Bravo Satria Perkasa
24 May 2016

Abu Rumakat, Inspirasi Dari Satpam Terbaik Se-Papua

 

 

Dedikasi dalam menjalankan tugas, akhirnya menuai hasil. Ketika Bank Papua menyeleksi para satpam yang memiliki kualitas dalam menjalankan tugas. Abu Rumakat, namanya terangkat sebagai Satpam terbaik dari Bank Papua. Berikut kisahnya.

KSATRIA–Abu Rumakat sedikit dari sekian banyak satpam yang berhasil mengharumkan nama PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) di wilayah Indonesia bagian timur tersebut, anggota satpam yang selalu tampil rapi ini meraih penghargaan sebagai satpam terbaik se Papua dari Bank Papua.  Acara penganugrahan satpam berprestasi ini berlangsung di Lapangan Gor Cendrawasih Jayapura Papua pada 12 Januari 2016 lalu.

Dihadapan sejumlah tokoh dan lembaga yang menyelenggarakan penganugrahan security berprestasi, Rumakat dianugrahi sebagai satpam terbaik tahun ini. Di atas panggung, Rumakat tak bisa menyembunyikan kegembiraannya meraih hadiah dan sertifikat dari para penyelenggara. “Saya bersyukur bisa mengharumkan nama Bravo yang mendidik dan membina selama ini,” tutur pria berbadan tegap ini.

Penghargaan ini diberikan dengan berbagai petimbangan. Rumakat mengaku, untuk memperoleh penghargaan itu, banyak syarat yang harus dipenuhi dan melewati seperti ujian dan seleksi ketat. Setidaknya, integritas penilaian ini juga dapat dipertanggung jawabkan karena melibatkan tim khusus dari Kepolisian Daerah (Polda) Papua serta Badan Usaha Jasa Pengamanan se-Papua.

Proses penilaian ini berlangsung selama satu tahun. Dewan juri menilai berdasarkan penampilan fisik, kedisiplinan dan pelayanan. Penilaian yang dilakukan secara tertutup ini juga tidak diketahui oleh anggota security. “Penilaian tersebut sangat ketat dan tertutup tanpa diketahui kita,” paparnya.

Dalam seleksi tersebut, Rumakat berhasil menyisihkan peserta dari seluruh anggota security yang berada di wilayah Papua. “Ini penghargaan dan prestasi yang pertama kalinya,” papar Rumakat dengan penuh bangga.

Secara umum, keberhasilan Rumakat juga berkat kerjakeras, serta arahan dan bimbingan dari chief di Bravo Satria Perkasa. Menurutnya, keberhasilannya ini bisa menjadi inspirasi bagi anggota security yang lain. Terutama dalam hal kedisiplinan, kerapian, penampilan, pelayanan dan loyalitas kepada perusahaan.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak ini bekerja sehari-hari hanya  untuk perusahaan tempatnya bekerja. Ia tidak pernah berpikir bahwa apa yang dikerjakan sehari-hari ini bisa mengantarkannya terpilih sebagai security terbaik se-Papua. Dengan penghargaan itu Rumakat semakin termotifasi untuk lebih giat bekerja. “Iya saya lebih giat bekerja,” paparnya.

Rumakat tergabung dalam anggota satpam yang berkantor pusat di Jakarta ini sejak tanggal 3 Agustus 2011 – 3 Agustus 2013. Pada tahun 2015, posisinya berubah dari anggota menjadi Danru (Komndan Regu). Setiap hari, Rumakat bersiap menghadapi tantangan dan kendala dalam tugasnya. Misalnya ketika ada anggota yang tidak hadir dalam bertugas karena ijin. Tanpa berkeluh kesah Rumakat mengisi pos-pos yang kosong. “Sebagai Danru saya harus bertanggung jawab mengisi pos sambil mengontrol anggota di pos-pos yang lainnya,” tuturnya.

Menurutnya,  semua anggota memiliki tanggung jawab yang sama karena tugas tersebut menjadi tanggung jawab satu tim. Soal kedisiplinan, kelancaran bertugas dan jenjang karir semua tergantung dari pribadi masing-masing.

