Bravo Satria Perkasa
18 Jun 2020

Sistem Keamanan Gedung di Era New Normal

KSATRIA | Jakarta–Penerapan sistem keamanan akan mengalami pola baru di era new normal. Terutama sistem keamanan gedung, seperti perumahan, apartemen, perkantoran, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat umum lainnya.

Merebaknya wabah Corona atau Covid-19 , menuntut setiap orang menerapkan standar lebih tinggi pada kesehatannya, agar terhindar dari penyakit menular tersebut. Demikian halnya pengelola bangunan, harus mulai menerapkan sistem keamanan gedung dengan cara baru. Peralatan dan teknologi baru harus bisa diaplikasikan segera, di era new normal.

Dalam sebuah E-Talkshow bertema “The New Normal for Building Security”, Sylvia Lionggosari, Business Unit Director PT Datascrip mengatakan, perkembangan teknologi keamanan mempermudah penerapan standar keamanan baru terkait dengan adanya wabah Covid-19.
“Contohnya seperti pemeriksaan suhu di lobi gedung dapat dilakukan dengan mudah dan cepat dengan teknologi thermal detection,” ujarnya, Selasa (16/6/2020).

Sylvia menambahkan pengunjung juga tetap bisa merasa aman dan nyaman dengan adanya penerapan teknologi touchless. “Mereka tidak perlu menyentuh langsung saat akan membuka pintu atau melakukan pembayaran,” jelasnya.

Sylvia berharap, melalui kegiatan E-talkshow tersebut, para pengelola gedung menjadi tahu bagaimana menerapkan standar keamanan baru untuk mencegah penularan Covid-19. Termasuk juga dengan para pengguna gedung untuk memahami perubahan-perubahan yang terjadi serta mengetahui standar keamanan kesehatan yang dibutuhkan.
“Bagi pemilik gedung penerapan sistem keamanan yang baru ini menjadi sebuah peluang untuk meningkatkan layanan sehingga lebih kompetitif,” sebutnya.

Menurut Ivan Sie, ICT & IoT Specialist Consultant, sistem keamanan gedung yang baru dengan penerapan protokol kesehatan dimulai dari pintu masuk. Seperti mewajibkan penggunaan masker, deteksi suhu dengan termometer infra merah atau thermal CCTV camera, hingga penyediaan hand sanitizer. Begitu juga pengaturan physical distancing, jadwal kebersihan dan disinfeksi secara berkala.

“Pencegahan penyebaran Covid-19 ini salah satunya yaitu mencegah adanya sentuhan atau touchless. Saat ini, teknologi tanpa sentuhan dapat diterapkan mulai dari lingkungan tempat tinggal, gedung perkantoran hingga tempat umum seperti pusat perbelanjaan/mal,” sambung Ivan Sie.

Menurut Chandra Wirapati, Security & Risk Specialist Consultant , setiap orang dituntut untuk beradaptasi dengan cara kerja yang baru, dengan tata cara dan tata krama yang baru dan segala kenormalan yang baru.

Perencanaan keamanan tidak boleh mengabaikan bahwa dalam proses adaptasi ini bisa saja muncul ancaman-ancaman dan kerentanan-kerentanan baru yang bisa menimbulkan resiko-resiko yang belum ada sebelumnya.

“Kebutuhan akan ruang yang lebih besar karena protokol physical distancing jelas menjadi tantangan baru dalam perencanaan keamanan karena harus mempertimbangkan penambahan ruang atau pengurangan kepadatan,” ujarnya.[Adm]

21 Jul 2019

Mendesain Sistem Keamanan Gedung Perkantoran

KSATRIA| Ketersediaan ruang kantor di Jakarta makin tahun makin banyak jumlahnya. Tingkat okupasi terus mengalami penurunan. Tingkat persaingan antar gedung makin kompetitif. Masing-masing pengelola gedung menetapkan strategi untuk menarik perhatian penyewa. Mulai dari pemberian harga sewa miring, fasilitas lengkap hingga jaminan keamanan yang baik.

