cita bersama yaitu meningkatkam pelayanan yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kepusan pelanggan akan tercapai.

“Kuncinya sabar, jujur dan waktu berjaga agar selalu dalam kondisi aman. Jangan sampai membawa urusan pribadi masuk dalam suasana kerja,” paparnya.

Sejak menikah beberapa bulan lalu Purwanto memiliki kesibukan bertambah yang tentunya berdampak pada managemen waktu supaya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. Suami Sri Ruwanti yang tinggal di Desa Ngempolan Kulon Keluranan Trirenggo Kecamatan Bantul Yogjakarta, ini setiap malam, ikut membantu isti menyiapkan kue untuk dipasarkan di toko pagi harinya.[ajir]

 

 

 

 

 

 

18 Dec 2017

Muhammad Akbar, Peraih The Best Service Quality Bank Danamon

Pengalaman di dunia sekuriti membuat dirinya semakin yakin bahwa sekuriti memiliki kontribusi yang besar di masyarakat. Disamping tugasnya mengamankan asset perusahaan, sekuriti juga berperan dalam menciptakan keamanan di masyarakat sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan.

Rasanya belum lama ini Muhamamd Akbar mengemban tugas sebagai anggota sekuriti dibawah naungan perusahaan PT Bravo Satria Perkasa (BSP). Pasalnya, sejak bergabung dua tahun silam, banyak pengalaman, kemampuan bahkan prestasi yang ia dapatkan. Pada tahun 2016, dua bulan bergabung di perusahaan pengamanan yang berkantor pusat di Jakarta ini, Akbar langsung meraih penghargaan.

Saat itu ada kontes untuk anggota sekuriti dalam hal tugas dan service kepada nasabah. Masing-masing sekuriti dipantau melalui kamera CCTV oleh GM Bank Danamon, karyawan dan nasabah. Hasilnya, Akbar terpilih sebagai pemenang karena kecakapan dalam bertugas serta pelayanan yang memuaskan.

“Sebagai apresiasi atas dedikasi saya, General Manager Bank Danamon memberikan hadiah uang tunai dan piagam,” ujar anggota sekuriti BSP di Bank Danamon Cabang Panampu, Sulawesi Selatan ini.

Di Bank Danamon sendiri sering ada pemantauan tim SKY dari pusat, untuk memantau pelayanan kantor cabang kepada nasabah. Saat itu, tanpa diketahui anggota cabang, tim audit dan tim service quality kontrol Bank Danamon, meneliti dan menanyakan produk-produk, serta pelayanan kepada nasabahnya.

Hasilnya, nasabah dan karyawan Bank Danamon menyatakan puas dengan pelayanan anggota sekuriti yang bertugas di Bank Danamon, terutama atas nama Muhammad Akbar. Pada saat jaga pagi, lanjut Akbar, diumumkan oleh GM Bank Danamon bahwa dirinya mendapatkan Golden Tiket dan piagam penghargaan atas prestasinya dalam bidang pelayanan.

“Kalau piagam itu sering kita dapatkan, akan ada give-give langsung dari pusat, “ ujar pria yang sudah mengoleksi dua piagam penghargaan ini.

Piagam pertama ia peroleh dua bulan ketika baru bergabung di Bank Danamon dan terakhir pada bulan Oktober 2017 dalam kategori “The Best Service Quality Bank Danamon 2017.”

Adanya penghargaan ini tidak hanya memacu dirinya semakin giat bekerja, tapi juga bisa memotivasi anggota sekuriti lainnya untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah. Akbar meyakini bahwa tidak ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan selama mau bersungguh belajar dan melaksanakannya.

“Jika anggota sekuriti yang lain bisa mengerjakan, saya pasti juga bisa,” tuturnya penuh semangat.

Apalagi selama bergabung sebagai anggota sekuriti di PT Bravo Satria Perkasa (BSP) yang selalu memberikan motivasi, arahan dan bimbingan untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan di bidang yang digelutinya. Prestasi ini juga bisa menjadi pelajaran penting bagi anggota sekuriti lain, bahwa segala sesuatu jika dikerjakan dan dijalani dengan penuh tanggung jawab pasti akan membuahkan hasil yang positif.

“Bagi teman-teman, tidak ada yang tidak mungkin jika dilaksanakn dengan sungguh-sungguh, dan tidak ada yang tidak tercapai jika dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” tutur Akbar.

Jalan Ksatria Penjaga

Dalam dunia sekuriti, lanjutnya, sudah menjadi hal yang wajar banyak tantangan dan resiko, terutama tentang keselamatan jiwa. Hal ini ia rasakan ketika pertama kali bertugas di Bank Danamon Cabang Panampu, Sulawesi Selatan ini. Menurut Akbar, daerah ini terkenal dengan Kampung Sabiria dimana sering terjadi kasus kejahatan, pencurian dan penyalahgunaan narkoba.

“Berkat kerja keras dan tanggung jawab yang tinggi serta koordinasi dengan pihak lain, kami bisa mengendalikan situasi sehingga aman dan kondusif untuk kantor,” paparnya.

