Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) telah bergulir, setiap orang atau perusahaan dituntut bisa menghadapi MEA ini dengan sebaik-baiknya, sehingga produktivitas tetap terjaga dan layanan tetap maksimal. Rakernas BSP 2016 membahas kesiapan BSP di era perdagangan bebas. Berikut laporannya.

KSATRIA–Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah bergulir sejak tahun 2015, perusahaan dituntut lebih mampu mengelola sumber daya manusianya untuk dapat bersaing di era pasar bebas seperti sekarang ini.

Kehadiran MEA mengharuskan perusahaan tidak hanya mampu bersaing di pasar luar negeri tetapi juga harus mampu bersaing di dalam negeri dengan mengandalkan potensi unggulan yang mereka miliki.

Perusahaan dituntut untuk menguatkan sumber daya manusia, selain meningkatkan kualitas layanan, barang dan jasa, terlebih lagi meningkatkan keahliannya agar tidak terdesak dengan SDM dari luar.

Kemampuan adaptasi harus dimiliki oleh setiap orang maupun perusahaan, baik perusahaan sekala kecil ataupun besar. Karena itulah, MEA menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi perusahaan dalam negeri.

Untuk mengatur langkah menghadapi MEA ini, PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) salah satu perusahaan jasa pengamanan terbesar di Indonesia menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada 7-9 Maret 2016 di Kuningan Jawa Barat. Dengan tema “Peningkatan produktivitas untuk persiapan dalam persaingan bisnis terkait Masyarakat Ekonomi Asean”.

Dalam Rakernas ini, hadir para komisaris, direksi, manajemen serta para manajer area untuk melakukan rapat selama tiga hari. Tujuannya adalah untuk menyamakan visi dan misi perusahaan dalam melangkah menghadapi MEA yang sedang berjalan ini.

Direktur Utama PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) Joko PN Utomo sebelum memberikan arahan kepada seluruh peserta Rakernas, membangun semangat dengan cara meneriakkan yel-yel, “BSP, yess…!, BSP, yess…!, BSP, yess…! Bravo, luar biasa!”

Dokumentasi BSP
Dokumentasi BSP

Suasana gedung rapat pun makin diselimuti aura semangat untuk membahas segala persoalan dalam menjalankan BSP selama ini. Sekaligus mengevaluasi untuk mencari solusinya terhadap persoalan yang ada.

Joko menjelaskan, genap setahun tepatnya pada April tahun 2015, BSP menggelar Rakernas 2015 bertema “Memperkuat koordinasi dan komunikasi setiap lini di pusat maupun area untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis baik secara kualitas, kuantitas, serta profitabilitas perusahaan yang signifikan dan terukur”.

Menurut Joko, jika kita melihat, mereview, bahkan mengevaluasi implementasi rumusan rakernas tahun lalu hingga saat ini, secara garis besar hasilnya cukup signifikan, “Saya menilai hasilnya cukup memuaskan tetapi masih belummencapai sasaran yang ingin kita capai,” ujarnya.

Dalam pencapaian kinerja yang kita harapkan, baik di pusat, area maupun sektor kerja, masih terjadi beberapa kendala yang menghambat kinerja kita. Sesungguhnya tema rakernas tahun ini juga masih erat kaitannya dengan Rakernas tahun lalu, yaitu: “Peningkatan produktivitas untuk persiapan dalam persaingan bisnis terkait Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)”.

Joko menjelaskan, tema ini menjadi tujuan pokok penting dalam penyelenggaraan Rakernas kali ini. Artinya, konsentrasi atau penitik-beratan perhatian terhadap produktivitas manajemen di setiap level jabatan atau jajaran dari hulu hingga hilir, adalah merupakan tuntutan yang tidak dapat dilepas-pisahkan lagi sebagai landasan dalam kinerja tata kelola perusahaan kita.

