Bravo Satria Perkasa
20 Nov 2019

HoA BSP Jawa 2 Memotivasi Anggota Satpam di RS Ken Saras

KSATRIA| Ungaran–Sebagai bentuk supervisi terhadap kinerja para anggota satpam, Head of Area PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) Jawa 2 Jawa Tengah & DIY Heru Wibowo, S.Sos.I. MM menggelar kunjungan ke Rumah Sakit Ken Saras Ungaran Jawa Tengah, Senin 19 November 2019.

Menurut Heru, kunjungan ke beberapa klien sudah menjadi rutinitas untuk memantau kesiap-siagaan para personil satpam yang ditugaskan di area kerjanya. “Rumah Sakit Ken Saras adalah salah satu klien kami yang harus kami layani dalam pengamanan rumah sakit,” ungkap lelaki yang juga Ketua Asosiasi Profesi Satpam Indonesia (APSI) Jateng.

Dalam kunjungannya, Heru memberikan motivasi kepada seluruh personil satpam yang akan berjaga dan mengecek kesiapan satpam ketika dalam menghadapi pasien yang membutuhkan pertolongan.

“Kami terus memberikan motivasi kepada anggota, bahwa pekerjaan satpam sangat mulia, banyak membantu menjaga kondisi sekitar aman, terlebih di rumah sakit,” tegasnya.[roj]

 

20 Mar 2019

Head of Area Jawa 2 Jadi Narasumber Seminar Pengelolaan Satpam

KSATRIA| Semarang–Direktur Ditbinmas Polda Jateng Kombes Pol Drs. Budi Utomo, M.H. membuka kegiatan seminar pengelolaan pelatihan satpam tingkat Polda Jawa Tengah di Gedung Rama UTC Semarang, Senin (08/03/2019)

Dalam acara ini di hadiri pula PJU Ditbinmas Polda Jateng, para narasumber dari Pusdik Binmas, Unnes, dan Ketua Asosiasi Profesi Satpam Indonesia (APSI) Jateng Heru Wibowo yang juga Head of Area Jawa 2 PT Bravo Satria Perkasa (BSP).

Kegiatan seminar ini diikuti 150 peserta terdiri dari para Kasat Binmas Jajaran Polda Jawa tengah, Kanit Kamsa jajaran Polda Jawa Tengah, perwakilan pelatihan Instruktur Polda Jateng, dan anggota BUJP.

“Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan manajemen pengelolaan pelatihan satpam dan kompetensi instruktur satpam sehingga bisa mengaplikasikan tugas sebagai instruktur, ” ujar Dirbinmas Polda Jateng. [roj]

18 Dec 2018

117 Satpam BSP Siap Bekerja Usai Gada Pratama

KSATRIA| Blora–Rangkaian pelaksanaan pelatihan Gada Pratama Angkatan ke-52 dan 53 PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) ditutup oleh Wakapolres Blora Kompol Drs Muh Samdani. Gada Pratama ini digelar sejak tanggal 3-14 Desember 2018.

Menurut Head of Area BSP Jawa 2, Heru Wibowo, SsosI, MM kegiatan Gada Pratama ini diikuti oleh 117 satpam. “BSP memiliki komitmen terhadap pengembangan kualitas satpamnya untuk melayani kebutuhan customer,” katanya.

Setelah menjalani pelatihan Gada Pratama, para satpam yang sudah terlatih ini langsung ditempatkan untuk bekerja, diantaranya bekerja di Astra Honda Motor Sragen, Citra Mandiri dan lain sebagainya.

Heru yang juga Ketua Asosiasi Profesi Satpam Indonesia Jawa Tengah ini menghimbau kepada para pengguna satpam untuk memilih perusahaan jasa pengamanan yang memiliki 3L, yaitu legalitas dari mabes Polri, logis dalam penawawaran harga, “Minimal harus sesuai UMK setempat,” katanya.

Sedangkan L berikutnya adalah layanan yang baik dan memiliki struktur organisasi yang handal dan berkualitas.

