KSATRIA| Jakarta–HUT Korps ke-73 Brimob berlangsung sederhana, di tengah banyaknya bencana yang melanda bangsa Indonesia. Demikian disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat menghadiri peringatan HUT ke-73 Korps Brimob Polri di hanggar Gegana Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (14/11/2018).

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan HUT ke-73 Korps Brimob Polri tahun ini diadakan secara sederhana. “Biasanya kita melaksanakan upacara besar, kemudian dengan demonstrasi ketangkasan terjun payung, demonstrasi penanganan teror, dan lain-lain. Tapi hari ini, tahun ini dilaksanakan dengan suasana lebih sederhana,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Menurut Tito, ide menyederhanakan peringatan HUT ke-73 Korps Brimob Polri tahun ini datang dari Dankor Brimob Irjen Pol. Rudy Sufahriadi. Indonesia dan Polri, kata Tito, masih diselimuti duka akibat sejumlah bencana.

“Ini usulan dari Dankor Brimob. Karena ada suasana duka yang masih di hati kita semua, bagi Polri dan juga bangsa Indonesia. Ada bencana alam di Lombok dan di Sulawesi Tengah yang cukup banyak korban, termasuk juga anggota Polri, belasan anggota Polri yang gugur dalam gempa bumi yang ada di Sulawesi Tengah. Kemudian kita juga masih suasana duka dengan adanya kecelakaan pesawat Lion Air,” ujar Tito.

Tito menegaskan, Korps Brimob harus selalu dekat dengan masyarakat, tetapi tetap menjaga postur paramiliternya.

“Rekan-rekan, semenjak kita tahun 2000 dipisahkan dari ABRI, Polri diarahkan menjadi polisi yang bernuansa sipil, civilian. Polisi yang harus lebih dekat kepada masyarakat. Tapi, karena tantangan tugas dan medan yang berat, gunung, laut, dan lain-lain, maka kita tetap menjaga postur paramiliter,” tutur Tito.

Peringatan HUT ke-73 Korps Brimob Polri tahun ini juga dihadiri Ketua KPK Agus Rahardjo, Anggota Dewan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Try Sutrisno, Mantan Kapolri Jenderal (Purn) Da’i Bachtiar, dan Kepala BNN Komjen Pol. Heru Winarko. [Roj]