Bravo Satria Perkasa
29 May 2017

Kemenhub Perketat Pengamanan Bandara Jelang Mudik 2017

KSATRIA, (BSP)–Jelang mudik 2017, Kementerian Perhubungan akan memperketat pengamanan di Bandara Soekarno-Hatta. Peningkatan keamanan itu untuk mengantisipasi aksi terorisme.

“Dalam dua hari terakhir kami konsentrasi pada keselamatan dan keamanan karena di simpul transportasi sudah ada teror bom. Halte Kampung Melayu adalah simpul transportasi, kami fokus ke simpul transportasi udara,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Agus Santoso, di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (28/5).

Agus menambahkan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait pengamanan bandara selama mudik nanti. Aparat kepolisian dan keamanan bandara ikut dilibatkan. “Kami membicarakan keamanan dengan airport. Kami juga koordinasi dengan badan sektoral, baik polisi maupun pihak keamanan bandara,” paparnya.

Rencananya pengamanan berlapis juga diterapkan untuk mencegah terjadinya ancaman teror di tower bandara. Tower dianggap salah satu objek vital yang rawan ancaman terorisme.

“Untuk pengamanan ada dua lapis di tower, karena teroris jika menguasai tower maka bisa memerintahkan pilot,” pungkasnya. [ROJI]

11 Aug 2016

Prosedur Pemeriksaan Keamanan di Bandara

KSATRIA—Masuk bandara tidak seperti masuk terminal bus. Berbagai pemeriksaan dilakukan oleh petugas keamanan bandara, hal ini untuk mengantisipasi terjadinya tindak kejahatan terhadap transportasi udara ini. Sebab keamanan di bandara akan berdampak terhadap keselamatan penerbangan.

Untuk itulah, manajemen bandara memiliki prosedur yang cukup ketat dalam rangka menciptakan keamanan di bandara, berikut proseduir pemeriksaan keamanan di bandara seperti dikutip situs www.bandara.id:

  1. Setiap orang, barang, kendaraan yang memasuki sisi udara, wajib melalui pemeriksan keamanan (PP 3/2001 Ps.52)
  2. Personil pesawat udara, penumpang, bagasi, kargo dan pos yang diangkut dengan pesawat udara wajib melalui pemeriksaan keamanan (PP 3/2001 Ps 53 ayat 1)
  3. Pemeriksaan keamanan dapat dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat bantu (PP 3/2001 Ps 53 ayat 2)
  4. Terhadap bagasi dari penumpang yang batal berangkat dan/ atau bagasi yang tidak bersama pemiliknya, wajib dilakukan pemeriksaan keamanan ulang untuk dapat diangkut dengan pesawat udara (PP 3/2001 Ps. 55)
  5. Kargo dan pos yang belum dapat diangkut oleh pesawat udara disimpan di tempat khusus yang disediakan di bandar udara (PP 3/2001 Ps. 56 ayat 1)
  6. Tempat penyimpanan kargo dan pos harus aman dari gangguan yang membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan (PP 3/2001 Ps. 56 ayat 2)
  7. Kantong diplomatik yang bersegel diplomatik, tidak boleh dibuka (PP 3/2001 Ps. 57 ayat 1)
  8. Pelaksanaan ketentuan dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku (PP 3/2001 Ps.57 ayat 3)
  9. Dalam hal terdapat dugaan yang kuat kantong diplomatik dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan, perusahaan angkutan udara dapat menolak untuk mengangkut kantong diplomatik (PP 3/2001 Ps. 57 ayat 2)
  10. Bahan dan/atau barang berbahaya yang akan diangkut dengan pesawat udara wajib memenuhi ketentuan pengangkutan bahan dan/ atau barang berbahaya (PP 3/2001 Ps.58 ayat 1)
  11. Perusahaan angkutan udara wajib memberitahukan kepada Kapten Penerbang bilamana terdapat bahan dan/ atau barang berbahaya yang diangkut dengan pesawat udara (PP 3/2001 Ps. 58 ayat 2)
  12. Bahan dan/ atau barang berbahaya yang belum dapat diangkut, disimpan pada tempat penyimpanan yang disediakan khusus untuk penyimpanan barang berbahaya (PP 3/2001 Ps. 58 ayat 3)
  13. Apabila pada waktu penempatan di pesawat udara terjadi kerusakan pada kemasan, label atau marka, maka bahan dan/ atau barang berbahaya dimaksud harus diturunkan dari pesawat udara (PP 3/2001 Ps. 58 ayat 4)
  14. Agen pengangkut yang menangani bahan dan/ atau barang berbahaya yang akan diangkut dengan pesawat udara harus mendapatkan pengesahan dari perusahaan angkutan udara (PP 3/ 2001 Ps. 59 ayat 1)
  15. Agen pengangkut, harus melakukan pemeriksaan, pengemasan, pelabelan dan penyimpanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku (PP 30/2001 Ps. 59 ayat 3)
  16. Penumpang pesawat udara yang membawa senjata wajib melaporkan dan menyerahkannya kepada perusahaan angkutan udara (PP 3/2001 Ps.60 ayat 1)
  17. Senjata yang diterima oleh perusahaan angkutan udara untuk diangkut, disimpan pada tempat tertentu di pesawat udara yang tidak dapat dijangkau oleh penumpang pesawat udara (PP 3/2001 Ps.60 ayat 2)
  18. Pemilik senjata diberi tanda terima sebagai tanda bukti penerimaan senjata oleh perusahaan angkutan udara (PP 3/2001 Ps.60 ayat 3)
  19. Perusahaan angkutan udara bertanggung jawab atas keamanan senjata yang diterima sampai dengan diserahkan kembali kepada pemiliknya di bandar udara tujuan (PP 3/2001 Ps.60 ayat 3)
  20. Penyelenggara bandar udara atau perusahaan angkutan udara wajib melaporkan kepada Kepolisian dalam hal mengetahui adanya barang tidak dikenal yang patut diduga dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan (PP 3/2001 Ps.61 ayat 1)

 

Translate »
error: Content is protected !!