Akbar menuturkan, pada bulan pertama dirinya bertugas di Bank Danamon, ia melihat banyak anak remaja yang nongkrong di dekat kantor yang hura-hura dan membuat keributan. Selain meresahkan warga, mereka juga menjadi ancaman keamanan di wilayah tersebut. Sehingga, menurut Akbar, perlu mewaspadainya dan meningkatkan pengamanan, terutama ketika berjaga pada malam hari agar asset perusahaan tetap aman dan tercipta lingkungan yang nyaman di tengah masyarakat.

Pernah suatu ketika, Akbar mengamakan seseorang yang dalam pengaruh alkohol, datang ke kantor sambil membawa parang. Orang ini membuat keributan karena tidak terima dirinya dilarang berjualan ayam di area Bank Danamon oleh salah satu anggota sekuriti.

“Karena tidak terima, ia datang ke kantor Bank Danamon sambil membawa parang berteriak-teriak menantang berkelahi anggota sekuriti,” paparnya.

Akbar  yang berada di lokasi langsung mengamankan pembuat onar tersebut dan memberikan shock terapi sampai pelaku merasa jera. Keesokan harinya, Akbar tidak mendapatkan lagi pedagang ayam berjualan di depan kantor Bank Danamon dan situasi kantor semakin nyaman untuk nasabah.

Teror lainya juga pernah dihadapi Akbar ketika berjaga malam. Saat ia berpatroli malam, tiba-tiba datang serangan anak panah membidik dirinya yang tengah beristirahat di pos pengamaan. Beruntung bidikannya meleset dan hanya mengenai mesin genset disampingnya.

Situasi ini langsung dikoordinasikan dengan anggota sekuriti lainnya, supaya lebih waspada dan lebih meningkatkan keamanan. Dalam situasi yang membahayakan, anggota sekuriti bisa berkoordinasi dengan aparat setempat untuk mendapatkan penanganan keselamatan yang maksimal.

“Alhamdulillah senior sendiri bilang, selama saya bergabung di BSP, situasi seperti ini bisa dikondisikan dan semakin aman,” ujar pria kelahiran Palu, 13 September 1995 ini.

Akbar sendiri mengenal dunia sekuriti pertama kali ketika bergabung di Bravo Satria Perkasa tahun 2015. Saat itu, tugasnya hanya sebagai sekuriti cadangan di Bank Mega, Bank Commonwealth, dan Bank BRI. Sebagai sekuriti cadangan, tentu gajinya tak sebesar anggota sekuriti lainnya. Namun yang perpenting baginya saat itu adalah pengalaman dan pengetahuan di bidang pengamanan. Selama mendapatkan kepercayaan sebagai anggota sekuriti yang ditugaskan di lapangan, maka Akbar membuktikan dirinya bisa mengemban amanah tersebut.

Pertama kali Akbar mendapat tugas pengamanan di Bank Mandiri Syariah Cabang Panampau, Sulawesi Selatan. Akbar yang termasuk tipe orang yang cepat belajar ini berhasil meraih beberapa prestasi dan penghargaan dari BSM. Diantaranya, Akbar pernah dipercaya melayani Raker Bank Mandiri Syariah di kantor pusatnya. Akbar juga dijuluki sebagai sekuriti specialis marketing karena kamampuannya menarik warga untuk menjadi nasabah bank. Bahkan Akbar menjadi sekuriti yang berhasil meraih nasabah paling banyak diantara sekuriti lainnya.

Hal ini mengundang perhatian pihak bank untuk memberikan apresiasi kepada dirinya berupa uang tunai atau penghargaan lainnya. Bagi Akbar, apresiasi ini menjadi motivasinya untuk terus mengembangkan diri dan bekerja lebih giat lagi.

Sebetulnya, jiwa kepemimpinan dan kedisiplinan itu lahir dari ayahnya yang seorang polisi. Namun sejak duduk di kelas 3 SMA, ayahnya bernama Andi Hadrawi sebagai anggota kesatuan Reskrim Polres Maros telah meninggal dunia. Meskipun tidak dalam kesatuan kepolisian, jejak-jejak pengamanan itu tumbuh sebagai seorang sekuriti.

Akbar berharap, kedepannya, Bravo semakin solid dan semakin bisa memberikan keamanan dan kenyamanan di instansi. Bersama Bravo, suami dari Khadijah ini berharap bisa semakin memberikan pelayanan terbaik dan prima untuk semua instansi yang membutuhkan pelayanan.

Akbar merasakan, di BSP system kekeluargaannya yang cukup kuat menjadikan perusahaan jasa pengamanan ini semakin tangguh dan terpercaya. Hal ini yang membedakan BSP dengan BUJP-BUJP lainnya.

“Dengan system pengamana dan pelayanannya, Bravo seharusnya sudah menjadi perusahaan kelas internasional. Bravo betul-betul mengutamakan kedisiplinan dan kekeluargaan,” ujar suami dari Khadijah ini.

Pria yang baru saja dikaruniai anak pada 12 November 2017, ini berharap BSP menjadikan anggota sekuriti sebagai asset yang terus diperjuangkan kesejahteraannya. Dengan demikian kerja sama antara atasan dan bawahan akan selalu selaras demi kepentingan yang lebih besar yaitu membawa perusahaan ini semakin dipercaya masyarakat dan memberikan kemanfaatan secara professional.

