KSATRIA| Yogjakarta–Pertemuan dua tahunan di bidang keamanan yang digagas SKK Migas, Security Summit ke-3 tahun 2018 diadakan di Hotel Tentrem 17-19 Oktober 2018. 500 peserta dari dalam dan luar negeri hadir membahas tema utama bertajuk New Paradigm Integrating Security Resilience Into Business Excellence.

Ketua Panitia Pelaksana 2018 Security Summit, Putra Jaya mengatakan rangkaian kegiatan ini merupakan ketiga kalinya dilaksanakan di mana saat ini Yogyakarta menjadi tuan rumah. Selama tiga hari para peserta membahas berbagai hal tentang keamanan khususnya di bidang energi yang menjadi sektor paling strategis saat ini.

“Ini Security Summit ketiga di mana tahun 2014 lalu diselenggarakan di Bali, kedua 2016 di Solo dan tahun ini di Yogyakarta. Tema yang kita angkat kali ini New Paradigm Integrating Security Resilience Into Business Excellence, dilaksanakan tiga hari dan menghadirkan pembicara berkompeten dari berbagai bidang,” ungkapnya, Rabu (17/10/2018) .

Pembahasan tema tersebut menurut Putra Jaya menjadi penting lantaran saat ini keberlangsungan bisnis khususnya migas dan sumber daya di dalamnya memerlukan pengamanan ekstra demi terjaminnya kesuksesan. “Kepekaan terhadap semua potensi ancaman serta kemampuan menjalankan strategi manajemen pengamanan yang baik merupakan hal penting dan inilah yang akan kita bahas selama tiga hari kedepan,” tandasnya.

Berbagai narasumber dihadirkan dalam agenda tiga hari tersebut diantaranya dari pelaku manajemen keamanan kelas dunia, akademisi, praktisi juga menggandeng Asosiasi Sekuriti Industri Hulu Migas (ASIM). “Harapan kami komunikasi dan kolaborasi pemangku kepentingan meliputi pemerintah, otoritas pengamanan dan masyarakat bisa sejalan menerapkan konsep pengamanan strategis untuk menyikapi dinamika ancaman, tantangan dan gangguan saat ini dan kedepan,” lanjut dia.

Sementara Arcandra Tahar, Wakil Menteri ESDM yang membuka acara tersebut mengatakan bahwa saat ini Indonesia menghadapi tantangan di mana predikat aman dalam bidang energi tak bisa berdiri sendir, butuh komponen-komponen lain penunjang. Dikatakan Arcandra tahun 70-an lalu, Indonesia mampu memproduksi petroleum oil dengan jarak waktu hanya lima tahun, sementara saat ini mundur menjadi sepuluh tahun.

Hal tersebut menurut dia masih layak diperdebatkan lebih lanjut dari sisi teknologi, Sumber Daya Manusia (SDM) ataupun sistem birokrasi. Acrandra berharap, melalui pertemuan tiga hari ini seluruh stakeholder bisa membahas secara menyeluruh masalah yang dialami, termasuk dorongan sinergi TNI-Polri agar Indonesia bisa memaksimalkan pengelolaan energi tersebut.

“Negara kita, minyak kita hanya 0,2 persen dari seluruh cadangan dunia dan gas 1,5 persen dari cadangan seluruh dunia, itupun pengelolaannya belum maksimal sampai saat ini menurut saya. Produksi petroleum oil kita 10 tahun padahal dunia hanya 5 tahun dan tahun 70-an kita juga pernah jangkanya 5 tahun mulai dari discovery hingga tetes oil. Harapannya acara ini bisa berdampak nyata sehingga permasalahan yang dialami ini tak terjadi lagi kedepan dan pengelolaan migas kita bisa maksimal,” tandasnya.[froj]