Karena itu, Heru memiliki slogan bahwa Satpam itu Mulia, Satpam itu Melayani, dan Satpam itu Kebaanggaan. [fro]

17 May 2017

136 Satpam BSP Jawa 2 Ikuti Diksar Gada Pratama

KSATRIA, (BSP)–Satpam merupakan garda terdepan pengamanan di lingkungan industri. Untuk itu, satpam harus memiliki keterampilan yang baik untuk bisa menjaga aset sebuah perusahaan.

Untuk melahirkan satpam yang handal dan profesional, salah satu BUJP nasional PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) wilayah Jawa Tengah menggelar pendidikan dasar Gada Pratama untuk satpam. “Ini bagian dari kepedulian BSP untuk meningkatkan kualitas satpam yang ada,” terang Head of Area BSP Jawa 2, Heru Wibowo, S. sos. I. MM, (16/5).

Menurut lelaki yang juga Ketua Asosiasi Profesi Sekuriti Indonesia (APSI) Jateng ini, pelaksanaan Gada Pratama terselenggara berkat kerjasama antara PT. Bravo Satria Perkasa dengan Binmas Polda Jawa Tengah.

Kegiatan yang dilaksanakan mulai tanggal 5 sampai 25 Mei 2017 ini dibuka langsung oleh Wadir Binmas Polda Jateng AKBP Bambang Murdoko. “Kegiatan Diksar Gada Pratama diikuti oleh 136 anggota satpam,” jelasnya.

Heru menambahkan, kegiatan Diksar ini merupakan bagian dari penerapan dari amanah yang tertuang dalam Peraturan Kapolri Nomor 24 tahun 2007. “Semoga kegiatan Diksar ini bisa membekali para satpam BSP untuk lebih profesional lagi,” katanya. [ROJI]

29 Aug 2016

Employee Gathering BSP Luar Biasa

Heru Wibowo, Head of Area Jawa 2
KSATRIA–Luar biasa, itulah kata yang terucap dari Head of Area Jawa 2, Heru Wibowo menyikapi pelaksanaan Employee Gathering yang digelar di Jawa Tengah beberap hari lalu. Heru merasakan nuansa kekeluargaan yang luar biasa.

Heru mengatakan, belum ada perusahaan jasa pengamanan yang mengadakan acara employee gathering dengan menghadirkan seluruh karyawan dari seluruh Indonesia. PT. Bravo Satria Perkasa (BSP) mampu melakukan itu, Luar Biasa.

Silaturahmi akbar nasional lebih mengakrabkan antar karyawan BSP. Bagi Heru, keluarga besar BSP ini merupakan aset yang luar biasa. “Bagi kami bukan kesuksesan yang membuat kita bahagia, tapi kebahagiaan yang membuat kita sukses, korelasinya dengan kegiatan gathering yang luar biasa ini,” tegasnya.

Berbagai kegiatan dihadrikan untuk seluruh karyawan, mulai dari musik, game, outbond, citytour, kegiatan religi shalat Jumat bersama, mengunjungi tempat bersejarah Candi Borobudur dan Kaliurang menjadi kesan tersendiri bagi karyawan di daerah yang belum pernah ke Jawa Tengah.

“Napak tilas sejarah, mereka yang belum pernah ke Borobudur menjadi pelajaran berharga, konsepnya tadabur alam, bahwa alam ini luar biasa. Begitu juga saat sejarah gunung merapi. Allah memberikan lukisan alam yang luar biasa,” tuturnya. [FR]

15 Jun 2016

Tanggung Jawab Adalah Kehormatanku

 

Oleh: Heru Wibowo, S.Sos.I. MM

Head of Area Jawa II Jawa Tengah & DIY

Pembinaan satpam merupakan strategi modal yang ampuh dalam mengimplementasikan dan memotivasi security dalam mengemban peran tanggung jawab moral secara komprehensif. Untuk itu, Wilayah Jawa Tengah & DIY membiasakan untuk melakukan motivasi kepada para satpam dua kali dalam sebulan. Begitu juga dalam setiap penempatan project maka kami lakukan pembekalan orientasi project seperti di Semarang Medical Center (RS Telogo Rejo) pada tanggal 21-23 Februari 2016 lalu dalam rangka menguatkan makna tanggung jawab security.