Akbar juga merasa bangga bahwa kehadiran sekuriti di tengah masyarakat tidak hanya memberikan rasa aman tapi juga kemanfaatan. “Saya tetap bangga menjalani profesi ini dengan segala resiko yang ada, “ pungkas pria yang dikaruniai anak bernama Muhammad Arka Al-Furqan. [MH]

 

10 Aug 2017

Dari Satpam jadi Asisten Manajer Operasional

KSATRIA, (BSP)–Wajahnya tak asing di kalangan keluarga besar PT. Bravo Satria Perkasa (BSP). Wajah yang menjadi ikon satpam di video profile perusahaan BSP. Dialah pemilik nama satu kata, Suhendy.

Suhendy menekuni dunia sekuriti sejak tahun 1998. Awalnya ia ingin menjadi teknisi, namun melihat peluang bekerja menjadi satpam di di Bank Danamon Kantor Pusat akhirnya ia nekad mendaftar. “Saat itu, sekuriti karena dilihat secara fisik saja, tanpa ada tes lainnya,” katanya kepada Majalah Ksatria.

Dua tahun berjalan, tahun 2000 ia diangkat sebagai satpam tetap Danamon bersama sekitar 300 personil lainya, tahun 2001 ia mengikuti pendidikan satpam program pratama di Lido Bogor selama sebulan.

Setelah mengikuti pendidikan satpam, karir Suhendy mulai terlihat ketika ia dipilih menjadi Danru tahun 2002. Bahkan setahun kemudian, 2003 ia diangkat menjadi sekuriti VIP bersama sepuluh satpam lainnya. Tugasnya, menjaga para direksi bank Danamon.

Suhendy merasakan pengalaman menarik ketika menjadi sekuriti VIP. Saat diundang oleh presiden pada saat itu Megawati Soekarno Putri untuk mengawal pimpinan, ia sempat dikira Paspampres karena turut dalam iring-iringan pengawalan Paspampres saat memberikan pengawalan direktur Bank Danamon.

“Disitu mental dan loyalitas kita diuji karena berinisiatif sebagai paspampres supaya akses pengawasan kepada direktur clear dan tidak masalah dengan Paspampres,” ungkapnya.

Pengalaman menarik lainnya ketika mengawal tamu dari Turki ada enam mobil. Pertama, tutur kata dan bahasa Inggris menjadi prioritas pelayanan sehingga klien puas dengan pelayanannya.

Pengalaman yang tak kalah seru ketika terjadi bom Marriot Mega Kuningan Jakarta. Saat itu salah satu direktur Bank Danamon sedang berada di lantai dua. Begitu terjadi bom, ia langsung meluncur ke hotel. Ketika itu sempat kesulitan memasuki kawasan hotel karena seluruh akses diblokir oleh kepolisian.

Salah satu cara, lanjutnya, bergaya lagaknya kepolisian dengan mengatakan sebagai pengawal khusus direktur Bank Danamon. Suhendy pun mendapat akses masuk ke gedung dan berhasil melindungi direktur Bank Danamon dari ancaman maut.

“Saat itu direktur  kita melihat mayat-mayat bergelempangan lalu meminta anggota sekuriti mengangkut mayat-mayat itu ke dalam mobilnya,” kenang Suhendy.

Setelah empat tahun menjadi pasukan khusus, tiba-tiba Suhendy dipromosikan menjadi Danton tahun 2006. Ia merasakan, meski pangkat naik justru pendapatan turun. Padahal saat itu kebutuhan untuk keluarga semakin besar.

Kepalang basah, Suhendy menyebur sekalian di dunia pengamanan. Menjadi Danton ia gunakan untuk mendalami ilmu sekuriti melalui training. Hingga suatu hari, ia diperbantukan di subdivisi investigasi dibawah Coorporate Safety Management Danamon. Tahun 2008 Suhendy pun diangkat menjadi staf investigasi.  Di Danamon inilah Suhendy ditempa praktik pengamanan di lapangan, bahkan ini belajar menangani investigasi mulai dari proses penyelidikan, penyidikan, dan resume seluruh investigasi.  “Dari situ saya banyak menangani kasus di Danamon dan selalu clear,” terangnya.

Hingga pada suatu hari, Suhendy merasa ingin suasana baru di dunia pengamanan. Hingga kemudian ia memutuskan untuk bekerja di BSP, namun posisinya saat itu masih masa kontrak dengan Danamon. Setelah selesai kontrak, tahun 2010 ia melamar di kantor pusat BSP dan diterima sebagai staf khusus di wilayah Jakarta. Karir ini berlanjut sebagai staf marketing tahun 2011 karena pada saat itu BSP membentuk departemen operasi.

Adanya Suhendy di Departemen Operasional BSP membawa greget berbeda di system operasional BSP di lapangan. Ia banyak mengusulkan kebijakan dan melakukan pembenahan termasuk membuat SOP pelayanan satpam kepada klien. Sehingga Suhendy diangkat menjadi asisten manajemen BSP.

