Bravo Satria Perkasa
01 May 2019

Mengenal Delapan Pilar Perilaku dalam Perusahaan

Oleh: H. Djarot Soeprianto || Direktur PT. Bravo Satria Perkasa (BSP)

Dalam dunia kerja kita lebih menginginkan adanya sosok yang punya integritas daripada orang pintar. Orang pintar bisa saja terpeleset dalam kejahatan tapi kalau orang berintegritas walaupun belum pintar, ia bisa menjadi pintar karena belajar dan diajarkan. Disinilah kita membuat 8 perilaku di perusahaan untuk menjadi one team, one mission dan one goal.

Delapam perilaku perusahaan seperti ini ibarat 8 penjuru arah mata angin dunia. Di mana 8 perilaku ini satu sama lain saling mengisi dan melengkapi. 8 perilaku itu adalah;

1. Kedisiplinan menjalankan aktivitas kerja berdasarkan ketepatan ukuran-ukuran peraturan perusahaan, ketepatan waktu dan komitmen dalam menjalankan janji yang diucapkan. Kedisiplinan juga mengacu pada tatanan norma budaya, agama, hukum dan sebagainya.

Disiplin diri merupakan suatu siklus kebiasaan yang kita lakukan secara berulang-ulang dan terus menerus secara berkesinambungan sehingga menjadi suatu hal yang biasa kita lakukan. Sehingga disiplin ini menjadi sebuah kebiasaan baik yang bisa mempengaruhi perilaku sehari-hari dan mengarah pada tercapainya keunggulan dalam bekerja.

Praktiknya di perusahaan, jika jam kerja dimulai dari pukul 08.00 – 17.00 kita harus disiplin. Kita juga tunduk kepada peraturan tentang ketenagakerjaaan, BPJS dan undang-undang lainnya. Jika kita tidak disiplin, nanti akan timbul perilaku yang tidak baik. Disiplin dimulai dari individu sendiri. Maka perilaku disini adalah menjalankan kerja berdasarkan ketepatan ukuran-ukuran aturan kerja.

2. Bertanggung jawab yaitu tindakan-tindakan individu yang didasarkan pada niat atau motivasi yang baik dan benar, dijalankan dengan cara-cara yang baik dan benar, serta dengan kesadaran pribadi bersedia menerima konsekuensi atas tindakannya tersebut.

Perasaan tanggung jawab dalam pekerjaan sangat langka. Begitu mudahnya seseorang menuding orang lain bila ada kegagalan dalam pekerjaan atau proyek tertentu; hanya sedikit orang yang mau dengan cepat mengakui kesalahannya. Justru membuat alasan dengan mencari-cari kesalahan orang lain.

Bekerja dengan sikap yang penuh tanggung jawab memang bukan karakter yang muncul dengan mudah, nilai itu harus dilatih setiap saat. Marilah kita bersama sama untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa ingin maju kita terhadap suatu pekerjaan yang sedang dan yang akan kita lakukan sekarang maupun nanti.

3. Cepat tanggap dan berinisiatif. Perilaku cepat adalah penggunaan waktu yang efisien. Tanggap adalah kepedulian untuk memperbaiki hal-hal yang diketahui tidak benar atau kurang etis. Sedangkan berinisiatif adalah kemampuan antisipatif atas situasi atau persoalan yang potensial muncul.

Inisiatif tidak saja dalam perilaku namun juga dalam gagasan yang berujung terjadinya perbaikan kerja. Misalnya seorang danru atau komandan wilayah melihat sesuatu yang terjadi di lapangan yang sebenarnya tidak baik misalnya ada orang membuang sampah sembarangan, bisa juga dia mengingatkan tanpa merasa itu adalah tugas cleaning service.

4. Ahli di bidangnya yaitu kemauan untuk selalu mengembangkan diri sehingga senantiasa selaras dengan tuntutan pekerjaan dan organisasi. Pengembangan diri harus melebihi dari tingkatan mampu, dimana diharapkan yang bersangkutan dapat memperdalam kapasitasnya sehingga menjadi ahli dibidangnya.