Mengapa sikap tanggung jawab diperlukan dalam suatu organisasi terutama dalam menjalankan tugas security? Simaklah beberapa ungkapan berikut ini, “Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas kepemimpinan itu”. (Al-Hadits, Shahih Bukhari – Muslim).

Begitu juga “Anda tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya pada hari ini”. (Abraham Lincoln). Seorang ilmuwan besar Albert Einstein (1879-1955) mengatakan, “The price of greatness is responsibility” (harga sebuah kebesaran ada di tanggung jawab). Tanggung jawab adalah mutiara hati. Ia adalah salah satu nilai pokok dalam budaya korporat suatu organisasi.

Seperti halnya suatu komitmen, seseorang yang memiliki amanah untuk melakukan pekerjaan tertentu biasanya bersikap hati-hati. Termasuk kalau sedang bekerjasama dengan mitra kerja lainnya. Mengapa demikian? Karena setiap butir kesalahan walau sekecil apapun harus bisa dipertanggung jawabkan. Konteksnya dalam meraih mutu kerja, efektifitas dan efisiensi kerja. Semakin bertanggung jawab dibarengi dengan semakin kuatnya komimen maka semakin berhasil seseorang melaksanakan pekerjaannya sesuai harapan.

Untuk itu, maka pihak manajemen seharusnya mampu mengkondisikan agar setiap karyawan bersikap tanggung jawab. Sistem imbalan atau penghargaan dan hukuman kaitannya dengan tanggung jawab sangat penting diterapkan. Suatu ketika tanggung jawab itu sendiri sudah merupakan bagian dari kebutuhan tiap individu organisasi atau sudah terinternalisasi.

Tenaga security yang andal tidak hanya bermodal badan kekar dan menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah keamanan. Tapi lebih pada kecakapan untuk menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Untuk itu setiap personel security mesti memiliki kemampuan fisik dan mental untuk menjadi tenaga profesional yang tidak saja dapat menjalankan fungsi keamanan (security), melainkan juga mampu melaksanakan fungsi keselamatan (safety) dan pelayanan (service). Untuk menciptakan tenaga keamanan yang profesional dibutuhkan dari sisi manusia yang berkualitas serta sistem dan peralatan yang mendukung. Kesemuanya harus saling terintegrasi.

Ini adalah karakter terpenting yang harus dimiliki manusia, dimana tanggung jawab menjadi karakter primer. Tanggung jawab ini erat kaitannya dengan konsep amanah. Konsep amanah lahir dari pengertian bahwa bumi, hidup, anak, keluarga, pekerjaan dan harta yang kita punyai dan jalani sekarang ini bukanlah sepenuhnya milik kita. Karena itu kita harus bertanggung jawab atas semua yang ada didekat kita. Konsep amanah melahirkan tuntutan moral yang disebut tanggung jawab. Bahwa amanah dan tanggung jawab ini adalah dua sisi mata uang yang sama.

Kala kita mengambil tanggung jawab sebenarnya kita sedang melatih diri kita untuk lebih tangguh dan kuat menghadapi tantangan di masa depan yang tidak pernah kita ketahui. Semakin kita terbiasa bertanggungjawab maka tanggung jawab kita akan menguat. Sehingga nantinya sebesar apapun beban yang diamanahkan kepada kita, kita bisa memberi jawab yang tepat.

Mari kita memperkuat tanggung jawab kita dari hari ke hari, mulai dengan mengambil tanggung jawab dari yang kecil yang ada di depan mata terlebih dulu. Dan lebih dalam mempertahankan kekuatan Service  Quality.