Tak hanya berbagi pengalaman, Suhendy juga mengaku senang dengan support yang diberikan perusahaan BSP kepadanya. Diantaranya pendidikan investigasi, training multimanagement pengamanan dan training tenaga pendidikan satpam.

Suhendy mengingatkan kepada seluruh satpam bahwa bekerja di perusahaan jasa pengamanan harus memahami seluk beluk perusahaan. “Anggota satpam jangan hanya bangga pada tempat dimana bekerja, tapi juga harus bangga dan memiliki kepedulian pada perusahaan jasa pengamanan yang diikutinya,” katanya.

Misalnya, satpam bank A jangan hanya membanggakan diri sebagai karyawan bank A, tapi harus mengenalkan dan bangga dengan BUJP yang membawanya yang menjadi induk perusahaan tempat ia mendapatkan pekerjaan.

Berbagai pengalaman yang ia alami selama ini, menjadikan dirinya kian memiliki kualitas dalam dunia pengamanan. Tak heran jika sekarang, ia didaulat sebagai Asisten Manager Ops/ Section Head of Security Specialist & Devices Alarm System PT. Bravo Satria Perkasa.[ROJI]

01 Mar 2017

Christian Rombe Raih Juara I di National Brance Competition Maybank

KSATRIA, (BSP)–Setelah tiga bulan melalui seleksi dari pihak Maybank, akhirnya Christian Rombe berhasil menyisihkan seluruh satuan pengamanan Maybank di seluruh Indonesia. Christian berhasil menjadi juara pertama National Brance Competition Maybank.

Apa yang telah dilakukan oleh Christian bukan semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan konsistensi ketika menjalankan tugasnya sebagai satpam kantor bank Maybank di Makassar.

Menurut Christian, satpam kantor bank berbeda dengan satpam yang bekerja di area proyek. Petugas pengamanan di kantor bank dituntut berpenampilan rapi, mulai dari sepatu sampai seragam.

“Selain penampilan rapi, yang diutamakan juga adalah mampu memberikan pelayanan dan profesional dalam bekerja, seperti disiplin dan kejujuran dalam bekerja,” kata suami Santi Sedan.

Bapak dari tiga putri bernama Anak Chelsea, Evangeline dan Chello ini dalam menjalankan tugasnya pernah menghadapi nasabah yang bermasalah. Sebagai satpam bank, ia pun harus bisa menempatkan diri sebagai penengah dan mencairkan suasana.

Bagi Christian, pekerjaan yang ia jalani ini memang penuh resiko, namun ia menyadari bahwa profesi ini adalah pilihan yang harus dijalani dengan sebaik mungkin sehingga bermanfaat bagi perusahaan dan user. “Karena satpam pekerjaannya penuh tantangan, karena pekerjaan apapun kalau dilakukan dengan ikhlas pasti kita senang,” kata pria kelahiran Makassar, 27 Februari 1974.

Dedikasi yang ia tunjukkan dalam menjalankan tugas, ternyata menjadi perhatian pihak user dalam hal ini Maybank Makassar. Christian pun akhirnya dipilih sebagai salah seorang satpam yang ikut dalam National Brance Competition Maybank.

Menurut Christian, National Brance Competition Maybank diikuti oleh seluruh satpam Maybank di Indonesia. Melalui seleksi dari masing-masing daerah, para satpam berkompetisi menjadi yang terbaik.

Kurang lebih selama 3 bulan, Christian menjalani berbagai macam ujian, mulai dari ujian tertulis, lisan hingga psikotes. “Satpam diuji tentang produk-produk dan ada juga team yang kami tidak tau yang datang berpura-pura menjadi nasabah,” terang putra dari pasangan Daniel Rombe dan Martha Rungngu.

“Pertama saya sangat berterimakasih kepada Maybank dan BSP, awalnya saya dapat info bahwa saya mendapatkan juara pertama di NBC Maybank,” katanya.

Mendengar informasi ia berhasil menjadi juara satu, Christian merasa sangat bangga. Selain itu, ia juga merasa harus mempertanggungjawabkan penghargaan itu serta mengimplementasikan di tempat kerja. “Saya dengar kabar tanggal 16-17 February 2017 acaranya diadakan di hotel Mercure Ancol,” ujarnya.

Christian berharap, penghargaan yang ia terima dari pihak Maybank ini bisa menjadi motivasi bagi dirinya dan teman-teman satpam.”Kepada teman-teman dimanapun berada tetap semangat utamakan profesional kerja, menjunjung tinggi kejujuran dalam memberikan pelayanan kepada pengguna satpam agar ke depan BSP semakin jaya,” tegas lelaki tinggi badan 175 cm ini.

Christian, memulai karir profesi satpam sejak tahun 2004. Selama enam tahun ia menjaga keamanan Maybank melalui vendor lain. Setelah itu, ia hijrah ke PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) Area Makassar dan masih bertugas di Maybank hingga sekarang.