Misalnya, ketika kita rekrut anggota sekuriti, kita harus menghargai profesi sekuriti dengan cara mendidiknya, tidak asal ada orang diberi seragam satpam lalu ditugaskan. Kalau semua sudah ahli di bidangnya kita akan dengan mudah membangun tim yang kuat.

5. Mampu bekerajasama. Mampu bekerja sama ini juga menjadi bagian perilaku kita bagaimana seseorang mampu bekerjasama dalam arti terus menerus mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik dan benar, serta meminimalkan kecenderungan untuk mementingkan kepentingan pribadi.

Kerja sama tim  merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perusahaan kedepannya. Kerjasama tim sangat diutamakan, karena jika pegawai-pegawainya tidak mempunyai rasa dedikasi dan kerja sama yang baik tentunya perusahaan tersebut akan menemukan kesulitan dalam mencapai sebuah target.

6. Efektif dalam berkomunikasi, adalah kemampuan untuk mendengarkan pendapat pihak lain, memahaminya dengan benar dan kemudian meresponnya secara tepat. Dalam suatu organisasi atau perusahaan, untuk mencapai tujuan bersama diperlukan kerjasama dari anggota-anggota yang ada di dalamnya. Pentingnya menjalin kerjasama dalam organisasi akan berdampak positif terhadap kinerja yang efektif. Salah satu hal yang mengawali lahirnya kerjasama adalah jalinan komunikasi yang baik. Komunikasi merupakan hal terpenting dalam keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan.

7. Peka dan peduli untuk kebaikan, memiliki ambang batas optimal atas rangsangan lingkungan yang memerlukan reaksi untuk perbaikan dan pengembangan. Peduli adalah sikap yang dimunculkan dalam perilaku dimana seseorang menunjukkan perhatian khusus pada kondisi yang kurang semestinya dan perlu dibenahi untuk perbaikan.

Untuk melatih kepekaan ini salah satu contoh, di gedung ada tulisan Exit. Begitu lampu mati emergencynya tidak menyala. Begitu dicek ternyata tidak dinyalakan. Seharusnya, setiap hari harus dikontrol dalam keadaan normal untuk memastikan ketika terjadi lampu mati atau kejadian lain tidak semakin parah. Ini betul-betul kita perhatikan dan kita sampaikan kepada tim bahwa kita ini perusahaan jasa. Ketika ada kejadian lampu mati, tamu yang ada di sini bisa menyelamatkan diri. Kita tidak bisa berkelit kalau kita tidak tahu. Justru kita harus tahu karena kita perusahaan sekuriti yang menjaga pengamanan.

8. Tidak Menyalahgunakan Jabatan adalah perilaku untuk tidak memanfaatkan fasilitas atau sumber daya perusahaan untuk kepentingan pribadi. Contoh ada 10 orang mengantri di bank, sementara yang ke 11 datang oleh satpam ditaruh pada antrian nomor 2, ini sudah menyalahgunakan jabatan. Kapasitas penyalahgunaan jabatan ini bisa berbeda-beda di tingkatan. Untuk itu masing-masing departemen atau supervisor mengontrol penyalahgunaan jabatan. Kita akan selalu berkoordinasi di semua lini bagian dan bagian lain untuk melihat dan mengontrol ke bawahannya.[]

16 Jan 2017

Jajaran Direksi BSP Hadiri HUT Satpam ke-36 di Monas

KSTARIA, (BSP)–Gelaran apel upacara dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Satuan Pengamanan (Satpam) ke-36 tahun 2016 dilaksanakan di lapangan Monas pada Sabtu 14 Januari 2017. Hadir sebegai inspektur upacara adalah Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Bravo Satria Perkasa (BSP) dalam setiap kesempatan kegiatan kesatpaman yang digelar oleh pihak kepolisian maupun asosiasi selalu berpartisipasi aktif, hal ini sebagai wujud kepedulian BSP terhadap profesi satpam.

Tahun ini, BSP juga mensupport kegiatan upacara HUT Satpam ke-36 di Monas. Logo BSP terpampang jelas di backdrop sebagai latar belakang ribuan satpam berbaris mengikuti acara. Selain itu, BSP juga menerjunkan 100 satpam untuk mengikuti giat upacara yang diselingi guyuran hujan ini.