Pria kelahiran Garogos , 14 September 1982 ini menjalankan tugas pengamanan segabaimana tugas itu diamanahkan kepada security sebagai mitra polisi agar lebih maksimal mengemban tugas sebagai pamswakarsa. Agar tugas ini lebih maksimal, menurutnya harus ada aturan dari BUJP terhadap anggota security. Kedua, lebih sering mengadakan pelatihan dasar dan pelatihan pelayanan kepada anggota sekuriti sehingga selalu siap menghadapi situasi di lapangan.

Suami dari Fatmi Rupo ini menyadari pentingnya pendidikan dan pembinaan bagi seorang satpam. Dalam hal ini ia pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan Gada Pratama pada Tahun 2014. Hasilnya, dirinya tidak hanya memiliki wawasan yang meningkat tapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. “Semangat kita bekerja keras dan bekerja ikhlas,” ujar pria yang memiliki moto hidup bekerja dan bekerja ini. [AM]

15 May 2016

Jeni, Tetap Tenang Saat Pendemo Marah

Menghadapi pendemo adalah tugas yang kerap ia jalani selama menjadi anggota Satpam. Namun ia menikmati pekerjaan itu sebab tugas bagian dari sebuah tanggungjawab.

KSATRIA–Jeni Kurnia kelahiran Tasikmalaya, 3 November 1984 ini menjadi anggota sekuriti tahun 2002, namun baru bergabung sebagai anggota satuan pengamanan di PT Bravo Satria Perkasa (BSP) pada tahun 2008. Sebagai seorang sekuriti ia memahami tugas pokoknya adalah menyelenggarakan pengamanan terhadap harta benda serta jiwa di ruang lingkup wilayahnya.

Tasikmalayan dulunya dikenal sebagai kota santri, namun sekarang lebih dikenal sebagai kota LSM. Hal ini membuat Jeni kerap menghadapi masa dari LSM yang melakukan aksi pengerusakan di kantor FIF Tasikmalaya. Kejadianya pada tahun 2013 silam, dimana kontor FIF Tasimkalaya pernah didatangi sekitar 200 orang. Masa demo ini awalnya datang dengan konvoi mengendarai sepeda motor sambil berteriak-teriak dan membunyikan suara motornya.

Sesampainya di depan kantor masa langsung menyerbu dan merusak harta benda, tanaman dan motor milik nasabah yang sedang melakukan pembayaran. Mereka beralasan selama ini telah menjadi korban kebijakan FIF dan tidak senang dengan keberadaan perusahaan leasing di Tasikmalaya. Jeni yang bertugas saat itu berusaha menenangkan diri jangan sampai terpancing emosi.  Secara jumlah, anggota sekuriti FIF lebih sedikit dibanding masa yang berdemo.

Untuk mencegah aksi kekerasan, upaya preventif dan preentif pun dilakukan mulai dari berkoordinasi dengan seluruh anggota sekuriti yang berjaga dan meminta bantuan yang berwajib. Selain ada yang menemui pendemo juga harus ada sekuriti yang masuk ke kantor untuk mengamankan jiwa dan harta benda serta menjamin dan mengendalikan keamanan di dalam. “Usahakan mengendalikan dengan 5 S yaitu senyum, salam, sapa, sopan, santun,” ujar bapak satu anak ini.

Menurut Jeni, ketika menghadapi masa demo, satpam harus bisa menyambutnya dengan senyuman lalu menyampaikan salam dan kalau bisa berjabat tangan. Kemudian menyimak dan memperhatikan apa yang disampaikan lalu mempelajari akar persoalannya.

“Dalam melontarkan pertanyaan, anggota satpam harus benar-benar teliti jangan sampai menyinggung perasaan mereka,” paparnya.

Ketika situasi sudah mereda, satpam bisa meminta perwakilan dua orang yaitu orang yang bersangkutan langsung dan aktor intelektualnya. Mereka bisa diarahkan ke pihak yang tepat dengan pengawalan efektif yaitu  mengambil posisi berdiri di antara FIF dan pihak penuntut bukan di belakangnya. “Hal ini untuk mengantisipasi adanya pergerakan agresif dari pendemo,” paparnya.