“Perasaan selama berada di BSP, semakin banyak pengalaman yang bisa saya dapatkan. Terutama saya dapat kebersamaan saat bertugas di Maybank Makassar,” kenangnya.[ROJI]

 

 

20 Dec 2016

Denny Tiga Kali Raih Penghargaan The Best Satpam

KSATRIA, (BSP)–Tiga kali mendapatkan penghargaan sebagai sekuriti berprestasi, tak membuat Denny berhenti belajar. Justru ia terus termotivasi untuk lebih mengenal produk tempat ia bekerja dan melayani setulus hati. Alhasil, Denny kerap mendapatkan penghargaan atas prestasinya ini. Berikit ulasannya. 

Keputusan Denny Sartika untuk bergabung menjadi anggota sekuriti PT Bravo Satria Perkasa  (BSP) sudah bulat. Tak ada paksaan, tak ada tekanan, semua berjalan mengalir dengan keyakinannya bahwa BSP adalah tempat yang tepat untuknya berkarya.

Keputusan itu diambil setelah Denny mendengar informasi lowongan kerja sebagai sekuriti di PT BRI Kantor Cabang Perawang. Apalagi dua bulan lagi, ujarnya, masa kontrak kerjanya di PT Indah Jaya Pala saat itu akan berakhir.

“Kebetulan di BRI Perawang ini kekurangan sekuriti, saya bikin lamaran ternyata diterima Alhamdulillah sampai sekarang,” tuturnya saat dihubungi Majalah Ksatria.

Denny masih ingat dirinya diterima sebagai anggota BSP Bulan November 2010. Dalam statusnya yang masih bekerja, ia segera mengundurkan diri dari tempat kerja yang lama.

Meskipun ia sudah memiliki sertifikat pendidikan profesi di Jakarta pada tahun 2005, ia perlu beradaptasi. Pasalnya, perusahaan ini membangun system keamanan perbankan yang berbeda jauh dengan pengamanan perkebunan yang menjadi tugas dia sebelum bergabung di BSP.

Denny menuturkan, dari sisi pengetahuan, misalnya, anggota sekuriti bank harus memahami sejumlah produk perbankan supaya ketika ada nasabah minta dilayani, sekuriti bisa memberikan pengarahan sederhananya. Dari sisi keterampilan, setiap sekuriti dibekali kemampuan komunikasi personal dan etika.

Kerja keras ini berbuah manis pada tahun 2012 jam 17.00 tiba-tiba pimpinanya yang baru tiba dari luar kota menemuinya dan menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Denny sebagai sekuriti terbaik. Berita ini menjadi kejutan bagi anggota sekuriti yang sehari-hari bekerja sesuai prosedur yang ditetapkan perusahaan ini.

Tahun 2014, Denny kembali memenangi pemilihan the best security yang disertai ujian knowledge dengan nilai tertinggi 96. Saat itu, menurut Denny, semua sekuriti diuji tentang produk-produk perbankan dan layanannya. Sehingga sekuriti betul-betul bisa melayani nasabah kalau ada yang bertanya atau komplain.

“Jadi sekuriti harus siap melayani nasabah apa yang menjadi permasalahannya kita harus siap melayanninya dengan baik,” tuturnya.

Berikutnya pada tahun 2016, Denny terpilih ketiga kalinya sebagai The Best Product Klowledge Security. Ia berhasil menyisihkan 17 sekuriti yang mengikuti ujian dengan nilai mutlak 100. Menurutnya, ujian ini langsung dipantau oleh bagian pengawas dengan mekanisme seleksi yang cukup ketat.

Memang tidak mudah untuk menjadi pemenang. Denny mengakui, semua keberhasilannya ini merupakan hasil ketekunanya belajar dan bertanya tentang tugas dan standar pelayanan seorang sekuriti.

Menurut Denny semua profesi memiliki tantangan yang berbeda-beda. Bagi sekuriti perbankan, menurutnya, tantangan yang harus selalu diwaspadai adalah masalah keamanan. Sebab, bisa jadi tantangan itu muncul dari nasabah yang menjadi pintu masuk penyusupan sehingga harus selalu diantisipasi bagaimana pun ramainya situasi kerja.

Disamping itu perlu diperhatikan ancaman keamanan dari lungkungan bekerja seperti terjadinya kebakaran akibat konsleting listrik dan sebagainya. Pernah suatu ketika Denny menghadapi insiden kebakaran akibat konsleting listrik pukul 03.00. Dengan sigap ia menjinakkan sumber bahaya menggunakan alat pemadam kebakaran sehingga bisa ditangani dengan baik.

Anggota sekuriti berprestasi dari Riau tahun 2012, 2014 dan 2016 ini juga menegaskan, prestasinya dalam bekerja tak luput dari peran keluarga. Selama ini, lanjutnya,  semangat dan dukungan untuk selalu bekerja keras terus diberikan anak dan istri yang bangga dengan profesinya.

“Itulah yang membuat saya senang bekerja mencari nafkah untuk anak dan keluarga,” ujar pria yang dikaruniai dua anak dari pernikahanya dengan Gusrianita ini.

Untuk menjadi seorang sekuriti professional, pria yang berkecimpung di dunia sekuriti sepuluh tahun lebih ini mengatakan bahwa sekuriti harus memiliki sikap tegas dan bisa mengambil keputusan, serta mampu memberikan pelayanan yang nyaman baik terhadap stakeholder maupun tempatnya bekerja.

