Bravo Satria Perkasa
15 May 2016

Profesionalisme Satpam di Era Globalisasi

Oleh: Heru Wibowo,S.Sos.I.MM

Head Of Area Jawa II Jawa Tengah & DIY

Setiap Pengamanan (Satpam) di sektor usaha atau bisnis menjadi sebuah keniscayaan. Satpam menjadi ujung tombak perusahaan dalam mengantisipasi gangguan yang merugikan kinerja perusahaan dalam menjalankan bidang usahanya. Kehadiran Polri tidaklah mungkin berada di setiap tempat dalam waktu yang bersamaan karena cukup banyak lingkungan yang belum dapat disentuh secara intensif oleh Polri. Karena itu, peran Satpam sangat urgent.

Satpam atau sekuriti adalah profesi yang masih dianggap rendah dan dilakukan orang-orang yang dianggap ‘low level‘ atau kalangan bawah saja. Satpam, selalu identik dengan ‘penjaga malam’ yang konon bisa dilakukan siapa saja asal berbadan tegap, sangar dan berani. Padahal, tidak semuanya seperti itu.

Setiap Satpam yang berjaga di wilayahnya sesuai dengan karakternya. Misalnya, Satpam di pasar tentu harus seorang yang memiliki kriteria ‘pasar’ dalam arti; keras, berani dan sanggup melakukan berbagai antisipasi kekasaran di pasar. Lain halnya dengan Satpam di perhotelan dan bank, dia lebih dituntut untuk selalu ‘good looking’ dan ramah terhadap costumernya.

Untuk mendukung tugas pokoknya, Satpam juga dilatih dan dibina oleh kepolisian yang dituangkan dalam undang-undang negara dan tertuang dalam Perkap No 24 Th 2007. Sekaligus menjadi perpanjangan tangan kepolisian untuk melaksanakan tugas membantu keamanan di suatu tempat.

Keberhasilan Satpam, tidak saja karena adanya pengawasan yang ketat dan terus menerus atas daerah kerja dan aktifitas para karyawannya, melainkan juga karena didukung pendekatan yang baik dari pengusaha kepada karyawannya sehingga memungkinkan karyawannya bekerja dalam lingkungan yang saling mempercayai dan dengan moral yang tinggi, ini merupakan faktor yang penting bagi efisiensi perkantoran.

Satpam pada masa sekarang dan yang akan datang harus cukup lugas atau cerdas untuk berhubungan dengan orang banyak jika ingin mendapatkan kerjasama dan respek mereka. Selain itu wewenang petugas Satpam, yang berhubungan dengan peraturan dari perorangan atau perkantoran adalah menjamin agar peraturan tersebut dapat ditaati dan kelancaran roda perkantoran berjalan dengan aman dan tertib menuju tujuan berproduksi yang efisien sehingga menghasilkan keuntungan bagi perkantoran.

Sekarang, Satpam di perusahaan perannya telah berkembang menjadi frontliner yang membantu pelayanan perusahaan. Seperti diketahui bahwa fungsi Satpam yang aslinya adalah untuk menjaga keamanan wilayah dalam dan luar perusahaan. Sekarang, Satpam tidak hanya diperlukan untuk melaksanakan pengamanan yang sifatnya fisik, tetapi juga telah berkembang perannya untuk melengkapi wilayah pelayanan perusahaan dengan sikap yang lebih ramah dan banyak senyum dengan Konsep 5 S ( Salam, Senyum, Sapa, Sopan dan Santun).

Satpam selalu menjadi orang pertama yang ditemui pelanggan saat berinteraksi dengan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada pelayanan sempurna, sangat berharap pada penampilan Satpam yang lebih profesional, memilliki bahasa tubuh yang positif, tersenyum, lebih memberikan kesan yang membantu kenyamanan dan keamanan pelanggan. Intinya, Satpam harus tampil dengan sikap dan perilaku yang lebih melayani harapan dan kebutuhan pelanggan, tanpa kehilangan identitas sebagai penjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan kerja.

