KSATRIA | Batam–Beberapa kali Asosiasi Profesi Satpam Indonesia (APSI) mendapatkan undangan dari asosiasi pengamanan yang ada di Malaysia bernama Persatuan Perkhidmatan Keselamatan Malaysia (PPKM).

Ketua APSI Kepulauan Riau Daeng Syafar yang pernah menghadiri dua kali acara PPKM di Malaysia mengatakan, profesi satpam ada di semua negara, dengan berbagai penyebutan dengan standar dan regulasi yang berbeda-beda di setiap negara.

“Malaysia sebagai negara serumpun juga mempunyai satuan pengamanan swasta seperti halnya kita. Mereka tergabung dalam Persatuan Perkhidmatan Keselamatan Malaysia,” ungkapnya kepada Jurnal Security, Minggu (10/05).

Syafar menyebutkan bahwa pendidikan security yang ada di Malaysia lebih singkat dibanding di Indonesia. “Lama pendidikan satpam di sana hanya seminggu dan pendidikannya hanya di laksanakan oleh Polisi Diraja Malaysia, perusahaan jasa pengamanan tidak bisa membuat pendidikan,” ujarnya.

Malaysia juga sangat ketat dalam pemilihan personil untuk menjadi security, pasalnya hanya warga negara Malaysia dan Warga Negara Nepal yang bisa mengisi pekerjaan ini. Bukan tanpa alasan, mengapa orang Gurkha Nepal yang dipilih  karena mereka dikenal pemberani dan disiplin sejak Perang Dunia ke-2.

Syafar menejelaskan, dengan pendidikan selama seminggu dan hanya oleh Polisi Malaysia maka hampir dipastikan tidak ada security abal-abal. “Jika ada perusaahan yang memakai security bodong maka perusahaan dan personil akan dikenakan denda tanpa pandang bulu akan terkena sanksi denda. Itu mungkin yang perlu kita contoh,” jelasnya.

Daeng Syafar kiri bersama pengurus PPKM Malaysia

Soal gaji security dengan satpam di Indonesia tidak jauh beda sekitar RM 1.500 atau sekitar Rp.5 juta. “Jangan bandingkan dengan Singapura yang gajinya sekitar Rp.25 juta per bulan untuk setingkat anggota,” paparnya.

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi tantangan bagi BUJP dan satpam di Indonesia untuk bisa bersaing dengan security negara-negara Asean, karena ke depan bisa saja perusahaan asing akan menggunakan jasa pengamanan dari negaranya masing-masing. “Jangan sampai satpam kita kalah bersaing, nanti malah satpam Filipina atau Thailand yang masuk Indonesia,” tegasnya. [Adm]