Pria kelahiran Riau, 3 April 1977 ini sempat merasakan perjuangan saat Riau dilanda asap tebal. Saat Riau dilanda asap tebal, semua aktivitas diliburkan mulai dari karyawan kantor, pertokoan dan aktivitas sekolah. Namun sekuriti menjadi pengecualian karena harus menjaga harta benda dan aset-aset perusahaan.

Kejadian yang berlangsung selama beberapa bulan  ini menuntut profesi sekuriti meningkatkan kewaspadaanya sebab dimungkinkan akan terjadi tindak kejahatan disaat masyarakat mengungsi ke tempat yang aman.

Baginya, pengalaman di dunia sekuriti ini membuat dirinya semakin yakin bahwa anggota sekuriti memiliki kontribusi yang cukup besar di masyarakat. Disamping tugasnya mengamankan asset perusahaan sekuriti juga berperan dalam menciptakan keamanan di masyarakat sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan.

Menjalani profesi yang cukup mulia ini, Denny merasa bangga bahwa kehadirinya di tengah masyarakat tidak hanya memberikan rasa aman tapi juga kemanfaatan. “Saya tetap bangga menjalani profesi ini dengan segala resiko yang ada, “ pungkasnya. [AH]

15 Aug 2016

Sri Suryaningsih Sekuriti BSP yang Jago Tenis Meja

KSATRIA–Olahraga rutin merupakan salah satu kegiatan fisik yang harus dilakukan oleh seorang sekuriti. Terlebih lagi, seorang keamanan harus berpenampilan prima, baik secara fisik mapun non fisik. Karena itulah, sekuriti seharusnya menyempatkan diri untuk menjaga stamina dengan cara berolahraga.

Olahraga, ternyata selain juga bisa bermanfaat bagi fisik, jika ditekuni bisa menjadi prestasi yang bisa dibanggakan. Adalah Sri Suryaningsih sekuriti PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) yang bertugas di projek MayBank, yang sudah menikmati hasil dari jerih payah menekuni olahraga, khususnya Tenis Meja.

Sri yang kelahiran Kedai Durian, 15 april 1977 ini bergabung di BSP Area Sumatera 1 pada tahun 2012 ini diberi kesempata oleh pihak BSP untuk mengikuti klub tenis meja MayBank. Tenis meja bagi Sri sudah mendarah daging, pasalnya ia menekuni olahraga ping pong ini sejak ia kelas enam Sekolah Dasar.

“Saya sangat bersyukur dan bangga pada PT. Bravo Satria Perkasa karena saya diberi kepercayaan bergabung bersama tim Tenis Meja Maybank Indonesia untk mengikuti kejuaraan di Pesta Sukan  Maybank  ke-34, pada 21-23 Agustus 2015 yang berlangsung di Maybank Acedemy, Bangi Malaysia,” katanya.

Berkat ketekunannya selama ini, Sri berhasil mengalahkan lawannya yang dari Singapura di babak final. Srip un akhirnya menyabet hadiah juara 1 mengalahkan tim MayBank dari Singapura. “Alhamdulillah tim tenis meja pun tidak mau kalah dan berhasil meraih juara I, dengan mengalahkan Tim Maybank Singapura di putaran final,” kenangnya.

Bagi Sri, pengalaman bisa ke negeri seberang untuk bertanding, dan pulang membawa medali emas merupakan pengalaman yang sangat membanggakan. Secara tidak langsung, Sri juga telah ikut mengharumkan nama PT. Bravo Satria Perkasa di Singapura.

“Inilah pengalaman yang terbaik dalam hidup saya. Terima kasih PT. Bravo Satria Perkasa dan terima kasih MayBank Indonesia,” tegas perempuan yang menyukai tenis meja karena mengandalkan kecepatan tubuh.

Keberhasilan ini juga karena dukungan dari semua pihak, utamanya kepada Bapak Yudi Erlambang sebagai Head of Area Sumatera 1 dan Bapak S. Panjaitan sebagai komandan sektor dan beserta staf lainnya yang telah mendukung dirinya untuk memberikan semangat, “Sehingga saya bisa mengikuti kejuaraan tenis meja di Malaysia,” ujarnya.

Sehari-hari, untuk mengasah kemampuannya di bidang olahraga tenis meja ini, Sri menyempatkan waktu untuk berlatih setiap minggu sebanyak tiga kali. Meski menonjol di bidang olahraga tenis meja, Sri tetap konsisten dengan tugas yang diembannya sebagai sekuriti jaga di kantor MayBank.

Sri mengakui, meskipun dirinya perempuan namun tidak merasa minder untuk menjadi sekuriti, justru ini tantangan buat dirinya. Terlebih lagi bertugas di projek perbankan yang cukup beda dengan projek lainnya. Di perbankan, sekuriti dituntut bisa mengikuti standart pelayanan nasional dan menjalankan S3 yaitu senyum, sapa  dan salam kepada seluruh orang yang ada di wilayah kerjanya.

“Bertugas di projek perbankan kita harus lebih siaga dan waspada terhadap gerak gerik mencurigakan. Karena di bank tempatnya uang berada, jadi harus ekstra siaga terhadap lingkungan sekitarnya, ujarnya.