Jangan pernah menganggap kecil peran Satpam. Siapapun yang tidak melibatkan fungsi Satpam perusahaan untuk peningkatan kualitas pelayanan, maka dia akan gagal untuk memberikan pelayanan sempurna kepada pelanggan. Sebab, Satpam dengan pasti menguasai wilayah garda depan perusahaan, dan siapapun yang ingin terhubung ke wilayah perusahaan atau kantor wajib melewati Satpam. Jadi, bila perusahaan gagal memberikan kesan positif di wilayah garda depan ini atau di wilayah Satpam ini, maka suasana hati yang tidak nyaman akan menjauhkan rasa cinta dan loyalitas pelanggan kepada perusahaan.

Profesionalisme Satpam berarti kompetensi untuk dapat melaksanakan tugas serta fungsinya secara baik dan benar serta komitmen dari perusahaan jasa keamanan, untuk meningkatkan kemampuan dari personilnya. Sekuriti profesional, artinya Satpam tersebut terampil, handal juga sangat bertanggung jawab dalam menjalankan tugas.

Ciri-ciri profesional yang harus dimiliki oleh seorang Satpam, berbeda dari bidang pekerjaan yang lainnya. Ciri-cirinya adalah:  1) Memiliki ilmu kemampuan dasar sebagai satuan pengamanan serta    pengalaman tugas yang cukup. 2) Memiliki kemampuan atau keterampilan dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan keamanan.  3) Disiplin dalam bekerja sesuai peraturan perusahaan. 4) Mampu bekerja dalam tim, selalu berkoordinasi dengan baik. 5) Cepat tanggap terhadap setiap kejadian juga permasalahan yang    timbul dilingkungan kerjanya.

Peranan Satpam di perusahaan sangat penting untuk menjaga kelangsungan dan kestabilan bisnis atau usaha yang dijalankan perusahaan, apabila petugas Satpam sungguh-sungguh melaksanakan peran dan fungsinya maka kelangsungan usaha atau bisnis perusahaan akan lancar tanpa suatu hambatan, tetapi bila peran petugas Satpam tidak mampu berbuat dengan semestinya, maka kelangsungan usaha atau bisnis perusahaan akan terganggu dan akan menimbulkan kerugian baik materiil maupun non materiil pada perusahaan.

Pemahaman Aman itu Mahal dan Lebih Mahal kalau Tidak Aman. Pemahaman inilah yang haris terus  disosialisasikan kepada masyarakat, terlebih kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki dan mengelola asset milliaran rupiah dan bahkan trilliun rupiah, agar jangan semata-mata biaya keamanan itu menjadi suatu biaya, tapi timbulkan pengertian bahwa aman itu harus merupakan bagian dari investasi yang harus dipedulikan.

Adanya petugas satpam yang sudah mendapatkan pembinaan di bidang pendidikan dan pelatihan yang sungguh-sungguh akan dapat menambah etos dan produktivitas kerja yang lebih baik terhadap kinerja petugas Satpam, setiap tindakan yang dilaksanakan akan dilakukannya secara profesional sesuai dengan bidang kerja sebagaimana telah diembannya. Profesionalisme sebenarnya adalah watak yang didasari oleh rasa percaya diri yang tinggi dari pelakunya karena itu profesiona lisme berarti bekerja dengan kompetensi memadai, dengan tenang dan penuh percaya diri.

Petugas Satpam sebagai tenaga keamanan terbatas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya di perusahaan tempat kerjanya mempunyai peran sebagai pembantu fungsi Polri yang memiliki kewenangan pengamanan fisik yang sifatnya terbatas dan non justice sebagai keamanan dalam hal membina, mengarahkan, mencegah, menindak, dan menangkap serta memborgol apabila terjadi tindak pidana pelanggaran dan kejahatan yang tertangkap tangan di lingkungan perusahaan.

Keberadaan Satpam yang dapat diandalkan merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu, berbagai upaya peningkatan kemampuan Satpam perlu dilaksanakan dengan kurikulum pendidikan yang berjenjang dan berkelanjutan. Semoga dengan adanya pendidikan Satpam, kualitas Satpam di negeri ini semakin membaik.[]

 

 

01 May 2016

BSP Wilayah Jawa 2 Spirit ‘Tak Gendong’ Besarkan BSP

KSATRIA (BSP)–“Tak Gendong Kemana-mana…” demikian lirik lagu Mbah Surip yang sempat booming belum lama ini. Lagu berjudul Tak Gendong ini telah memberikan inspirasi bagi team Bravo Satria Perkasa (BSP) Wilayah Jawa 2 untuk menjadikan lirik ini sebagai spirit dalam melayani customer.