“Bukan kesulitan yang membuat kita takut.. tetapi ketakutanlah yang membuat kita sulit” [FR]

 

15 May 2016

Profesionalisme Satpam di Era Globalisasi

Oleh: Heru Wibowo,S.Sos.I.MM

Head Of Area Jawa II Jawa Tengah & DIY

Setiap Pengamanan (Satpam) di sektor usaha atau bisnis menjadi sebuah keniscayaan. Satpam menjadi ujung tombak perusahaan dalam mengantisipasi gangguan yang merugikan kinerja perusahaan dalam menjalankan bidang usahanya. Kehadiran Polri tidaklah mungkin berada di setiap tempat dalam waktu yang bersamaan karena cukup banyak lingkungan yang belum dapat disentuh secara intensif oleh Polri. Karena itu, peran Satpam sangat urgent.

Satpam atau sekuriti adalah profesi yang masih dianggap rendah dan dilakukan orang-orang yang dianggap ‘low level‘ atau kalangan bawah saja. Satpam, selalu identik dengan ‘penjaga malam’ yang konon bisa dilakukan siapa saja asal berbadan tegap, sangar dan berani. Padahal, tidak semuanya seperti itu.

Setiap Satpam yang berjaga di wilayahnya sesuai dengan karakternya. Misalnya, Satpam di pasar tentu harus seorang yang memiliki kriteria ‘pasar’ dalam arti; keras, berani dan sanggup melakukan berbagai antisipasi kekasaran di pasar. Lain halnya dengan Satpam di perhotelan dan bank, dia lebih dituntut untuk selalu ‘good looking’ dan ramah terhadap costumernya.

Untuk mendukung tugas pokoknya, Satpam juga dilatih dan dibina oleh kepolisian yang dituangkan dalam undang-undang negara dan tertuang dalam Perkap No 24 Th 2007. Sekaligus menjadi perpanjangan tangan kepolisian untuk melaksanakan tugas membantu keamanan di suatu tempat.

Keberhasilan Satpam, tidak saja karena adanya pengawasan yang ketat dan terus menerus atas daerah kerja dan aktifitas para karyawannya, melainkan juga karena didukung pendekatan yang baik dari pengusaha kepada karyawannya sehingga memungkinkan karyawannya bekerja dalam lingkungan yang saling mempercayai dan dengan moral yang tinggi, ini merupakan faktor yang penting bagi efisiensi perkantoran.

Satpam pada masa sekarang dan yang akan datang harus cukup lugas atau cerdas untuk berhubungan dengan orang banyak jika ingin mendapatkan kerjasama dan respek mereka. Selain itu wewenang petugas Satpam, yang berhubungan dengan peraturan dari perorangan atau perkantoran adalah menjamin agar peraturan tersebut dapat ditaati dan kelancaran roda perkantoran berjalan dengan aman dan tertib menuju tujuan berproduksi yang efisien sehingga menghasilkan keuntungan bagi perkantoran.

Sekarang, Satpam di perusahaan perannya telah berkembang menjadi frontliner yang membantu pelayanan perusahaan. Seperti diketahui bahwa fungsi Satpam yang aslinya adalah untuk menjaga keamanan wilayah dalam dan luar perusahaan. Sekarang, Satpam tidak hanya diperlukan untuk melaksanakan pengamanan yang sifatnya fisik, tetapi juga telah berkembang perannya untuk melengkapi wilayah pelayanan perusahaan dengan sikap yang lebih ramah dan banyak senyum dengan Konsep 5 S ( Salam, Senyum, Sapa, Sopan dan Santun).

Satpam selalu menjadi orang pertama yang ditemui pelanggan saat berinteraksi dengan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada pelayanan sempurna, sangat berharap pada penampilan Satpam yang lebih profesional, memilliki bahasa tubuh yang positif, tersenyum, lebih memberikan kesan yang membantu kenyamanan dan keamanan pelanggan. Intinya, Satpam harus tampil dengan sikap dan perilaku yang lebih melayani harapan dan kebutuhan pelanggan, tanpa kehilangan identitas sebagai penjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan kerja.

Jangan pernah menganggap kecil peran Satpam. Siapapun yang tidak melibatkan fungsi Satpam perusahaan untuk peningkatan kualitas pelayanan, maka dia akan gagal untuk memberikan pelayanan sempurna kepada pelanggan. Sebab, Satpam dengan pasti menguasai wilayah garda depan perusahaan, dan siapapun yang ingin terhubung ke wilayah perusahaan atau kantor wajib melewati Satpam. Jadi, bila perusahaan gagal memberikan kesan positif di wilayah garda depan ini atau di wilayah Satpam ini, maka suasana hati yang tidak nyaman akan menjauhkan rasa cinta dan loyalitas pelanggan kepada perusahaan.