Khusus untuk bagian yang terakhir sering kali dilupakan, padahal jaminan keamanan gedung sama artinya dengan jaminan ketenangan saat bekerja dan meninggalkan aset di kantor. Untuk itu Robert Thomas, Direktur Keamanan Harbor East Management Group, LLC yang berada di Baltimore, Maryland, AS seperti yang diunggah oleh sewakantorcbd.com pernah memberikan sejumlah tips bagaimana menciptakan sistem keamanan gedung yang baik.

Berikut sistem keamanan yang diterapkan oleh perusahaan di luar negeri, yang juga menjadi standard international di gedung perkantoran Jakarta. Mari simak ulasannya!

  1. Buat perencanaan program keamanan gedung

Setiap gedung perkantoran harus memiliki perencanaan program keamanan. Yang menjadi hal utama dalam perencanaan program keamanan adalah segala sesuatu yang menjadi prioritas penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas keamanan di dalam gedung.

Bila masalah keamanan yang menjadi prioritas utamanya adalah sumber daya manusia maka yang harus mendapat perhatian adalah jumlah dan kualitas tenaga keamanannya. Kemudian untuk di beberapa titik didukung oleh alat teknologi sebagai bantuan. Walaupun memang hal ini sangat tergantung dari dana yang tersedia.

  1. Tetapkan dari mana sumber daya manusia berasal

Setiap pengelola gedung perlu dipertimbangkan dari mana sumber tenaga keamanan didapatkan. Apakah diperlukan untuk menyewa tenaga kontrak seperti outsourcing ataukah merekrut karyawan sendiri? Masing-masing memiliki sisi kelebihan dan kekurangan sendiri.

Bila merekrut karyawan secara swadaya akan diperlukan tenaga ekstra untuk melatih dan mendidiknya. Belum lagi bila ada masalah yang berurusan dengan ijin, cuti dan lain sebagainya.

Namun bila memutuskan bekerja sama dengan perusahaan penyedia tenaga kerja untuk keamanan, perlu diperhatikan apakah ada jaminan bahwa tenaga keamanan yang kita inginkan dapat memberikan loyalitas optimal terhadap kondisi keamanan yang kita harapkan atau tidak.

  1. Menetapkan tugas dan tanggung jawab seorang petugas keamanan

Baik itu karyawan sendiri ataupun tenaga outsourcing, yang perlu diperhatikan adalah apa saja yang menjadi tugas dan tanggung jawab. Pastikan bahwa tanggung jawab dan tugas setiap petugas keamanan tidak melebihi apa yang mampu dilakukan. Misalnya Anda memaksakan seorang petugas keamanan berjaga selama 24 jam tanpa ada pergantian.

Perhatikan pula, bagaimana cara mengenali seorang petugas keamanan. Apakah seragam yang dipakainya sudah mematuhi aturan atau belum?

Apa saja peralatan yang wajib menjadi dikenakannya selagi bertugas. Misalnya perlukah tongkat, pluit, atau semacam senjata guna melindungi diri dan aset perusahaan. Termasuk juga melindungi pegawai perusahaan lain.

  1. Menetapkan tugas jaga

Perlu diperhatikan pula terhadap reaksi seorang petugas keamanan dalam menginspeksi ruangan kantor dan sekitarnya. Apakah telah ditetapkan aturan jaga keliling ataukah ada jam-jam tertentu dimana seorang petugas keamanan wajib mengisi data dan menandatangani formulir khusus saat memasuki area wilayah tertentu.

Tugas jaga tiap petugas keamanan harus dibuat secara bergantian. Jangan sampai melebihi batas kemampuan petugas keamanan. Pergantian jaga antar petugas juga harus ditetapkan secara ketat.