Bukan tanpa alasan, memilih Tak Gendong sebagai ikon BSP Wilayah Jawa 2 dalam memberikan layanan kepada customer di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta (DI Yogjakarta) ini. Menurut Head Of Area Jawa 2 Heru Wibowo, SSosI, MM, filosofi Tak Gendong memiliki makna yang dalam, yaitu menempatkan BSP dalam hati sehingga selalu digendong kemana-mana.

Heru menambahkan, Tak Gendong memilki makna berjiwa ngemong, artinya ketika anak menangis sebagai obat penawar utama adalah menggendongnya dengan memberikan pelayanan setulus hati. “Menggendong memilki arti makna kepedulian, respon dan empati sepenuh hati,” jelasnya.

Kepedulian untuk memberikan ayoman kepada seluruh personil BSP di wilayah, telah menjadi komitmen BSP dalam membangun iklim yang kondusif dalam menjaga keamanan dalam wilayah bertugas. Iklim kondusif ini berdampak pada layanan kepada customer sebagai user BSP. Secara tak langsung, hadirnya BSP di wilayah Jawa 2 telah ikut meringankan beban tugas kepolisian dalam menciptakan iklim yang kondusif dalam pengembangan usaha.

Personil Satpam yang tergabung dalam Keluarga Besar BSP Wilayah Jawa 2 menjadi ujung tombak perusahaan dalam menjaga keamanan di wilayah kerja personil BSP. Satpam BSP memiliki tugas pokok antara lain; menjaga asset perusahaan, menjaga personnel perusahaan, nama baik perusahaan serta integritas antar karyawan.

“BSP Wilayah Jawa 2 selalu siap membantu masyarakat yang membutuhkan,  khususnya di dunia keamanan secara profesional sesuai dengan karakter di masing-masing bidang,” paparnya.

Saat ini, BSP Wilayah Jawa 2 telah memiliki personil Satpam mencapai kurang lebih 2.500 personil, yang tersebar di 35 Kota Kabupaten se Jawa tengah & DIY. Sebagian besar Satpam BSP bertugas di 15 area perbankan diantaranya: Bank Permata, Bank BRI, Bank Danamon, Bank UOBIndoneisa, Bank OCBC NISP, Bank Muamalat Indonesia, Bank Internasional Indonesia, Bank Ina Perdana, Bank BPR MAA, Bank Mayapada, Bank NOBU, Bank BPR Grogol Joyo, Bank Mega Syariah Indonesia, Bank CIMB Niaga.

Selain perbankan juga ada 129 titik area yang ada di pabrik, dealer, rumah ibadah, perkantoran, rumah sakit, farmasi, restoran, pertokoan, apotik, leasing, laboratorium, perumahan, koperasi, perhotelan dan lain sebagainya.

Untuk mendukung  operasional di wilayah Jawa 2, BSP menempatkan orang-orang terdidik untuk ikut andil dalam pengembangan perusahaan jasa keamanan ini. Sebagian besar staff memiliki pendidikan dengan kualifikasi 80% lulusan Sarjana (S1), sedangkan 5% dari Strata 2 (S2). Sedangkan dari lulusan SMU mencapai 15%.

Heru menjelaskan, dalam meningkatkan kualitas layanan perusahaan memiliki beberapa kendala: Banyaknya BUJP di Jawa Tengah & DIY dan yang tercatat di Polda Jawa Tengah mencapai 186 perusahaan. “Adanya persaingan perusahaan yang tidak sehat sehingga menggaji Satpam masih di bawah UMK Kota maupun Kabupaten,” terangnya.

Heru yang juga Ketua Asosiasi Profesi Sekuriti Indonesia (APSI) Jawa Tengah ini berharap, khususnya BUJP untuk selalu mengedepankan aspek kemanusiaan tidak hanya berbicara bisnis saja, salary gaji paling tidak sesuai dengan UMK.