Ketika masa terus memaksa masuk sementara tidak ada surat izin, sekuriti harus berkordinasi dengan pihak berwajib. Bahasa yang disampaikan misalnya “Mohon izin komandan, sekuriti FIF melaporkan bahwa saat ini ada kejadian masa mendatangi kantor FIF. Sebagai antisipasi mohon patroli ke sini,” ujarnya.

Dengan penanganan dan koordinasi yang tepat, sekuriti bisa mengendalikan pengamanan dalam situasai apapun. Disini sekuriti tidak hanya berperan sebagai  penyelenggara pengamanan terhadap harta benda serta jiwa di ruang lingkup wilayahnya, tapi juga sebagai mediator yang baik antara masa dan perusahaan.

Jeni sadar bahwa bekerja di bidang pengamanan tidak luput dari tindak kekerasan secara fisik. Oleh karena itu usaha pengamanan ini tidak luput dari doa dan ilmu beladiri yang diperlukan untuk melancarkan tugas di lapangan. Kemampuan ini sering membantu Jeni ketika mengalami penyerangan ketika sedang jaga malam, ada masa berboncengan motor mendatangi kantor FIF menanyakan data nasabah. “Terjadilah pemukulan dengan benda tumpul namun tidak ada sedikit pun yang melukai tubuh saya,” paparnya.

Ia memang dari keluarga penerus padepokan Cimande dan Cikalong Tasikmalaya. Menurutnya, tugas pokok sekuriti adalah menyelenggarakan pengamanan terhadap harta benda serta jiwa di lingkungan kerja atau ruang lingkup tugasnya. Tergantung sekuriti ini ditempatkan di mana. “Maka teori dan pengalaman harus dipadukan menjadi bentuk pengamanan yang  memadai,” tandasnya. [AM]

02 May 2016

Acep Tarmaya Jaya Raih Penghargaan The Best Excellent 2015 

Berusaha bekerja sesuai dengan SOP, Buahnya mendapatkan penghargaan sebagai The Best Excellent 2015 dari MayBank.

KSATRIA (BSP)–Prestasi bisa diraih siapa saja, termasuk anggota sekuriti yang menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Salah satu anggota sekuriti Bravo Satria Perkasa (BSP) yang menunjukkan prestasinya di bidang pengamanan adalah Acep Tarmaya Jaya, sekuriti yang bertugas di MayBank Bandung mendapatkan penghargaan sebagai The Best Excellent 2015.

Sejak meraih prestasi itu, foto Acep terpampang di sudut dinding Kantor Cabang Maybank Bandung. Nasabah pun banyak yang mengucapkan selamat atas prestasinya. Dengan perhargaan itu Acep mengaku lebih percaya diri melaksanakan tugas sebagai sekuriti. “Itu semua berkat arahan dan bimbingan para komandan dan tim,” paparnya.

Pria kelahiran Bandung, 29 Oktober 1985 ini bergabung di BSP sejak tanggal 1 April 2010. Acep bertugas di kantor cabang Maybank Bandung yang menerapkan sistem pengamanan 24 jam. Selama di BSP, ia merasakan ada peningkatan dalam kedisiplinan. Dalam praktik sehari-hari, Acep melayani nasabah bank dengan senyum dan mengarahkan sesuai kebutuhan yang diinginkan para nasabah.

Dokumentasi BSP
Dokumentasi BSP

foto bndg3

Misalnya dalam transaksi atau pelayanan di CS, ketika menghadapi complain dari customer bisa disikapi dengan positif demi pelayanan yang lebih baik. “Kita kembali kepada SOP dan semangat memberikan pelayanan terbaik,” paparnya.

Acep berkeyakinan jika bekerja dijalankan dengan sepenuh hati, ikhlas dan bertanggung jawab, persoalan di lapangan dapat diselesaikan dengan baik. Tugas yang dilaksanakan sesuai SOP ini pun berbuah prestasi yang dinilai dari kedisiplinan dan service excellent. Melalui ajang ini Acep mampu menyisihkan kandiat lain dari beberapa Area seperti Bandung 1 dan Bandung 2, Tasikmalaya dan Cirebon.