  1. Akses keluar masuk ke dalam kantor

Demi menjamin tingkat keamanan yang tinggi diperlukan adanya satu peraturan untuk menentukan jalan keluar masuknya setiap karyawan atau pengunjung. Jangan sampai gedung perkantoran memiliki banyak akses masuk. Jika hal demikian terjadi, bisa dipastikan tingkat keamanan kantor sangat buruk.

Mendesain pintu dengan tingkat keamanan yang tinggi diperlukan cara tersendiri. Apakah pintu keluar masuk hanya menggunakan satu arah atau bisa bolak balik.

Bagaimana dengan desain pintu? Apakah pintu besar dengan kunci ditengah atau menggunakan pintu besar yang berputar seperti di gedung pada umumnya? Yang jelas, model dan desain pintu juga jadi poin penting dalam keamanan gedung.

  1. Peraturan terhadap tamu kantor

Setiap tamu yang hendak memasuki ruangan kantor perlu diperhatikan dengan seksama. Bagaimana cara pengaturan yang sesuai terhadap tamu.

Apakah perlu dilakukan secara aturan yang baku ataukah cukup dengan lisan saja. Ini semua tergantung dari tingkat keamanan di luar lingkungan kantor, lalu kemudian ditetapkan dan dibakukan dengan aturan kantor.

Bila dirasa memang diperlukan, maka akses setiap tamupun perlu dibatasi. Apakah diperlukan adanya penahanan kartu identitas selama berada dalam kantor. Apakah perlu petugas keamanan mendampingi tamu yang diberi akses masuk ruangan atau tidak. Semua tergantung dengan kebijakan dan lingkungan kantor.

  1. Fungsi lift dan tangga

Lift dan tangga merupakan jalan masuknya seseorang menuju ruangan di lantai yang lain. Apakah semua orang mempunyai akses ke setiap lantai? Apakah ada peraturan yang tertulis bahwa tidak semua orang bahkan karyawan sekalipun boleh memasuki sebuah lantai yang diberi tanda private?

 

Terkadang masalah timbul apabila peraturan tidak atau belum tertulis dengan jelas. Sehingga tidak mustahil apabila timbul kesalahpahaman di kemudian hari. Alangkah baiknya bila semua penyewa kantor mengetahui bagaimana aturan kantor ditetapkan.

  1. Pintu dalam ruangan kantor

Bahkan untuk sebuah kantor yang sudah diberi label aman sekalipun, semua pintu keluar masuk belum tentu benar-benar aman.

Perhatikan akses keluar ruangan, apakah diperlukan sebuah cara khusus untuk menutup pintu. Terkadang karyawan agak sedikit terburu-buru sehingga pintu tidak tertutup dengan sempurna.

Perhatikan potensi kerawanan apabila hal itu terjadi. Akan lebih baik setiap petugas keamanan memastikan semua pintu tertutup dengan benar setelah semua pegawai kantor meninggalkan gedung.

  1. Akses lahan parkir

Keamanan tidak hanya meliputi ruangan dalam saja. Lahan parkirpun perlu mendapat perhatian yang sama besarnya.

Perlu diperhatikan berapa kapasitas kendaraan yang dapat tertampung. Lalu apakah ada lahan yang berbeda antara motor dan mobil?

Sebagai faktor terpenting dalam kenyamanan penyewa gedung, sistem pendataan kendaraan yang memasuki wilayah kantor. juga harus terorganisir dengan baik. Terapkan sistem mengindentifikasi pengemudi yang membawa kendaraan masuk dan pengemudi yang membawa kendaraan keluar.

Akhirnya, apa yang paparkan oleh Robert Thomas di atas sebenarnya hanyalah hal mendasar yang seharusnya ada pada setiap kantor. Anda bisa menambahkannya sendiri misalnya dengan memasang CCTV dan lain sebagainya. Namun setidaknya sistem keamanan gedung kantor yang sangat mendasar ini sudah sepatutnya diterapkan oleh setiap gedung di Jakarta, agar tingkat keamanan tak perlu diragukan lagi. []

Translate »
error: Content is protected !!