Membangun pengamanan di area kerja, tentunya harus melakukan pendekatan yang intensif dengan lingkungannya guna menciptakan iklim kondusif yang aman dan nyaman. Untuk itu, BSP aktif dalam bidang organisasi sosial masyarakat di wilayah Jawa 2.

Ada beragam model pendekatan kepada masyarakat, diantaranya meningkatkan komunikasi dengan masyarakat langsung dalam kegiatan yang dibungkus dalam wadah Bankom Polrestabes atau Satkom Polda Semarang. Kegiatan sosial dalam bidang komunikasi ini sampai menjangkau Kota Semarang, Ungaran, Salatiga, Demak Kendal, Batang dan Kudus.

Bankom Polrestabes Semarang ini didirikan oleh Bapak Kapolwiltabes Semarang yang sekarang menjabat sebagai Kapolri, yaitu Jenderal Polisi Badrodin Haiti. Saat ini, Heru menjabat sebagai Bojong Cobra 2 ( Wakil Ketua Bankom). Di mana anggota Bankom Polrestabes ini terdiri dari PNS, Wiraswasta, Pejabat, Pegawai, Wartawan, dan lain-lain.

Untuk memberikan pelayanan terbaik dalam bidang pengamanan, BSP Wilayah Jawa 2 juga aktif dalam kepengurusan di Asosiasi Profesi Sekuriti Indonesia (APSI) dan Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (ABUJAPI). Di APSI, Area Manager Jawa 2 ini juga menjabat sebagai Ketua APSI Jawa Tengah. Hal ini sebagai bentuk kepedulian BSP dalam mengmbangkan value Satpam menjadi lebih baik lagi.

Sementara beberapa staf BSP juga aktif terlibat menjadi pengurus harian dalam organisasi ABUJAPI Jawa Tengah & DIY, sehingga aspirasi dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran Satpam di mata masyarakat khususnya pengguna jasa kemanan menjadi prioritas BSP.

Kiprah para staf BSP Wilayah Jawa 2 dalam keorganisasian keamanan, telah menjadi bukti bahwa BSP peduli dengan kualitas personilnya. Untuk itu, Heru bersama tim kerjanya selalu memberikan pelayanan yang prima. BSP berusaha merespon lebih cepat apa yang menjadi kebutuhan klien.

Bisnis pengamanan adalah bisnis jasa yang service menjadi prioritas utamanya. Karena itu, kemampuan personil Satpam BSP selalu ditingkatkan untuk memberikan kepuasan klien. Diantara caranya adalah: Melakukan pembinaan service quality secara terus menerus, khusunya personil di area perbankan.

Selain itu, tambah Heru, melakukan kolaborasi pembinaan dari klien tentang product knowledge dalam melayani nasabah, menerapkan dan memahmi simulasi pelayanan,  meningkatkan cara melayani yang baik, dan melakukan rolling personil untuk memberikan penyegaran personilnya dalam bertugas.

Heru berharap, BSP Wilayah Jawa 2 yang ia kelola ini ke depan bisa lebih berkembang dan menjadi market leader di Jawa 2, memiliki teknologi yang lebih canggih dalam rangka meningkatkan value keamanan yang lebih profesional dibarengi situasi lingkungan yang kondusif.

Ke depan, marketing BSP harus menjalankan New Wave Marketing, yaitu marketing yang lebih menekankan customer untuk ikut andil mempromosikan produk BSP secara tidak langsung. Karena itu, BSP lebih peka terhadap bagaimana membrand produk agar dapat membuat customer loyal terhadap produk BSP. Customer menjadi ‘sales’ tak langsung bagi perusahaan dalam memasarkan produk.

Selain itu, harapan ke depan, BSP menjadi jantung peradaban transformasi keamanan yang ideal di negeri ini. Dan terpenting lagi adalah memenuhi kesejahteraan yang komprehensif. “Untuk itulah falsafah yang terkandung dalam lagu tak gendong kemana-mana, sebenarnya menempatkan BSP siap melayani sepenuh hati dalam pengamanan,” tutur Heru. [FR]

 

 

 

Translate »
error: Content is protected !!