Sebagai bentuk support terhadap kegiatan akbar ini, Direktur Utama Joko PN Utomo juga nampak hadir dengan seragam biru putih khas satpam. Selain itu, Pak Joko hadir kapasitasnya sebagai pengurus Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (ABUJAPI), tepatnya sebagai Ketua I Bidang Organisasi dan Keanggotan.

Sementara itu, Direktur BSP H Djarot Soeprianto juga nampak hadir dengan mengenakan seragam kebesaran Asosiasi Profesi Sekuriti Indonesia (APSI). Bahkan Pak Djarot ikut serta mendampingi Bapak Satpam Indonesia Bapak Awaloedin Djamin dalam sesi wawancara dengan awak media. Pak Djarot kapasitasnya sebagai Sekjen APSI. [ROJI]

 

15 Jan 2017

Direktur BSP Dampingi Bapak Satpam Indonesia di HUT Satpam ke-36

KSATRIA, (BSP)—Kehadiran Bapak Satpam Indonesia Prof Dr Awaloedin Djamin, MPA di acara upacara HUT Satpam ke-36 di lapangan Monas pada Sabtu, 14 Januari 2017 menjadi penghormatan bagi satpam. Padahal kondisi Pak Awaloedin masih kurang sehat setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit.

Kapolri Tito Karnavian sangat menghormati Bapak Satpam Indonesia, sebagai inisiator lahirnya satpam di Indonesia. Ketika Pak Awaloedin terbaring di rumah sakit beberapa waktu lalu, Tito juga mengunjungi ke rumah sakit, sebagai bukti hormatnya seorang Tito kepada penggagas satpam ini.

Dalam sambutan pidatonya, Kapolri mengatakan bahwa Bapak Satpam Indonesia kondisinya masih belum sepenuhnya pulih dari sakit beberapa waktu lalu. Namun karena semangatnya untuk bisa tetap hadir di acara HUT Satpam ini menjadi penghargaan untuk para satpam.

“Terima kasih kepada Bapak Satpam Indonesia, meski kondisi beliau kurang sehat, tapi tetap hadir di tengah anak-anaknya, semoga kondisi beliau terus membaik dari waktu ke waktu,” doa Kapolri yang diaminkan seluruh peserta yang hadir.

Di akhir pidatonya, Kapolri mengucapkan selamat kepada seluruh satpam dalam HUT Satpam ke-36 tahun 2016. “Selamat ulang tahun, selamat bertugas, mari kita ciptakan kemitraan antara pemerintah, Polri, TNI, Pemda dengan satpam, kita rekatkan barisan kita untuk menjaga NKRI,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama usai acara HUT Satpam, Direktur PT Bravo Satria Perkasa (BSP) H. Djarot Soeprianto ikut mendampingi Pak Awaloedin bersama Ketua Umum APSI, Azis Said dalam sesi tanya jawab dengan para wartawan. Keberadaan Pak Djarot saat itu juga sebagai Sekjen Asosiasi Profesi Sekuriti Indonesia (APSI). [ROJI]

02 Nov 2016

Mengenal Delapan Pilar Perilaku dalam Perusahaan

Oleh: H. Djarot Soeprianto || Direktur PT. Bravo Satria Perkasa (BSP)

Dalam dunia kerja kita lebih menginginkan adanya sosok yang punya integritas daripada orang pintar. Orang pintar bisa saja terpeleset dalam kejahatan tapi kalau orang berintegritas walaupun belum pintar, ia bisa menjadi pintar karena belajar dan diajarkan. Disinilah kita membuat 8 perilaku di perusahaan untuk menjadi one team, one mission dan one goal.

Delapam perilaku perusahaan seperti ini ibarat 8 penjuru arah mata angin dunia. Di mana 8 perilaku ini satu sama lain saling mengisi dan melengkapi. 8 perilaku itu adalah;

1. Kedisiplinan menjalankan aktivitas kerja berdasarkan ketepatan ukuran-ukuran peraturan perusahaan, ketepatan waktu dan komitmen dalam menjalankan janji yang diucapkan. Kedisiplinan juga mengacu pada tatanan norma budaya, agama, hukum dan sebagainya.