Profesionalisme Satpam berarti kompetensi untuk dapat melaksanakan tugas serta fungsinya secara baik dan benar serta komitmen dari perusahaan jasa keamanan, untuk meningkatkan kemampuan dari personilnya. Sekuriti profesional, artinya Satpam tersebut terampil, handal juga sangat bertanggung jawab dalam menjalankan tugas.

Ciri-ciri profesional yang harus dimiliki oleh seorang Satpam, berbeda dari bidang pekerjaan yang lainnya. Ciri-cirinya adalah:  1) Memiliki ilmu kemampuan dasar sebagai satuan pengamanan serta    pengalaman tugas yang cukup. 2) Memiliki kemampuan atau keterampilan dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan keamanan.  3) Disiplin dalam bekerja sesuai peraturan perusahaan. 4) Mampu bekerja dalam tim, selalu berkoordinasi dengan baik. 5) Cepat tanggap terhadap setiap kejadian juga permasalahan yang    timbul dilingkungan kerjanya.

Peranan Satpam di perusahaan sangat penting untuk menjaga kelangsungan dan kestabilan bisnis atau usaha yang dijalankan perusahaan, apabila petugas Satpam sungguh-sungguh melaksanakan peran dan fungsinya maka kelangsungan usaha atau bisnis perusahaan akan lancar tanpa suatu hambatan, tetapi bila peran petugas Satpam tidak mampu berbuat dengan semestinya, maka kelangsungan usaha atau bisnis perusahaan akan terganggu dan akan menimbulkan kerugian baik materiil maupun non materiil pada perusahaan.

Pemahaman Aman itu Mahal dan Lebih Mahal kalau Tidak Aman. Pemahaman inilah yang haris terus  disosialisasikan kepada masyarakat, terlebih kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki dan mengelola asset milliaran rupiah dan bahkan trilliun rupiah, agar jangan semata-mata biaya keamanan itu menjadi suatu biaya, tapi timbulkan pengertian bahwa aman itu harus merupakan bagian dari investasi yang harus dipedulikan.

Adanya petugas satpam yang sudah mendapatkan pembinaan di bidang pendidikan dan pelatihan yang sungguh-sungguh akan dapat menambah etos dan produktivitas kerja yang lebih baik terhadap kinerja petugas Satpam, setiap tindakan yang dilaksanakan akan dilakukannya secara profesional sesuai dengan bidang kerja sebagaimana telah diembannya. Profesionalisme sebenarnya adalah watak yang didasari oleh rasa percaya diri yang tinggi dari pelakunya karena itu profesiona lisme berarti bekerja dengan kompetensi memadai, dengan tenang dan penuh percaya diri.

Petugas Satpam sebagai tenaga keamanan terbatas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya di perusahaan tempat kerjanya mempunyai peran sebagai pembantu fungsi Polri yang memiliki kewenangan pengamanan fisik yang sifatnya terbatas dan non justice sebagai keamanan dalam hal membina, mengarahkan, mencegah, menindak, dan menangkap serta memborgol apabila terjadi tindak pidana pelanggaran dan kejahatan yang tertangkap tangan di lingkungan perusahaan.

Keberadaan Satpam yang dapat diandalkan merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu, berbagai upaya peningkatan kemampuan Satpam perlu dilaksanakan dengan kurikulum pendidikan yang berjenjang dan berkelanjutan. Semoga dengan adanya pendidikan Satpam, kualitas Satpam di negeri ini semakin membaik.[]

 

 

01 May 2016

BSP Wilayah Jawa 2 Spirit ‘Tak Gendong’ Besarkan BSP

KSATRIA (BSP)–“Tak Gendong Kemana-mana…” demikian lirik lagu Mbah Surip yang sempat booming belum lama ini. Lagu berjudul Tak Gendong ini telah memberikan inspirasi bagi team Bravo Satria Perkasa (BSP) Wilayah Jawa 2 untuk menjadikan lirik ini sebagai spirit dalam melayani customer.

