BSP Sumatera 2 Peduli Korban Banjir Pangkalpinang

 

Bencana datang tiba-tiba, banjir Pangkalpinang membuat rumah 16 personel PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) terendam air setinggi 1-2 meter. Untuk meringankan beban 16 personel, BSP peduli membantu korban banjir.

KSATRIA–Banjir yang menerjang wilayah Pangkalpinang Propinsi Bangka Belitung pada Senin siang 8 Februari 2016 lalu, meninggalkan duka. Sisa-sisa bencana alam itu masih terlihat hampir di seluruh Kota Pangkalpinang. Untuk meringankan beban anggotanya yang terkena musibah banjir, PT Bravo Satria Perkasa Area Sumatera 2 memberikan bantuan kepada anggota satpam yang rumahnya terendam banjir.

Setelah diidentifikasi ada sekitar 16 personel satpam BSP yang menjadi korban banjir dengan rata-rata ketinggian mencapai 1,5 meter hingga 2 meter. BSP menyalurkan bantuan berupa dana tunai yang nilainya masing-masing Rp500.000. Bantuan tersebut diberikan langsung kepada anggota atau perwakilan anggota yang terkena musibah.

Penyerahan langsung diberikan kepada 16 anggota satpam BSP di kantor masing masing klien BSP di Pangkalpinang pada Senin 15 Februari 2016, antara lain di kantor Bank Danamon Cabang Pangkal Pinang (2 personel), Bank CIMB Niaga Cabang Pangkal Pinang (2 personel), Bank Ekonomi Cabang Pangkalpinang (3 personel), CIMB Niaga Auto Finance Cabang Pangkal Pinang (4 personel), PT Sumber Cipta Multi Niaga (Djarum Group) Cabang Pangkalpinang (2 personel), PT.  FIF Cabang Pangkalpinang (2 personel) dan Danamon Simpan Pinjam Unit Pangkal Pinang (1 personel).

Bantuan tersebut merupakan program CSR dari BSP untuk anggota satpam. Para korban banjir pun menerimanya dengan senang karena di tengah musibah masih ada perhatian dari perusahaan  yang diwujudkan dalam program CSR.

Banjir Pangakalpinang terjadi 30 tahun Lalu

Banjir yang terjadi di Pangkal Pinang tahun ini bukan yang pertama kalinya. Menurut pengamat sejarah dan budayawan Provinsi Bangka Belitung (Babel) Akhmad Elvian menceritakan sekitar 30 tahun lalu, tepatnya tahun 1986 terjadi banjir besar di Kota Pangkalpinang.

Elvian mengatakan pangkalpinang merupakan kota yang berbentuk cekungan. Hal ini lah yang menyebabkan ibukota Provinsi Babel ini mudah terendam air.

“Banjir seperti ini sudah pernah terjadi pada minggu kedua bulan Januari 1986, waktu itu karena curah hujan yang tinggi kemudian ditambah pasang naik air laut, sehingga bagian kota terendam. Kota ini berbentuk cekung, 75 desimeter dibawah permukaan laut,” ujarnya.

Banjir yang terjadi tahun 1986 itu merendam sepertiga kawasan Kota Pangkalpinang. Wilayah yang terendam meliputi cekungan antara Alun-alun Taman Merdeka (ATM), ke tanjakan simpang empat Jalan Masjid Jamik, beserta kawasan timur dan baratnya, kelurahan bintang dalam, daerah aliran sungai linggarjati, kiri kanan lembawai, trem seberang, sebagian pasir putih dan parit lalang. Wilayah ini berada di kecamatan taman sari, Rangkui, dan Pangkalbalam, daerah ini mendapati limpahan air bah ditaksir 6 hingga 7 juta meter kubik.

Banjir ini terjadi lagi di Kota Pangkalpinang pada tahun 2016. Penyebabnya pun hampir sama yaitu dikarenakan pasangnya air laut. Menurutnya, air di yang mengalir dari kota tertahan oleh air laut sehingga air tidak bisa keluar. Banjir akan usai jika air laut tidak pasang dan hujan tidak turun. “Kalau hujan turun dan air pasang tetap banjir,” ujarnya.

Banjir dan genangan air ini merupakan masalah klasik di kota pangkalpinang karena disebakan dari segi morfologinya berbentuk cekung dengan dengan pusat kota lebih rendah. [FR]