Disiplin diri merupakan suatu siklus kebiasaan yang kita lakukan secara berulang-ulang dan terus menerus secara berkesinambungan sehingga menjadi suatu hal yang biasa kita lakukan. Sehingga disiplin ini menjadi sebuah kebiasaan baik yang bisa mempengaruhi perilaku sehari-hari dan mengarah pada tercapainya keunggulan dalam bekerja.

Praktiknya di perusahaan, jika jam kerja dimulai dari pukul 08.00 – 17.00 kita harus disiplin. Kita juga tunduk kepada peraturan tentang ketenagakerjaaan, BPJS dan undang-undang lainnya. Jika kita tidak disiplin, nanti akan timbul perilaku yang tidak baik. Disiplin dimulai dari individu sendiri. Maka perilaku disini adalah menjalankan kerja berdasarkan ketepatan ukuran-ukuran aturan kerja.

2. Bertanggung jawab yaitu tindakan-tindakan individu yang didasarkan pada niat atau motivasi yang baik dan benar, dijalankan dengan cara-cara yang baik dan benar, serta dengan kesadaran pribadi bersedia menerima konsekuensi atas tindakannya tersebut.

Perasaan tanggung jawab dalam pekerjaan sangat langka. Begitu mudahnya seseorang menuding orang lain bila ada kegagalan dalam pekerjaan atau proyek tertentu; hanya sedikit orang yang mau dengan cepat mengakui kesalahannya. Justru membuat alasan dengan mencari-cari kesalahan orang lain.

Bekerja dengan sikap yang penuh tanggung jawab memang bukan karakter yang muncul dengan mudah, nilai itu harus dilatih setiap saat. Marilah kita bersama sama untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa ingin maju kita terhadap suatu pekerjaan yang sedang dan yang akan kita lakukan sekarang maupun nanti.

3. Cepat tanggap dan berinisiatif. Perilaku cepat adalah penggunaan waktu yang efisien. Tanggap adalah kepedulian untuk memperbaiki hal-hal yang diketahui tidak benar atau kurang etis. Sedangkan berinisiatif adalah kemampuan antisipatif atas situasi atau persoalan yang potensial muncul.

Inisiatif tidak saja dalam perilaku namun juga dalam gagasan yang berujung terjadinya perbaikan kerja. Misalnya seorang danru atau komandan wilayah melihat sesuatu yang terjadi di lapangan yang sebenarnya tidak baik misalnya ada orang membuang sampah sembarangan, bisa juga dia mengingatkan tanpa merasa itu adalah tugas cleaning service.

4. Ahli di bidangnya yaitu kemauan untuk selalu mengembangkan diri sehingga senantiasa selaras dengan tuntutan pekerjaan dan organisasi. Pengembangan diri harus melebihi dari tingkatan mampu, dimana diharapkan yang bersangkutan dapat memperdalam kapasitasnya sehingga menjadi ahli dibidangnya.

Misalnya, ketika kita rekrut anggota sekuriti, kita harus menghargai profesi sekuriti dengan cara mendidiknya, tidak asal ada orang diberi seragam satpam lalu ditugaskan. Kalau semua sudah ahli di bidangnya kita akan dengan mudah membangun tim yang kuat.

5. Mampu bekerajasama. Mampu bekerja sama ini juga menjadi bagian perilaku kita bagaimana seseorang mampu bekerjasama dalam arti terus menerus mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik dan benar, serta meminimalkan kecenderungan untuk mementingkan kepentingan pribadi.

Kerja sama tim  merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perusahaan kedepannya. Kerjasama tim sangat diutamakan, karena jika pegawai-pegawainya tidak mempunyai rasa dedikasi dan kerja sama yang baik tentunya perusahaan tersebut akan menemukan kesulitan dalam mencapai sebuah target.