Acep berharap penghargaan ini menjadi inspirasi bagi anggota sekuriti lainnya untuk meningkatkan pelayanan dan melaksanakan tugas di lingkungan kerjanya. Menurutnya, seluruh anggota sekuriti BSP berpeluang meraih prestasi selama menjalankan tugas sesuai aturan yang ada.

Dari beberapa pengalamannya, BSP merupakan Badan Usaha Jasa Pengamanan yang memiliki keunggulan baik dari segi administrasi, pembinaan sekuriti, dan nilai budaya kerja yang ditanamkan kepada sekuriti. Keunggulan ini menjadi pendukung keberhasilan anggota sekuriti dimana saja dalam menghadapi ancaman dan tantangan.

Sebelumnya, Acep pernah mendapatkan perhargaan sebagai sekuriti terbaik dilihat dari kinerja terutama service excellent untuk area Bandung pada tahun 2012. Penghargaan ini melengkapi karirnya yang sempat menjadi sekuriti di PT Inti Bumi Perkasa dari tahun 2004 – 2006 dan di ISS tahun 2007. Tugas seorang satpam bukan hanya menjaga tempatnya bekerja, namun ikut mewaspadai potensi gangguan keamanan di sekitar lingkungan kerjanya.

“Satpam harus mahir dan profesional mengidentifikasi adanya ancaman kejahatan, sehingga dapat ikut serta mencegah gangguan di lingkungan sekitar tempatnya bekerja,” paparnya. [AM]

01 May 2016

Aksi Sutarjo Wiroguno Duel Gagalkan Pembobol Bank

INI memang bukan adegan laga film Hollywood tapi kenyataan yang harus dihadapi Sutarjo Wiroguno untuk menjaga nama baik PT Bra­vo Satria Perkasa (BSP) patut diacun­gi jempol. Sebagai Badan Usaha Jasa Pengamanan yang memiliki reputasi cukup baik di mata klien, Sutarjo ter­panggil siap menghadapi segala resiko di lapangan termasuk ancaman pem­bunuhan. Prinsip ini selaras dengan azas tangung jawab yang merupakan salah satu pilar delapan prilaku BSP.

KSATRIA (BSP)–Saat itu, tahun 2004, dimana tiga orang melakukan aksi kejahatan peng­gelapan uang nasabah bank sebesar 10 miliyar. Sebenarnya kasus ini sudah di­tangani pihak kepolisian namun pihak bank juga memberikan kesempatan kepada tim BSP untuk ikut mengambil langkah tugas penanganan.

Sore itu, Sutarjo yang tengah berja­ga di Kuningan Jakarta Selatan men­dapat komando dari pimpinan BSP untuk meluncur ke salah satu cabang bank swasta didampingi seorang poli­si. Di lantai 3, target melakukan tran­saksi melalui internet di dampingi tiga pengawal. Ketika mereka turun, Su­tarjo langsung menyergapnya sehing­ga terjadi keributan diantara mereka . Pelaku ternyata melawan dengan ilmu hipnotis sehingga Sutarjo tidak sem­pat melawan.

Sukarjo menjadi guru Taekwondo
Sukarjo menjadi guru Taekwondo

Sutarjo baru sadar ternyata ia da­lam pengaruh hipnotis setelah anggo­ta polisi mendorongnya sambil men­gejar pelaku yang keluar gedung dan naik taksi ke arah Kuningan. Polisi pun menghentikan pengejaran karena belum ada bukti kejahatanya. Tak ingin kehilangan tergetnya, Sutarjo langsung naik ojek. “Akhirnya saya ijin ke poli­si untuk mengejar karena ini perintah dari atasan saya,” tuturnya.

Aksi kejar-kejaran pun terjadi mulai dari jalan Mega Kuningan, Ja­lan Gatot Subroto, depan kantor Pol­da Metro Jaya hingga Grogol Jakarta Barat. Karena jalanan macet, Sutarjo sempat memepet taksi agar menepi tapi pelaku mengacungkan senjata api dari dalam mobil sambil mengan­cam dengan kata-kata kotor. “Kamu cari mati! Saya bedil kamu!” tuturnya.