Sri juga merasa bersyukur karena lingkungan kerja yang kondusif sehingga bekerja bisa lebih baik. “Semoga PT. Bravo Satria Perkasa kedepanya lebih baik lagi dan sukses selalu,” paparnya. [FR]

 

 

24 May 2016

Abu Rumakat, Inspirasi Dari Satpam Terbaik Se-Papua

 

 

Dedikasi dalam menjalankan tugas, akhirnya menuai hasil. Ketika Bank Papua menyeleksi para satpam yang memiliki kualitas dalam menjalankan tugas. Abu Rumakat, namanya terangkat sebagai Satpam terbaik dari Bank Papua. Berikut kisahnya.

KSATRIA–Abu Rumakat sedikit dari sekian banyak satpam yang berhasil mengharumkan nama PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) di wilayah Indonesia bagian timur tersebut, anggota satpam yang selalu tampil rapi ini meraih penghargaan sebagai satpam terbaik se Papua dari Bank Papua.  Acara penganugrahan satpam berprestasi ini berlangsung di Lapangan Gor Cendrawasih Jayapura Papua pada 12 Januari 2016 lalu.

Dihadapan sejumlah tokoh dan lembaga yang menyelenggarakan penganugrahan security berprestasi, Rumakat dianugrahi sebagai satpam terbaik tahun ini. Di atas panggung, Rumakat tak bisa menyembunyikan kegembiraannya meraih hadiah dan sertifikat dari para penyelenggara. “Saya bersyukur bisa mengharumkan nama Bravo yang mendidik dan membina selama ini,” tutur pria berbadan tegap ini.

Penghargaan ini diberikan dengan berbagai petimbangan. Rumakat mengaku, untuk memperoleh penghargaan itu, banyak syarat yang harus dipenuhi dan melewati seperti ujian dan seleksi ketat. Setidaknya, integritas penilaian ini juga dapat dipertanggung jawabkan karena melibatkan tim khusus dari Kepolisian Daerah (Polda) Papua serta Badan Usaha Jasa Pengamanan se-Papua.

Proses penilaian ini berlangsung selama satu tahun. Dewan juri menilai berdasarkan penampilan fisik, kedisiplinan dan pelayanan. Penilaian yang dilakukan secara tertutup ini juga tidak diketahui oleh anggota security. “Penilaian tersebut sangat ketat dan tertutup tanpa diketahui kita,” paparnya.

Dalam seleksi tersebut, Rumakat berhasil menyisihkan peserta dari seluruh anggota security yang berada di wilayah Papua. “Ini penghargaan dan prestasi yang pertama kalinya,” papar Rumakat dengan penuh bangga.

Secara umum, keberhasilan Rumakat juga berkat kerjakeras, serta arahan dan bimbingan dari chief di Bravo Satria Perkasa. Menurutnya, keberhasilannya ini bisa menjadi inspirasi bagi anggota security yang lain. Terutama dalam hal kedisiplinan, kerapian, penampilan, pelayanan dan loyalitas kepada perusahaan.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak ini bekerja sehari-hari hanya  untuk perusahaan tempatnya bekerja. Ia tidak pernah berpikir bahwa apa yang dikerjakan sehari-hari ini bisa mengantarkannya terpilih sebagai security terbaik se-Papua. Dengan penghargaan itu Rumakat semakin termotifasi untuk lebih giat bekerja. “Iya saya lebih giat bekerja,” paparnya.

Rumakat tergabung dalam anggota satpam yang berkantor pusat di Jakarta ini sejak tanggal 3 Agustus 2011 – 3 Agustus 2013. Pada tahun 2015, posisinya berubah dari anggota menjadi Danru (Komndan Regu). Setiap hari, Rumakat bersiap menghadapi tantangan dan kendala dalam tugasnya. Misalnya ketika ada anggota yang tidak hadir dalam bertugas karena ijin. Tanpa berkeluh kesah Rumakat mengisi pos-pos yang kosong. “Sebagai Danru saya harus bertanggung jawab mengisi pos sambil mengontrol anggota di pos-pos yang lainnya,” tuturnya.

Menurutnya,  semua anggota memiliki tanggung jawab yang sama karena tugas tersebut menjadi tanggung jawab satu tim. Soal kedisiplinan, kelancaran bertugas dan jenjang karir semua tergantung dari pribadi masing-masing.

Pria kelahiran Garogos , 14 September 1982 ini menjalankan tugas pengamanan segabaimana tugas itu diamanahkan kepada security sebagai mitra polisi agar lebih maksimal mengemban tugas sebagai pamswakarsa. Agar tugas ini lebih maksimal, menurutnya harus ada aturan dari BUJP terhadap anggota security. Kedua, lebih sering mengadakan pelatihan dasar dan pelatihan pelayanan kepada anggota sekuriti sehingga selalu siap menghadapi situasi di lapangan.