6. Efektif dalam berkomunikasi, adalah kemampuan untuk mendengarkan pendapat pihak lain, memahaminya dengan benar dan kemudian meresponnya secara tepat. Dalam suatu organisasi atau perusahaan, untuk mencapai tujuan bersama diperlukan kerjasama dari anggota-anggota yang ada di dalamnya. Pentingnya menjalin kerjasama dalam organisasi akan berdampak positif terhadap kinerja yang efektif. Salah satu hal yang mengawali lahirnya kerjasama adalah jalinan komunikasi yang baik. Komunikasi merupakan hal terpenting dalam keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan.

7. Peka dan peduli untuk kebaikan, memiliki ambang batas optimal atas rangsangan lingkungan yang memerlukan reaksi untuk perbaikan dan pengembangan. Peduli adalah sikap yang dimunculkan dalam perilaku dimana seseorang menunjukkan perhatian khusus pada kondisi yang kurang semestinya dan perlu dibenahi untuk perbaikan.

Untuk melatih kepekaan ini salah satu contoh, di gedung ada tulisan Exit. Begitu lampu mati emergencynya tidak menyala. Begitu dicek ternyata tidak dinyalakan. Seharusnya, setiap hari harus dikontrol dalam keadaan normal untuk memastikan ketika terjadi lampu mati atau kejadian lain tidak semakin parah. Ini betul-betul kita perhatikan dan kita sampaikan kepada tim bahwa kita ini perusahaan jasa. Ketika ada kejadian lampu mati, tamu yang ada di sini bisa menyelamatkan diri. Kita tidak bisa berkelit kalau kita tidak tahu. Justru kita harus tahu karena kita perusahaan sekuriti yang menjaga pengamanan.

8. Tidak Menyalahgunakan Jabatan adalah perilaku untuk tidak memanfaatkan fasilitas atau sumber daya perusahaan untuk kepentingan pribadi. Contoh ada 10 orang mengantri di bank, sementara yang ke 11 datang oleh satpam ditaruh pada antrian nomor 2, ini sudah menyalahgunakan jabatan. Kapasitas penyalahgunaan jabatan ini bisa berbeda-beda di tingkatan. Untuk itu masing-masing departemen atau supervisor mengontrol penyalahgunaan jabatan. Kita akan selalu berkoordinasi di semua lini bagian dan bagian lain untuk melihat dan mengontrol ke bawahannya.[]

 

 

01 May 2016

Pengamanan Aset Bank

Oleh: H. Djarot Soeprianto
Direktur PT. Bravo Satria Perkasa (BSP)