Aksi kejar-kejaran ini sempat menyita perhatian pengguna jalan lainnya. Sampai di Tanjung Duren, pengawal target turun dan terjadilah perkelahian. Sutarjo sempat di pukul beberapa kali oleh pelaku berpostur tinggi. Sutarjo pun sempat membala­snya dengan tendangan hingga pela­ku tersungkur di jalan. Untuk mengu­rangi korban, Sutarjo meminta tukang ojeknya menjauh dari lokasi. “Ini uru­sannya nyawa, dia tidak ada kaitann­ya apa-apa. Kalau saya mati lapor ke kantor saja,” akunya.

Kejar-kejaran berlangsung hingga pukul 21.00 di dalam perkampungan. Tiba-tiba taksi berbelok ke Polsek Tanjung Duren, ternyata target telah mempengaruhi Polsek setempat. Di pos penjagaan, Sutarjo melapor tiga orang yang masuk ke kantor Polsek itu adalah oknum pembobol uang di bank. Awalnya penjaga tidak percaya tapi mengijinkan Sutarjo mengecek ke dalam. Di dalam, Sutarjo melihat kedua pengawal bersembunyi di ba­lik rolling door sementara yang satun­ya masuk ke ruang polisi.

Ketika sampai di rolling door, pe­laku langsung menyergap Sutarjo dan tidak sempat menghindar. Sutarjo sempat dibawa ke dalam ruangan, di­introgasi dan diminta melepas semua pakainnya. Meskipun sudah menun­jukkan ID card BSP, polisi tetap men­gintrogasinya. Menjelang pukul 01.00, datang anggota polisi dari Polda men­carinya. “Saya ditanya mengapa kamu ditangkap? Saya jawab saya diintroga­si. Setelah dia mengatakan dari Polda, baru saya dilepaskan,” paparnya.

Disitu Sutarjo mendapat apresi­asi karena telah membantu kepoli­sian menangkap penjahat. Dari data kepolisian, ternyata tiga pelaku ini adalah buronan polisi sejak tiga bu­lan. “Orang-orang ini sudah menjadi DPO sejak 3 bulanan, baru tertan­gkap ketika kasus saya hadapi,” ujar pria yang menggeluti ilmu bela diri sejak SMP ini.

Peran Sutarjo menangani ka­sus kejatanan bukan itu saja. Tahun 2005, ia berhasil menggagalkan aksi kejahatan penggandaan kartu ATM salah satu bank swasta klien BSP.

Demikian juga ketika menangani kasus kepala cabang bank yang kabur membawa uang tahun 1998-an. Se­lama sebulan lebih Sutarjo mencari-cari pelakunya hingga tertangkap di Bekasi Timur. Sutarjo juga sempat menjadi korban ketika bertugas men­gawal uang ke bandara saat terjadi kerusuhan 1998. Di tengah aksi masa yang melakukan pembakaran dan sweeping di jalanan, mobil yang di­tumpanginya sempat dibakar masa. “Untungnya brangkas kita lindungi sehingga aman,” paparnya.

Dedikasi dan loyalitas Sutarjo yang besar ini mendapatkan apresia­si dari perusahaan. Kini Sutarjo ber­tanggungjawab atas penguatan fisik personil BSP melalui ilmu dela diri yang ia miliki. “Inilah pengalaman menjadi sekuriti yang penuh tantan­gan,” papar suami dari Srimukti yang dikaruniai dua anak ini. [FR]

01 May 2016

Ade Guna Raih the Best Security Bank Sumsel

Hari itu penampilan Ade Guna lain dari biasanya. Bahkan sesama anggota sekuriti PT Bravo Satria Perkasa (BSP) pun sangat jauh berbeda, karena Ade tidak hanya memakai seragam putih biru tapi juga menggunakan selendang melingkar di pundak dan badannya. Selendang berwarna hitam keemasan itu bertuliskan “The Best Security Cabang Jakabaring.”

KSATRIA (BSP)–Salah satu anggota sekuriti BSP ini baru saja meraih penghargaan sebagai juara kedua pada ajang pemilihan Duta Layanan Bank Sumsel Babel 2015. Malam penghargaan yang berlangsung di Hotel Novotel Sumatra pada 28 November 2015 itu cukup meriah. Selain mendapatkan cinderamata, Ade juga mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp7.500.000 sekaligus voucher trip to Hongkong.