Suami dari Fatmi Rupo ini menyadari pentingnya pendidikan dan pembinaan bagi seorang satpam. Dalam hal ini ia pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan Gada Pratama pada Tahun 2014. Hasilnya, dirinya tidak hanya memiliki wawasan yang meningkat tapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. “Semangat kita bekerja keras dan bekerja ikhlas,” ujar pria yang memiliki moto hidup bekerja dan bekerja ini. [AM]

15 May 2016

Jeni, Tetap Tenang Saat Pendemo Marah

Menghadapi pendemo adalah tugas yang kerap ia jalani selama menjadi anggota Satpam. Namun ia menikmati pekerjaan itu sebab tugas bagian dari sebuah tanggungjawab.

KSATRIA–Jeni Kurnia kelahiran Tasikmalaya, 3 November 1984 ini menjadi anggota sekuriti tahun 2002, namun baru bergabung sebagai anggota satuan pengamanan di PT Bravo Satria Perkasa (BSP) pada tahun 2008. Sebagai seorang sekuriti ia memahami tugas pokoknya adalah menyelenggarakan pengamanan terhadap harta benda serta jiwa di ruang lingkup wilayahnya.

Tasikmalayan dulunya dikenal sebagai kota santri, namun sekarang lebih dikenal sebagai kota LSM. Hal ini membuat Jeni kerap menghadapi masa dari LSM yang melakukan aksi pengerusakan di kantor FIF Tasikmalaya. Kejadianya pada tahun 2013 silam, dimana kontor FIF Tasimkalaya pernah didatangi sekitar 200 orang. Masa demo ini awalnya datang dengan konvoi mengendarai sepeda motor sambil berteriak-teriak dan membunyikan suara motornya.

Sesampainya di depan kantor masa langsung menyerbu dan merusak harta benda, tanaman dan motor milik nasabah yang sedang melakukan pembayaran. Mereka beralasan selama ini telah menjadi korban kebijakan FIF dan tidak senang dengan keberadaan perusahaan leasing di Tasikmalaya. Jeni yang bertugas saat itu berusaha menenangkan diri jangan sampai terpancing emosi.  Secara jumlah, anggota sekuriti FIF lebih sedikit dibanding masa yang berdemo.

Untuk mencegah aksi kekerasan, upaya preventif dan preentif pun dilakukan mulai dari berkoordinasi dengan seluruh anggota sekuriti yang berjaga dan meminta bantuan yang berwajib. Selain ada yang menemui pendemo juga harus ada sekuriti yang masuk ke kantor untuk mengamankan jiwa dan harta benda serta menjamin dan mengendalikan keamanan di dalam. “Usahakan mengendalikan dengan 5 S yaitu senyum, salam, sapa, sopan, santun,” ujar bapak satu anak ini.

Menurut Jeni, ketika menghadapi masa demo, satpam harus bisa menyambutnya dengan senyuman lalu menyampaikan salam dan kalau bisa berjabat tangan. Kemudian menyimak dan memperhatikan apa yang disampaikan lalu mempelajari akar persoalannya.

“Dalam melontarkan pertanyaan, anggota satpam harus benar-benar teliti jangan sampai menyinggung perasaan mereka,” paparnya.

Ketika situasi sudah mereda, satpam bisa meminta perwakilan dua orang yaitu orang yang bersangkutan langsung dan aktor intelektualnya. Mereka bisa diarahkan ke pihak yang tepat dengan pengawalan efektif yaitu  mengambil posisi berdiri di antara FIF dan pihak penuntut bukan di belakangnya. “Hal ini untuk mengantisipasi adanya pergerakan agresif dari pendemo,” paparnya.

Ketika masa terus memaksa masuk sementara tidak ada surat izin, sekuriti harus berkordinasi dengan pihak berwajib. Bahasa yang disampaikan misalnya “Mohon izin komandan, sekuriti FIF melaporkan bahwa saat ini ada kejadian masa mendatangi kantor FIF. Sebagai antisipasi mohon patroli ke sini,” ujarnya.

Dengan penanganan dan koordinasi yang tepat, sekuriti bisa mengendalikan pengamanan dalam situasai apapun. Disini sekuriti tidak hanya berperan sebagai  penyelenggara pengamanan terhadap harta benda serta jiwa di ruang lingkup wilayahnya, tapi juga sebagai mediator yang baik antara masa dan perusahaan.

Jeni sadar bahwa bekerja di bidang pengamanan tidak luput dari tindak kekerasan secara fisik. Oleh karena itu usaha pengamanan ini tidak luput dari doa dan ilmu beladiri yang diperlukan untuk melancarkan tugas di lapangan. Kemampuan ini sering membantu Jeni ketika mengalami penyerangan ketika sedang jaga malam, ada masa berboncengan motor mendatangi kantor FIF menanyakan data nasabah. “Terjadilah pemukulan dengan benda tumpul namun tidak ada sedikit pun yang melukai tubuh saya,” paparnya.

Ia memang dari keluarga penerus padepokan Cimande dan Cikalong Tasikmalaya. Menurutnya, tugas pokok sekuriti adalah menyelenggarakan pengamanan terhadap harta benda serta jiwa di lingkungan kerja atau ruang lingkup tugasnya. Tergantung sekuriti ini ditempatkan di mana. “Maka teori dan pengalaman harus dipadukan menjadi bentuk pengamanan yang  memadai,” tandasnya. [AM]

Translate »
error: Content is protected !!