KSATRIA, (BSP)–Wajahnya tak asing di kalangan keluarga besar PT. Bravo Satria Perkasa (BSP). Wajah yang menjadi ikon satpam di video profile perusahaan BSP. Dialah pemilik nama satu kata, Suhendy.

Suhendy menekuni dunia sekuriti sejak tahun 1998. Awalnya ia ingin menjadi teknisi, namun melihat peluang bekerja menjadi satpam di di Bank Danamon Kantor Pusat akhirnya ia nekad mendaftar. “Saat itu, sekuriti karena dilihat secara fisik saja, tanpa ada tes lainnya,” katanya kepada Majalah Ksatria.

Dua tahun berjalan, tahun 2000 ia diangkat sebagai satpam tetap Danamon bersama sekitar 300 personil lainya, tahun 2001 ia mengikuti pendidikan satpam program pratama di Lido Bogor selama sebulan.

Setelah mengikuti pendidikan satpam, karir Suhendy mulai terlihat ketika ia dipilih menjadi Danru tahun 2002. Bahkan setahun kemudian, 2003 ia diangkat menjadi sekuriti VIP bersama sepuluh satpam lainnya. Tugasnya, menjaga para direksi bank Danamon.

Suhendy merasakan pengalaman menarik ketika menjadi sekuriti VIP. Saat diundang oleh presiden pada saat itu Megawati Soekarno Putri untuk mengawal pimpinan, ia sempat dikira Paspampres karena turut dalam iring-iringan pengawalan Paspampres saat memberikan pengawalan direktur Bank Danamon.

“Disitu mental dan loyalitas kita diuji karena berinisiatif sebagai paspampres supaya akses pengawasan kepada direktur clear dan tidak masalah dengan Paspampres,” ungkapnya.

Pengalaman menarik lainnya ketika mengawal tamu dari Turki ada enam mobil. Pertama, tutur kata dan bahasa Inggris menjadi prioritas pelayanan sehingga klien puas dengan pelayanannya.

Pengalaman yang tak kalah seru ketika terjadi bom Marriot Mega Kuningan Jakarta. Saat itu salah satu direktur Bank Danamon sedang berada di lantai dua. Begitu terjadi bom, ia langsung meluncur ke hotel. Ketika itu sempat kesulitan memasuki kawasan hotel karena seluruh akses diblokir oleh kepolisian.

Salah satu cara, lanjutnya, bergaya lagaknya kepolisian dengan mengatakan sebagai pengawal khusus direktur Bank Danamon. Suhendy pun mendapat akses masuk ke gedung dan berhasil melindungi direktur Bank Danamon dari ancaman maut.

“Saat itu direktur  kita melihat mayat-mayat bergelempangan lalu meminta anggota sekuriti mengangkut mayat-mayat itu ke dalam mobilnya,” kenang Suhendy.

Setelah empat tahun menjadi pasukan khusus, tiba-tiba Suhendy dipromosikan menjadi Danton tahun 2006. Ia merasakan, meski pangkat naik justru pendapatan turun. Padahal saat itu kebutuhan untuk keluarga semakin besar.

Kepalang basah, Suhendy menyebur sekalian di dunia pengamanan. Menjadi Danton ia gunakan untuk mendalami ilmu sekuriti melalui training. Hingga suatu hari, ia diperbantukan di subdivisi investigasi dibawah Coorporate Safety Management Danamon. Tahun 2008 Suhendy pun diangkat menjadi staf investigasi.  Di Danamon inilah Suhendy ditempa praktik pengamanan di lapangan, bahkan ini belajar menangani investigasi mulai dari proses penyelidikan, penyidikan, dan resume seluruh investigasi.  “Dari situ saya banyak menangani kasus di Danamon dan selalu clear,” terangnya.

Hingga pada suatu hari, Suhendy merasa ingin suasana baru di dunia pengamanan. Hingga kemudian ia memutuskan untuk bekerja di BSP, namun posisinya saat itu masih masa kontrak dengan Danamon. Setelah selesai kontrak, tahun 2010 ia melamar di kantor pusat BSP dan diterima sebagai staf khusus di wilayah Jakarta. Karir ini berlanjut sebagai staf marketing tahun 2011 karena pada saat itu BSP membentuk departemen operasi.

Adanya Suhendy di Departemen Operasional BSP membawa greget berbeda di system operasional BSP di lapangan. Ia banyak mengusulkan kebijakan dan melakukan pembenahan termasuk membuat SOP pelayanan satpam kepada klien. Sehingga Suhendy diangkat menjadi asisten manajemen BSP.

Tak hanya berbagi pengalaman, Suhendy juga mengaku senang dengan support yang diberikan perusahaan BSP kepadanya. Diantaranya pendidikan investigasi, training multimanagement pengamanan dan training tenaga pendidikan satpam.

Suhendy mengingatkan kepada seluruh satpam bahwa bekerja di perusahaan jasa pengamanan harus memahami seluk beluk perusahaan. “Anggota satpam jangan hanya bangga pada tempat dimana bekerja, tapi juga harus bangga dan memiliki kepedulian pada perusahaan jasa pengamanan yang diikutinya,” katanya.

Misalnya, satpam bank A jangan hanya membanggakan diri sebagai karyawan bank A, tapi harus mengenalkan dan bangga dengan BUJP yang membawanya yang menjadi induk perusahaan tempat ia mendapatkan pekerjaan.

Berbagai pengalaman yang ia alami selama ini, menjadikan dirinya kian memiliki kualitas dalam dunia pengamanan. Tak heran jika sekarang, ia didaulat sebagai Asisten Manager Ops/ Section Head of Security Specialist & Devices Alarm System PT. Bravo Satria Perkasa.[ROJI]