Bukan tanpa alasan, memilih Tak Gendong sebagai ikon BSP Wilayah Jawa 2 dalam memberikan layanan kepada customer di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta (DI Yogjakarta) ini. Menurut Head Of Area Jawa 2 Heru Wibowo, SSosI, MM, filosofi Tak Gendong memiliki makna yang dalam, yaitu menempatkan BSP dalam hati sehingga selalu digendong kemana-mana.

Heru menambahkan, Tak Gendong memilki makna berjiwa ngemong, artinya ketika anak menangis sebagai obat penawar utama adalah menggendongnya dengan memberikan pelayanan setulus hati. “Menggendong memilki arti makna kepedulian, respon dan empati sepenuh hati,” jelasnya.

Kepedulian untuk memberikan ayoman kepada seluruh personil BSP di wilayah, telah menjadi komitmen BSP dalam membangun iklim yang kondusif dalam menjaga keamanan dalam wilayah bertugas. Iklim kondusif ini berdampak pada layanan kepada customer sebagai user BSP. Secara tak langsung, hadirnya BSP di wilayah Jawa 2 telah ikut meringankan beban tugas kepolisian dalam menciptakan iklim yang kondusif dalam pengembangan usaha.

Personil Satpam yang tergabung dalam Keluarga Besar BSP Wilayah Jawa 2 menjadi ujung tombak perusahaan dalam menjaga keamanan di wilayah kerja personil BSP. Satpam BSP memiliki tugas pokok antara lain; menjaga asset perusahaan, menjaga personnel perusahaan, nama baik perusahaan serta integritas antar karyawan.

“BSP Wilayah Jawa 2 selalu siap membantu masyarakat yang membutuhkan,  khususnya di dunia keamanan secara profesional sesuai dengan karakter di masing-masing bidang,” paparnya.

Saat ini, BSP Wilayah Jawa 2 telah memiliki personil Satpam mencapai kurang lebih 2.500 personil, yang tersebar di 35 Kota Kabupaten se Jawa tengah & DIY. Sebagian besar Satpam BSP bertugas di 15 area perbankan diantaranya: Bank Permata, Bank BRI, Bank Danamon, Bank UOBIndoneisa, Bank OCBC NISP, Bank Muamalat Indonesia, Bank Internasional Indonesia, Bank Ina Perdana, Bank BPR MAA, Bank Mayapada, Bank NOBU, Bank BPR Grogol Joyo, Bank Mega Syariah Indonesia, Bank CIMB Niaga.

Selain perbankan juga ada 129 titik area yang ada di pabrik, dealer, rumah ibadah, perkantoran, rumah sakit, farmasi, restoran, pertokoan, apotik, leasing, laboratorium, perumahan, koperasi, perhotelan dan lain sebagainya.

Untuk mendukung  operasional di wilayah Jawa 2, BSP menempatkan orang-orang terdidik untuk ikut andil dalam pengembangan perusahaan jasa keamanan ini. Sebagian besar staff memiliki pendidikan dengan kualifikasi 80% lulusan Sarjana (S1), sedangkan 5% dari Strata 2 (S2). Sedangkan dari lulusan SMU mencapai 15%.

Heru menjelaskan, dalam meningkatkan kualitas layanan perusahaan memiliki beberapa kendala: Banyaknya BUJP di Jawa Tengah & DIY dan yang tercatat di Polda Jawa Tengah mencapai 186 perusahaan. “Adanya persaingan perusahaan yang tidak sehat sehingga menggaji Satpam masih di bawah UMK Kota maupun Kabupaten,” terangnya.

Heru yang juga Ketua Asosiasi Profesi Sekuriti Indonesia (APSI) Jawa Tengah ini berharap, khususnya BUJP untuk selalu mengedepankan aspek kemanusiaan tidak hanya berbicara bisnis saja, salary gaji paling tidak sesuai dengan UMK.

