BSP Wilayah Jawa 3 Menjaga Keamanan Investor

KSATRIA (BSP)– Pulau Dewata, demikian sebutan Kota Bali yang banyak disebut oleh pelancong. Bali dengan kemolekan wisatanya yang dibalut dengan kekhasan budayanya telah menjadi gerbang pariwisata Indonesia. Tak heran, jika Bali banyak dikunjungi wisatawan asing yang ingin menikmati pulau Bali.

Pariwisata yang bisa menyajikan kenyamanan dan keamanan menjadi modal penting bagi sebuah daerah di negeri kepulauan ini untuk menarik wisatawan. Karena itulah, faktor keamanan menjadi sangat penting untuk pengembangan wisata di daerah.

Tak hanya sektor pariwisata, sektor usaha bisnis pun juga membutuhkan iklim investasi yang kondusif, yang aman dan nyaman dalam rangka pengembangan usaha. Lagi-lagi, peran pengamanan sangat urgent di area vital ini.

Hadirnya Bravo Satria Perkasa (BSP) di Jawa 3, yang terdiri dari wilayah Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT telah ikut berperan serta dalam menciptakan iklim yang kondusif dalam pengembangan berbagai sektor bisnis dan usaha.

Di bawah kendali Winantyo Nugroho selaku Head of Area Jawa 3, BSP Wilayah Jawa 3 mencoba memberikan layanan terbaik dalam menciptakan iklim kerja yang aman dan nyaman.

Lewat dedikasi dan kinerja yang baik dalam melayani kliennya, BSP Wilayah Bali didaulat untuk mengamankan pengawalan VVIP terhadap mantan pemain sepak bola internasional yaitu Youri Djorkaef selama di Bali dalam event gathering nasional klub sepak bola Intermilan pada Agustus lalu. Begitu juga pengamanan VVIP terhadap event Bali Marathon yang diselenggarakan oleh BII Maybank.

Menurut Nugroho, Wilayah Jawa 3 yang memiliki kondisi kultur dan budaya majemuk, membuat BSP melakukan inovasi terhadap pelayanan jasa terhadap klien, seperti di wilayah Bali yang sebagian besar didominasi oleh sektor pariwisata. Pihaknya melakukan pendekatan yang humanis terhadap anggota Satpam yang ada.

Nugroho menambahkan, bahwa anggota Satpam BSM merupakan asset dari perusahaan, maka dari itu kami selalu memenuhi apa yang sudah menjadi hak-hak normative sesuai dengan regulasi pemerintah. Di samping itu pihaknya juga melakukan supervise secara terus-menerus untuk pelaksanaan tugas sehari-hari di lapangan.

Dengan jumlah personil Satpam mencapai kurang lebih 1350 orang di Wialayah Jawa 3, BSP siap menjadi mitra dalam pengamanan wilayah area public. Seperti pengamanan perbankan, perkantoran, pertokoan, rumah sakit, lembaga pendidikan, rumah ibadah, perumahan, tempat pariwisata dan lain sebagainya.

“Sebagian besar kami hadir di sektor perbankan. Untuk perbankan parameter penilaiannya jelas dan terukur, hal ini dikarenakan ada penilaian khusus mengenai standar pelayanan dan hasilnya dipublikasikan,” papar Nugroho.

Standar pelayanan yang terukur, menuntut BSP terus melakukan evaluasi dalam memberikan layanan, terlebih lagi BSP bergerak di bidang jasa maka yang diutamakan adalah pelayanan terhadap klien. Apa yang menjadi keluhan klien harus menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti. “Kami jemput bola terhadap klien untuk memecahkan persoalan,” paparnya.

Wilayah Jawa 3 yang cakupannya cukup luas ini, juga menuntut tim BSP bisa saling berkoordinasi dengan baik. Misalnya untuk melakukan koordinasi dengan empat wilayah, Nugroho setiap sebulan dua kali melakukan koordinasi, dan setiap akhir bulan hasil dari monitor pelaksanaan tugas di lapangan dilaporkankan secara berkala.

Kerja pengamanan tidak hanya berkaitan dengan user saja, melainkan lebih luas lagi, terutama masyarakat sekitar area pengamanan. Pendekatan yang intensif dengan masyarakat sekitar menjadi bagian dari agenda BSP. Seperti di Bali, yang mayoritas penduduk menganut agama Hindu. Pihaknya mengajak koordinasi dengan LSM setempat atau dengan pecalang.

“Kami juga aktif melakukan koordinasi dengan kepolisian setempat. Laporan-laporan yang menjadi kewajiban kami kepada kepolisian juga dikirim secara rutin,” paparnya.

BSP Wilayah Jawa 3 terus berkomitmen untuk melayani customernya. Begitu juga, BSP juga sangat memperhatikan kesejahteraan personil Satpam yang bertugas di lapangan. Meskipun, dalam 4 tahun terakhir ini ada perubahan kebijakan dari gubernur mengenai kenaikan UMK, khususnya wilayah Surabaya.

Tahun 2015, SK Gubernur mengenai kenaikan UMK memecahkan rekor karena melebihi DKI Jakarta. Dengan adanya kenaikan UMK tersebut maka menjadi kendala bagi pengguna jasa, dalam hal ini jasa pengamanan.

“Sudah banyak kami melakukan penghentian kerjasama atau tidak diperpanjang karena pengguna jasa tidak sanggup lagi menaikan nilai kontraknya. Sampai saat ini, BSP Wilayah Jawa 3 tetap masih melakukan GCG sehingga semua pengelolaan sesuai dengan regulasi pemerintah daerah. [FR]