“Dipilihnya tema tersebut, ini menunjukkan realita yang terjadi saat ini bahwa produktivitas manajemen kita harus terus ditingkatkan, lebih dibangun lagi dan bahkan sepatutnya menjadi tolak ukur kinerja dalam menjalankan tugas sehari-hari,” tegasnya.

Semangat budaya etos kerja harus tetap dijiwai dengan semangat dan kerja sama yang solid, saling mendukung, bahu membahu, saling mengisi dan tidak saling meniadakan, semangat “One team, One mission, and One goal” harus terus menjadi acuan dalam menjalankan tugasnya.

Menurut Joko, karena prinsip dasar manajemen adalah penegakan sistem yang harus disepakati bersama dipatuhi bersama, serta dilaksanakan secara konsekuen bersama-sama pula. Dengan demikian maka perusahaan diharapkan dapat terwujud menjadi apa yang disebut sebagai ‘Good Corporate Governance’ yaitu dengan prinsip-prinsip dasar: akuntabilitas; pertanggung-jawaban; keterbukaan; kewajaran; serta kemandirian.

Joko memaparkan di hadapan peserta Rakernas 2016, bahwa dinamika perkembangan ekonomi global akhir-akhir ini memberikan sinyal akan pentingnya peningkatan daya saing, di tingkat regional, Indonesia akan dihadapkan dengan implementasi MEA, MEA akan menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia khususnya PT. Bravo Satria Perkasa dengan transformasi kawasan Asean menjadi pasar tunggal dan basis produksi, sekaligus menjadikan kawasan Asean yang lebih dinamis dan kompetitif.

Pemberlakuan MEA dapat pula dimaknai sebagal harapan akan prospek dan peluang bagi kerja sama ekonomi antarkawasan dalam skala yang lebih luas, melalui integrasi ekonomi regional kawasan Asia Tenggara yang ditandai dengan terjadinya arus bebas (free flow): barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal.

Maka dari itu, sejatinya Bravo Satria Perkasa memiliki peluang untuk memanfaatkan peluang ini dengan meningkatkan skala ekonomi dalam dan luar negeri untuk memperoleh keuntungan, dengan menjadikannya sebagai momentum memacu pertumbuhan produktivitas dan bisnis perusahaan.

Namun sebaliknya, pemberlakuan MEA 2015 dapat menjadikan kita sebagai pecundang belaka, yang ditandai dengan menjadi pasar impor belaka, dan terjebak menjadi negara berpendapatan menengah (middle income trap), produk dalam negeri tak laku di pasaran, kita akan dengan mudah terjebak dalam kemunduran bisnis apabila tanpa persiapan yang matang dari segenap jajaran management dan seluruh lini dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing.

“Maka dengan ini, kita tidak boleh sedikitpun lengah atau terlena dengan keadaan kita sendiri, sedangkan ribuan kompetitor yang sejenis di bidang usaha kita baik dari dalam maupun luar negeri,” tegasnya.

Melihat kenyataan yang ada, maka sudah selayaknya kita memaknai pentingnya peningkatan produktivitas dari seluruh elemen dan jajaran perusahaan, baik di pusat maupun di area. Masih banyak tantangan dan pengembangan yang harus kita selesaikan.

Joko menegaskan, ada dua spirit yang harus tetap menjadi pedoman bersama dalam mencapai keberhasilan di tahun ini. Pertama, sebuah teamwork yang kuat dan solid, adanya satu misi yang sama dan tentu saja capaian sasaran atau target kita yang kita ingat dalam semboyan “One team, One Mission, One Goal”.

Kedua, sebuah karakter kepedulian yang tinggi dan respon yang cepat terhadap segala informasi dan detail pekerjaan yang berlangsung di perusahaan kita maupun klien, yang lebih mudah kita ingat dengan semboyan “Bekerja keras, Bergerak cepat dan Bertindak tepat”.

“Dengan adanya Rakernas 2016 ini, saya berharap dapat membuahkan hasil demi terwujudnya perusahaan yang kokoh dan solid,” harapnya. [fathur]