Kecanggihan teknologi telah merubah cara pandang, cara sikap seseorang terhadap lingkungan sekitarnya. Begitu juga dengan keamanan industri perbankan, berkat kecanggihan teknologi, sistem keamanan kian beragam seiring dengan modus gangguan keamanan. Karena itu, pendekatan keamanan di bidang industri juga terus mengalami pembaharuan.
Dulu, paradigma keamanan bersifat reaktif dan hanya mampu mengamankan materi yang kasat mata. Sehingga yang dibutuhkan adalah bodyguard dengan segenap perangkat kerasnya. Kini, paradigma tersebut mulai berubah, mengingat semakin kompleksnya faktor-faktor penyebab gangguan keamanan, semakin canggih alat dan media yang digunakan, serta semakin beragam modus yang ditampilkan. Pelaku kejahatan mapun pengganggu keamanan semakin lihai melihat celah (lop-hole) untuk melakukan aksinya.
Selain itu, penerapan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dalam tahap penyelidikan dan pemeriksaan terhadap tersangka juga menuntut adanya pendekatan dan cara-cara baru dalam melakukan penyelidikan dan pemeriksaan.
Tata cara pelaksanaan pengamanan aset perusahaan sudah saatnya disempurnakan. Tata cara penyempurnaan tersebut harus dilaksanakan dengan menggunakan metodologi yang mampu menjawab tantangan perubahan secara signifikan.
Konsekuensinya, jajaran petugas pengaman bank harus dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang mampu mengantisipasi munculnya tindak kejahatan di bank, baik yang disebabkan oleh pelaku yang berasal dari internal maupun eksternal bank. Adapun pengetahuan yang dimaksud, diantaranya adalah:
1. Modus-modus kejahatan dan kiat mengantisipasi dan penanganannya, baik secara sosiologis, psikologis, kriminologis, politis, hubungan industrial, lintas budaya dan komunikasi.
2. Memahami fenomena dan tren kejahatan temporer baik yang berasal dari internal maupun eksternal bank.
3. Menguasai teknik dan proses berfikir jajaran pengaman bank kearah teknik dan proses berpikir dan bertindak empati, proaktif, dan konstruktif bagi bank.
Perubahan-perubahan di atas harus diikuti oleh seluruh elemen organisasi, termasuk dalam memandang dan menyikapi peran dan fungsi “Security” maupun “Community development” sebab hal tersebut menjadi salah satu faktor dasar atau aspek vital dalam menjamin kegiatan operasional sehari-hari secara berkesinambungan. Hal ini juga membuktikan bahwa implementasi dari program terkait “harus sinergy” dan “built-in” di dalam strategi manajemen.
Untuk itu, kita menganggap perlu untuk membangun dan memiliki suatu “platform” bidang “Safety, security & community development” yang terintegrasi dan bersinergi dengan arah kebijakan dan strategi yang telah ada.
Sesuai dengan spirit “Operational excellent” di segala bidang, maka platform bidang “Safety, security & community development” memiliki 4 pilar utama, yaitu Strategi, Organisasi, Sumber Daya Manusia dan Jaringan Kerja (networking).
Platform tersebut harus dapat bekerja secara simultan agar dapat diperoleh hasil yang maksimal dengan sasaran akhir yang ingin dicapai oleh manajemen, yakni terwujudnya instalasi bank yang aman, nyaman, bersahabat dan bermanfaat bagi masayarakat (Community friendly company).
1. Strategi
Manajemen menentukan secara formal arah, kebijakan, sasaran, program dan dukungan keuangan/ budget untuk melaksanakannya. Harapan dari kesempurnaan pilar ini adalah terdapatnya kepastian dan ketegasan dari manajemen, bahwa bidang “Safety, security & community development” sudah terintegrasi dalam strategi bisnis yang dikembangkan, dan bukan lagi sekedar “elemen pelengkap” dari operasional sehari-hari.
2. Organisasi
Manajemen menentukan secara formal perangkat dasar organisasi yang terdiri dari PIC/ penanggung jawab safety, security & community development dan bentuk organisasi yang proporsional, agar strategi dan sasaran yang dicanangkan dapat dicapai dan dipertanggung jawabkan. Kejelasan dari pilar ini akan sangat mempengaruhi “sinergi operasional” di lapangan, sehingga diharapkan tidak akan timbul keraguan dalam berkarya dan dalam menegakan peraturan perusahaan.
3. Sumber Daya Manusia
Manejemen menentukan secara formal standar kompetensi, kejelasan status dan pola pengembangan sumber daya manusia, hingga metode apresiasi yang “adil”. Pilar ini sangat menentukan proses pengembangan profil karyawan yang dapat bekerja dengan profesional, sesuai dengan kebutuhan kompetensi yang disyaratkan. Demikian juga apabila SDM berasal dari BUJPP (vendor) tetap harus memenuhi kualifikasi kompetensi, sehingga dapat menunjang visi, misi dan objective bidang safety, security & community development.
4. Jaringan Kerja
Dalam melaksanakan program safety, security & community development, manajemen akan menetukan sistem komunikasi internal dan eksternal, mekanisme kemitraan dengan komunitas perusahaan (Insatansi pemerintah, aparat keamanan, tokoh masayarakat, pemuka agama, LSM, media massa, dan lain-lain) yang mana dapat memberikan nilai tambah dalam mewujudkan sasaran perusahaan.
Pilar ini sangat penting untuk dimiliki dan dikembangkan oleh manajemen karena dengan adanya perubahan peran institusi keamanan serta tumbuh menjamurnya LSM/ yayasan yang bergerak dibidang advokasi HAM membutuhkan suatu “seni” dan strategi yang spesifik untuk menanganinya, sehingga dapat mengeliminir impak “destruktif” yang mungkin timbul.[]

Translate »
error: Content is protected !!