Setiap tahun, Bank Sumsel Babel menggelar ajang pemilihan duta layanan sebagai bentuk apresiasi dan terobosan di bidang pelayanan untuk menjadi bank yang terkemuka dan terpecaya di wilayah tersebut. Ajang pemilihan duta ini bukan hanya di bidang produk tapi juga pelayanan yang melibatkan personil sekuriti di dalamnya. “Alhamdulillah saya bisa bersaing dengan para senior satpam Bank Sumsel dan para kawan dari Tangkas dan Bravo,” ujarnya.

“Alhamdulillah saya bisa bersaing dengan para senior satpam Bank Sumsel dan para kawan dari Tangkas dan Bravo,”

Seperti diketahui bahwa sejak berdiri PT Bravo Satria Perkasa (BSP) concern menangani pengamanan perbankan. Ada sekitar 41 bank di Indonesia yang memakai jasa pengamanan BSP termasuk Bank Sumsel Babel Cabang Jakabaring Palembang. Dengan mengemban tugas sebaik-baiknya, sekuriti BSP tidak hanya memberikan pengamanan tapi juga pelayanan sehingga menjadi nilai tambah peingkatan mutu dan profesionalisme perbankan.

Ade mengatakan bahwa usahanya untuk meraih penghargaan harus melalui proses ketat. Pertama, Ade harus melewati proses seleksi dan menjadi perwakilan satpam Cabang Jakabaring. Setelah lolos Ade mengikuti karantina di hotel dari tanggal 24-28 November 2015 bersama 84 peserta dari 28 Cabang Bank Sumsel Babel yang terdiri dari satpam 28 orang, Customer Service 28 orang dan teller 28 orang.

Pada masa karantina peserta dibekali ilmu pelayanan dan juga penilaian terhadap para peserta untuk menjadi yang terbaik dan berhak mendapatkan predikat sebagai duta layanan Bank Sumsel. Disana peserta akan menjalani berbagai tes yaitu role play, tes tertulis dan tanya jawab, kemudian masuk malam final yang dihadapan jajaran direksi Bank Sumsel Babel dan seluruh karyawan/karyawati dari seluruh cabang. “Alhamdulillah saya bisa melewati tahap demi tahap semua tes yang dijadikan acuan untuk menjadi yang terbaik,” paparnya.

Anggota sekuriti yang mengharumkan nama BSP di Sumatra ini lahir di Desa Campang Tiga Ulu, Cempaka, Kabupaten Oku Timur pada tanggal 02 Juni 1989. Sejak bulan April 2013 ia bergabung di BSP dan ditempatkan di Bank Sumsel Cabang Pembantu Kertapati, Jakabaring. Dalam suasana kerja yang penuh kekeluargaan, Ade mampu bekerja sepenuh hati sehingga mampu menyikapi semua permasalah kerja dengan kepala dingin.

Suami dari Yunita Ardila ini mengawali karir sebagai sekuriti sejak tahun 2009 di pabrik tebu bernama PT Gula Komering. Disana Ade banyak berhadapan dengan masa sehingga jiwa pengamanannya semakin terlatih. Setelah bergabung di BSP, jiwa pengamanannya semakin terasah dengan ilmu dan arahan para pemimpin serta manajemen BSP yang selalu meningkatkan mutu SDM melalui pelatihan. “Sekuriti BSP sangat baik, profesional, disiplin dan berdedikasi tinggi. Saya merasakan bangga menjadi bagiannya di Sumsel,” terangnya.

“Sekuriti BSP sangat baik, profesional, disiplin dan berdedikasi tinggi. Saya merasakan bangga menjadi bagiannya di Sumsel,” terangnya.

Untuk itu, pria yang dikaruniai dua anak ini mengajak semua rekan sekuriti agar selalu mengikuti aturan yang berlaku di tempat kerja dengan kedisiplinan. Belajar dan terus belajar jangan pernah berhenti untuk menimba ilmu kepada yang lebih tinggi dan tidak malu menjalankan pekerjaan sebaik-baiknya. “Cintailah pekerjaan kita karena dengan mencintainya kita akan tahu, untuk siapa kita bekerja,” tandasnya. [FR]

Translate »
error: Content is protected !!