Membangun pengamanan di area kerja, tentunya harus melakukan pendekatan yang intensif dengan lingkungannya guna menciptakan iklim kondusif yang aman dan nyaman. Untuk itu, BSP aktif dalam bidang organisasi sosial masyarakat di wilayah Jawa 2.

Ada beragam model pendekatan kepada masyarakat, diantaranya meningkatkan komunikasi dengan masyarakat langsung dalam kegiatan yang dibungkus dalam wadah Bankom Polrestabes atau Satkom Polda Semarang. Kegiatan sosial dalam bidang komunikasi ini sampai menjangkau Kota Semarang, Ungaran, Salatiga, Demak Kendal, Batang dan Kudus.

Bankom Polrestabes Semarang ini didirikan oleh Bapak Kapolwiltabes Semarang yang sekarang menjabat sebagai Kapolri, yaitu Jenderal Polisi Badrodin Haiti. Saat ini, Heru menjabat sebagai Bojong Cobra 2 ( Wakil Ketua Bankom). Di mana anggota Bankom Polrestabes ini terdiri dari PNS, Wiraswasta, Pejabat, Pegawai, Wartawan, dan lain-lain.

Untuk memberikan pelayanan terbaik dalam bidang pengamanan, BSP Wilayah Jawa 2 juga aktif dalam kepengurusan di Asosiasi Profesi Sekuriti Indonesia (APSI) dan Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (ABUJAPI). Di APSI, Area Manager Jawa 2 ini juga menjabat sebagai Ketua APSI Jawa Tengah. Hal ini sebagai bentuk kepedulian BSP dalam mengmbangkan value Satpam menjadi lebih baik lagi.

Sementara beberapa staf BSP juga aktif terlibat menjadi pengurus harian dalam organisasi ABUJAPI Jawa Tengah & DIY, sehingga aspirasi dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran Satpam di mata masyarakat khususnya pengguna jasa kemanan menjadi prioritas BSP.

Kiprah para staf BSP Wilayah Jawa 2 dalam keorganisasian keamanan, telah menjadi bukti bahwa BSP peduli dengan kualitas personilnya. Untuk itu, Heru bersama tim kerjanya selalu memberikan pelayanan yang prima. BSP berusaha merespon lebih cepat apa yang menjadi kebutuhan klien.

Bisnis pengamanan adalah bisnis jasa yang service menjadi prioritas utamanya. Karena itu, kemampuan personil Satpam BSP selalu ditingkatkan untuk memberikan kepuasan klien. Diantara caranya adalah: Melakukan pembinaan service quality secara terus menerus, khusunya personil di area perbankan.

Selain itu, tambah Heru, melakukan kolaborasi pembinaan dari klien tentang product knowledge dalam melayani nasabah, menerapkan dan memahmi simulasi pelayanan,  meningkatkan cara melayani yang baik, dan melakukan rolling personil untuk memberikan penyegaran personilnya dalam bertugas.

Heru berharap, BSP Wilayah Jawa 2 yang ia kelola ini ke depan bisa lebih berkembang dan menjadi market leader di Jawa 2, memiliki teknologi yang lebih canggih dalam rangka meningkatkan value keamanan yang lebih profesional dibarengi situasi lingkungan yang kondusif.

Ke depan, marketing BSP harus menjalankan New Wave Marketing, yaitu marketing yang lebih menekankan customer untuk ikut andil mempromosikan produk BSP secara tidak langsung. Karena itu, BSP lebih peka terhadap bagaimana membrand produk agar dapat membuat customer loyal terhadap produk BSP. Customer menjadi ‘sales’ tak langsung bagi perusahaan dalam memasarkan produk.

Selain itu, harapan ke depan, BSP menjadi jantung peradaban transformasi keamanan yang ideal di negeri ini. Dan terpenting lagi adalah memenuhi kesejahteraan yang komprehensif. “Untuk itulah falsafah yang terkandung dalam lagu tak gendong kemana-mana, sebenarnya menempatkan BSP siap melayani sepenuh hati dalam pengamanan,” tutur Heru. [FR]

 

 

 

Translate »
error: Content is protected !!